HaurgeulisMedia.co.id — Badan Gizi Nasional (BGN) menyampaikan permohonan maaf mendalam terkait insiden keamanan pangan yang terjadi dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pondok Kelapa 2, Duren Sawit, Jakarta Timur.
Nanik Sudaryati Deyang, Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, mengonfirmasi bahwa pihaknya akan menanggung seluruh biaya pengobatan bagi para siswa yang terdampak. Ia juga menegaskan bahwa operasional dapur yang diduga terlibat dalam insiden tersebut akan segera dihentikan.
“Kami sungguh memohon maaf atas kejadian yang tidak diinginkan ini. BGN berkomitmen penuh untuk menanggung seluruh biaya perawatan medis para siswa di rumah sakit,” ujar Nanik dalam keterangannya di Jakarta pada Sabtu, 4 April 2026.
Baca juga: Masjid Miftahul Huda: Kurban 14 Kambing Idul Adha di Blok Pelabuhan
Sebagai bentuk pertanggungjawaban dan langkah preventif, BGN telah mengambil tindakan tegas dengan menghentikan operasional SPPG yang bersangkutan. Keputusan ini diambil demi memastikan keamanan dan kesehatan para penerima manfaat program.
“SPPG Pondok Kelapa kami hentikan operasionalnya untuk sementara waktu, tanpa batas yang ditentukan. Hal ini dikarenakan kami menemukan bahwa kondisi dapur, termasuk tata letak serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (Ipal), belum memenuhi standar kelayakan yang telah ditetapkan,” jelas Nanik.
Insiden ini pertama kali diketahui pada Jumat, 3 April 2026. Sebelumnya, pada Kamis, 2 April 2026 sore, pihak SPPG telah menerima laporan dari para guru mengenai sejumlah siswa yang mengalami gejala tidak enak badan. Gejala yang dilaporkan meliputi sakit perut, diare, dan mual setelah mengonsumsi makanan yang disediakan.
Menu makanan yang disajikan pada hari kejadian meliputi spaghetti bolognese, bola-bola daging, telur orak-arik dengan tahu, sayuran campur, dan buah stroberi. Total sebanyak 60 siswa dilaporkan terdampak oleh kejadian ini. Beruntung, seluruh siswa yang mengalami gangguan kesehatan tersebut telah mendapatkan penanganan medis yang memadai dan dilaporkan dalam kondisi yang terus membaik.
Analisis awal dari pihak BGN mengindikasikan bahwa dugaan kuat penyebab insiden ini adalah konsumsi makanan yang kualitas kesegarannya menurun. Nanik menjelaskan bahwa jeda waktu yang terlalu panjang antara proses memasak makanan hingga waktu konsumsi berpotensi menurunkan mutu pangan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat menjadi pemicu munculnya gangguan kesehatan pada siswa.
Menyikapi kejadian ini, BGN memberikan jaminan bahwa pengawasan terhadap pelaksanaan Program MBG akan diperketat secara signifikan. Upaya ini dilakukan untuk mencegah terulangnya insiden serupa di masa mendatang dan untuk menjamin sepenuhnya keamanan pangan bagi seluruh peserta program.





