Siapa sih yang nggak suka sama kisah cinta remaja yang estetik? Apalagi kalau yang main adalah aktor dan aktris muda berbakat dengan visual yang menyegarkan mata. Nah, buat kamu para pemburu asupan melodrama, ada film terbaru di Netflix yang baru saja rilis 3 Februari 2026 kemarin berjudul Even If This Love Disappears Tonight.
Jujur saja, film ini langsung masuk radar wajib masuk watchlist karena ini adalah versi remake Korea dari novel dan film Jepang yang sempat viral di tahun 2022. Kalau versi Jepangnya saja sudah sukses bikin jutaan orang nangis di bioskop, gimana dengan versi drakornya? Apakah bakal lebih nyesek atau justru biasa saja? Yuk, kita bedah bareng-bareng!
Adaptasi yang Pas dengan Estetika Korea
Sebelum masuk ke inti cerita, kita perlu kasih jempol buat sutradaranya. Mengadaptasi karya ikonik Jepang ke dalam format Korea itu nggak mudah, lho. Tapi di film ini, transisi narasinya terasa mulus banget. Mereka nggak cuma asal copy-paste, tapi memberikan sentuhan estetika khas drakor yang lebih cerah, hangat, dan tentunya… penuh dengan momen yang bikin kita pengen teriak “kyeopta!”.
Ceritanya tetap setia pada pakem aslinya. Fokus pada hubungan antara Han Seo Yoon (Shin Shia) dan Kim Jae Won (Cho Young Woo). Buat kamu yang belum tahu, film ini membawa tema penyakit amnesia yang cukup unik dan tragis.
Plot yang Rapi Meski Endingnya Terasa “Sat-Set”
Mari kita bicara soal alurnya. Di 60 menit pertama, kita bakal diajak “kencan” bareng Seo Yoon dan Jae Won. Penulis merasa pacing di bagian awal ini tertata sangat rapi. Kita dikasih waktu buat bener-bener kenal siapa itu Han Seo Yoon—cewek ceria yang menderita amnesia anterograde.
Bayangin deh, setiap kali Seo Yoon tidur, otaknya bakal melakukan reset otomatis. Semua memori tentang apa pun yang dia lakukan hari itu bakal hilang begitu saja saat dia terbangun besok pagi. Makanya, dia rajin banget nulis catatan harian di HP biar nggak lupa siapa dirinya dan apa yang sudah dia lalui.
Nah, di sisi lain ada Kim Jae Won, cowok yang hidupnya datar-datar saja dan kurang semangat. Sampai akhirnya sebuah aksi nekat Jae Won yang menyatakan cinta (meski awalnya cuma pura-pura) mengubah segalanya. Momen mereka kencan, tertawa bareng, sampai jalan-jalan ke pantai itu bener-bener bikin senyum-senyum sendiri.
Sayangnya, pas masuk 30 menit terakhir, film ini seolah-olah dikejar deadline. Perubahan suasananya terasa cepat banget, alias “sat-set”. Ada beberapa reveal penting yang muncul mendadak tanpa kasih napas buat penonton buat meresapi emosinya. Agak disayangkan sih, karena konklusinya jadi terasa sedikit terburu-buru.
Visual yang Cerah Tapi Nyimpen Luka
Gak bisa dimungkiri, visual khas film Korea Selatan itu emang juaranya soal bikin suasana romantis. Pengambilan gambarnya cantik banget! Mulai dari adegan jatuh di bus yang klise tapi tetep dapet baper-nya, sampai tone warna film yang cerah dan hangat.
Menariknya, visual yang ceria ini justru jadi bumerang emosional buat penonton. Kenapa? Karena saat kita lagi asyik-asyiknya melihat kemanisan mereka, kita seolah lupa kalau ada “bom waktu” berupa penyakit Seo Yoon. Pas momen gelapnya muncul, rasanya jadi berkali-kali lipat lebih nyesek. Seperti hidup di dunia nyata yang seringkali nggak bisa ditebak, kan?
Chemistry Cho Young Woo dan Shin Shia: Relate Banget!
Kunci dari film romantis itu ada di chemistry, dan dua aktor muda ini berhasil membuktikannya. Shin Shia tampil luar biasa sebagai Seo Yoon yang tampak cheerful di luar tapi punya beban besar di dalam. Dia sukses menyembunyikan kesedihan amnesianya di balik senyum yang lebar.
Terus, ada Cho Young Woo. Karakternya yang awalnya lemas dan nggak punya gairah hidup pelan-pelan mulai “hidup” lagi berkat kehadiran Seo Yoon. Hubungan mereka yang saling mengisi kekurangan satu sama lain itu terasa sangat tulus dan nggak dibuat-buat. Kamu bakal ngerasa kalau mereka ini relate banget sama pasangan muda jaman sekarang yang sedang mencari jati diri.
Tetap Rekomendasi Buat Penggemar Melodrama
Meski ada beberapa kekurangan di bagian akhir yang terasa terburu-buru dan bikin sedikit bingung dengan shift tone-nya, film ini tetap layak banget buat ditonton. Terutama kalau kamu memang pengen “cuci mata” sekaligus “cuci gudang air mata”.
Antara versi Korea dan Jepang, keduanya punya kelebihan masing-masing. Versi Jepang mungkin terasa lebih puitis dan tenang, sementara versi Korea lebih dinamis dan visualnya lebih modern. Tapi satu yang pasti: dua-duanya sama-sama bikin nangis bombay!
Jadi, kesimpulannya? Even If This Love Disappears Tonight adalah film yang manis di awal, tapi getirnya maksimal di akhir. Siapin mental (dan tisu yang banyak) sebelum mulai memutar film ini di Netflix.
Gimana, kamu lebih suka versi Jepang yang original atau versi drakor yang baru ini? Tulis pendapatmu di kolom komentar ya!





