Eksistensi Kueku Lukisku Susanto: 14 Tahun Bertahan di Alun-alun Haurgeulis
HaurgeulisMedia.co.id – Pemandangan sore hari di Alun-alun Haurgeulis selalu menyajikan dinamika sosial yang menarik, di mana warga dari berbagai kalangan berkumpul untuk melepas penat. Di antara deretan pedagang kaki lima yang menjajakan dagangannya, terdapat satu sosok yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kawasan tersebut selama lebih dari satu dekade, yakni Pak Susanto dengan gerobak Kue Jaring miliknya.
Kue jaring, yang juga dikenal sebagai kue sarang laba-laba, merupakan jajanan tradisional yang kini dimodifikasi secara kreatif oleh Pak Susanto. Dengan keterampilan yang ia asah selama 14 tahun, ia mampu menyulap adonan tepung menjadi bentuk-bentuk unik yang memikat perhatian anak-anak di sekitar Alun-alun Haurgeulis.
Ketekunan dalam Menjaga Eksistensi Jajanan Tradisional
Perjalanan Pak Susanto dalam menggeluti usaha ini bukanlah waktu yang singkat. Selama 14 tahun, ia konsisten menjajakan kue jaring dengan teknik yang tetap dipertahankan secara manual. Keahliannya dalam mengatur suhu wajan dan menuangkan adonan menjadi kunci utama mengapa kue buatannya memiliki tekstur yang renyah namun tetap lembut di bagian dalam.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah gempuran jajanan modern dan makanan cepat saji, kudapan tradisional yang dikemas dengan sentuhan kreatif tetap memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Pak Susanto tidak hanya menjual rasa, melainkan juga menyajikan sebuah atraksi visual saat ia mulai menggambar pola di atas wajan panas, yang sering kali ditunggu-tunggu oleh para pelanggan ciliknya.
Baca juga: Kebakaran Rumah di Kerangkeng Indramayu, Damkar Berupaya Padamkan Api
Daya Tarik Kreativitas di Balik Gerobak Sederhana
Nama “Kueku Lukisku” yang disematkan Pak Susanto pada usahanya bukanlah tanpa alasan. Ia memiliki kemampuan untuk membentuk adonan menjadi berbagai karakter atau pola yang disukai anak-anak. Kreativitas inilah yang menjadi keunggulan kompetitif bagi usahanya dibandingkan pedagang lainnya.
Secara historis, kue jaring sendiri merupakan variasi dari kue cubit yang dimasak dengan teknik penuangan adonan yang lebih tipis dan melebar ke seluruh permukaan wajan. Inovasi yang dilakukan Pak Susanto dengan memberikan sentuhan “lukisan” pada kue tersebut membuktikan bahwa adaptasi terhadap selera pasar adalah kunci bertahan dalam bisnis kuliner skala mikro.
Pentingnya Kehadiran UMKM bagi Ekonomi Lokal
Keberadaan pedagang kaki lima di area publik seperti Alun-alun Haurgeulis memberikan kontribusi nyata terhadap perputaran ekonomi lokal. Selain menyediakan akses makanan terjangkau bagi masyarakat, interaksi sosial yang terjadi di depan gerobak Pak Susanto juga mempererat hubungan antarwarga di lingkungan tersebut.
Berikut adalah beberapa alasan mengapa usaha seperti milik Pak Susanto tetap diminati oleh masyarakat luas:
Menjaga Tradisi di Masa Depan
Tantangan bagi pelaku usaha tradisional seperti Pak Susanto ke depannya adalah bagaimana tetap menjaga kualitas rasa di tengah kenaikan harga bahan pokok. Penggunaan bahan yang berkualitas dan konsistensi dalam pelayanan menjadi aspek utama yang membuat pelanggan setia kembali untuk membeli.
Bagi warga Haurgeulis, sosok Pak Susanto dan gerobak Kueku Lukis miliknya bukan sekadar tempat membeli makanan. Ia telah menjadi bagian dari identitas sosial Alun-alun Haurgeulis. Selama dedikasi dan kreativitas terus dijaga, jajanan tradisional ini dipastikan akan tetap bertahan dan terus dinikmati oleh generasi-generasi berikutnya.
Keberhasilan Pak Susanto menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kesuksesan tidak selalu harus diukur dari skala usaha yang besar. Ketekunan, inovasi dalam produk, dan kedekatan dengan pelanggan adalah fondasi kuat yang mampu menjaga sebuah bisnis tetap relevan, bahkan setelah belasan tahun berlalu.

























