HaurgeulisMedia.co.id – Pemandangan tidak biasa tersaji di kawasan Istana Dam, Amsterdam, Belanda, pada April 2026. Dua anak asal Indonesia, Alifia Ariana dan Yahya Al Fatih, berdiri dengan penuh percaya diri untuk menyampaikan pidato kenegarawanan di hadapan publik internasional. Momen ini bukan sekadar kunjungan wisata, melainkan sebuah proses pendidikan mendalam yang diinisiasi oleh Sekolah Negarawan.

Dalam kesempatan tersebut, keduanya membacakan naskah berjudul “Kembalikan Kedaulatan kepada Rakyat, Menuju Perubahan Kelima UUD NRI Tahun 1945.” Pemilihan lokasi Istana Dam bukan tanpa alasan; tempat ini dipilih sebagai simbol sejarah yang erat kaitannya dengan proses penyerahan kedaulatan Indonesia dari Belanda di masa lampau. Alifia dan Yahya, yang merupakan putra-putri dari Wakil Direktur Sekolah Negarawan, Adv. Rinto Setiyawan, A.Md., S.H., CTP, membawa pesan yang ditujukan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menanamkan Kesadaran Bernegara Sejak Dini

Pendidikan di Sekolah Negarawan memang memiliki fokus unik, yakni mengenalkan konsep-konsep mendasar mengenai hubungan antara negara, pemerintah, dan konstitusi kepada generasi muda. Melalui pidato yang mereka bawakan, Alifia dan Yahya diajak untuk memahami bahwa kedaulatan rakyat tidak boleh berhenti pada bilik suara di hari pemilihan umum saja. Mereka belajar mempertanyakan secara kritis mengenai desain ketatanegaraan dan bagaimana seharusnya kekuasaan dipertanggungjawabkan.

Naskah pidato tersebut menegaskan bahwa persoalan bangsa Indonesia memerlukan tinjauan yang lebih mendasar, melampaui sekadar pergantian pemimpin atau kebijakan jangka pendek. Di usia yang masih duduk di bangku SD Unggulan Permata Jingga, Malang, Alifia dan Yahya diperkenalkan pada pertanyaan-pertanyaan filosofis: apa itu negara, apa perbedaan antara negara dan pemerintah, serta bagaimana konstitusi harus menempatkan rakyat sebagai pusat kedaulatan.

Generasi Muda sebagai Subjek Peradaban

Salah satu poin penting dalam narasi yang mereka sampaikan adalah posisi anak muda dalam kehidupan berbangsa. Sekolah Negarawan berupaya membentuk pola pikir agar generasi muda tidak sekadar menjadi pewaris keadaan, tetapi menjadi individu yang memiliki kemampuan untuk memahami dan memperbaiki tatanan. Perubahan konstitusi dalam perspektif ini dipandang bukan sekadar masalah hukum, melainkan bagian dari perjuangan peradaban untuk menegakkan keadilan.

Tentu saja, Alifia dan Yahya tidak ditempatkan sebagai pemikul beban negara saat ini. Masa kecil mereka tetap diisi dengan proses belajar, bermain, dan mengasah potensi diri. Sekolah Negarawan memandang masa anak-anak sebagai waktu yang tepat untuk menanam benih-benih pemikiran, keberanian berargumen, dan literasi sejarah agar kelak mereka memiliki fondasi yang kuat sebagai warga negara yang bertanggung jawab.

Dua Karakter, Satu Semangat Kebangsaan

Menarik untuk melihat bagaimana kedua saudara kembar ini mulai menunjukkan bakat dan minat di bidang yang berbeda namun tetap selaras dengan nilai-nilai kebangsaan:

  • Yahya Al Fatih: Lebih banyak terlibat dalam forum kebangsaan dan dialog lintas peradaban. Pada tahun 2026, ia mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara 1 Juara Kelas Indonesia tingkat Regional 6.
  • Alifia Ariana: Menunjukkan minat yang kuat pada dunia literasi dan kreativitas. Pada 30 Oktober 2026, ia memenangkan Juara 1 Lomba Menulis Cerita Fiksi di sekolahnya dengan karya berjudul “Petualangan Seru di Negeri Dongeng,” yang secara kreatif menyisipkan simbol-simbol Pancasila dalam alur ceritanya.

Perjalanan ini membuktikan bahwa pendidikan kenegarawanan dapat disalurkan melalui berbagai jalur, mulai dari panggung pidato internasional hingga lembaran kertas cerita fiksi. Keduanya menunjukkan bahwa kecintaan pada negara bisa diekspresikan dengan cara yang sangat personal dan kreatif.

Tukul Winih-Winihku: Sebuah Harapan Masa Depan

Semangat yang mendasari langkah Alifia dan Yahya selaras dengan ungkapan Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun, “Ayo, tukul winih-winihku” (Tumbuhlah benih-benihku). Ungkapan ini menjadi spirit bagi Sekolah Negarawan untuk mencetak generasi yang lebih matang, jujur, dan bijaksana dalam mengelola kehidupan berbangsa di masa depan.

Pendidikan generasi tidak cukup hanya dengan mengejar nilai akademik semata. Diperlukan keseimbangan antara akhlak, literasi, penguasaan teknologi, dan pemahaman mendalam mengenai masyarakat tempat mereka hidup.

Pengalaman berdiri di Istana Dam, Amsterdam, hanyalah satu bab kecil dalam perjalanan panjang pertumbuhan mereka. Meskipun saat ini Alifia dan Yahya masih anak-anak yang sedang menempuh pendidikan dasar, langkah-langkah yang mereka ambil merupakan bagian dari persiapan untuk mewarisi tanggung jawab mengelola negara di masa depan. Tugas generasi saat ini bukanlah sekadar mewariskan negara, melainkan mempersiapkan generasi berikutnya agar memiliki kecakapan dan kebijaksanaan untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

Dari ruang kelas di Malang hingga ke panggung publik di Amsterdam, perjalanan mereka baru saja dimulai. Seperti benih yang membutuhkan tanah, air, dan waktu untuk tumbuh, Alifia dan Yahya terus berproses untuk menjadi bagian dari masa depan bangsa.