HaurgeulisMedia.co.id – Perayaan Mapag Sri 2026 di Desa Tawangsari, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu, berlangsung meriah dan sarat makna, membuktikan kekayaan tradisi agraris yang masih lestari. Acara yang menjadi simbol rasa syukur atas hasil panen padi ini, dipimpin langsung oleh Kuwu Desa Tawangsari, Eva Rosyani, yang bertekad melestarikan adat istiadat leluhur melalui berbagai kesenian tradisional, salah satunya adalah pertunjukan wayang kulit.
Mapag Sri, sebuah ritual adat yang telah diwariskan turun-temurun, merupakan ungkapan terima kasih masyarakat agraris kepada Sang Pencipta atas berkah limpahan hasil bumi. Di Desa Tawangsari, tradisi ini tidak hanya sekadar seremoni, tetapi juga menjadi ajang penting untuk mempererat tali silaturahmi antarwarga dan menanamkan kecintaan pada budaya lokal sejak dini.
Kuwu Eva Rosyani, dalam pidato pembukaannya, menekankan pentingnya menjaga warisan budaya di era modern. Beliau melihat bahwa pelestarian adat bukan hanya tanggung jawab generasi tua, tetapi juga generasi muda yang harus dikenalkan dan dilibatkan dalam setiap prosesi adat. Melalui Mapag Sri, nilai-nilai luhur seperti gotong royong, rasa syukur, dan kecintaan pada tanah air dapat terus hidup.
Salah satu daya tarik utama perayaan Mapag Sri tahun ini adalah pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Pemilihan wayang kulit sebagai puncak acara bukanlah tanpa alasan. Kesenian tradisional yang kaya akan filosofi dan cerita epik ini dianggap sebagai media yang efektif untuk menyampaikan pesan moral, sejarah, dan kearifan lokal kepada masyarakat luas.
Pertunjukan wayang kulit yang ditampilkan oleh dalang ternama berhasil memukau ribuan penonton yang memadati lapangan desa. Alunan gamelan yang syahdu berpadu dengan suara dalang yang khas menciptakan suasana magis yang membawa penonton hanyut dalam setiap adegan. Cerita yang dibawakan dipilih dengan cermat untuk mengandung nilai-nilai positif yang relevan dengan kehidupan masyarakat agraris, seperti perjuangan, keadilan, dan pentingnya menjaga keseimbangan alam.
Eva Rosyani mengungkapkan kebahagiaannya melihat antusiasme masyarakat, terutama anak-anak muda, yang turut menyaksikan dan menikmati pertunjukan wayang kulit. “Ini adalah bukti bahwa tradisi kita masih memiliki tempat di hati masyarakat. Melalui wayang kulit, kita tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan mengingatkan kita akan akar budaya yang membentuk identitas kita,” ujar Kuwu Eva Rosyani dengan penuh semangat.
Lebih lanjut, beliau menjelaskan bahwa pelestarian adat di Desa Tawangsari tidak berhenti pada perayaan Mapag Sri saja. Berbagai kegiatan lain, seperti pelatihan seni tari tradisional, rebana, dan kerajinan tangan, juga rutin diselenggarakan untuk memastikan keberlangsungan warisan budaya. Desa Tawangsari berupaya menjadi garda terdepan dalam menjaga kelestarian budaya Sunda dan Indramayu.
Konsep Mapag Sri yang diusung oleh Kuwu Eva Rosyani kali ini lebih menekankan pada aspek edukatif dan partisipatif. Selain pertunjukan utama, terdapat pula berbagai stan pameran yang menampilkan produk-produk unggulan desa, mulai dari hasil pertanian, kerajinan tangan, hingga kuliner khas Indramayu. Pengunjung dapat berinteraksi langsung dengan para pengrajin dan petani, belajar tentang proses produksi, serta mencicipi kelezatan hidangan lokal.
Partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh adat, perangkat desa, hingga warga biasa, menjadi kunci keberhasilan acara ini. Semangat kebersamaan dan gotong royong terlihat jelas dalam setiap persiapan hingga pelaksanaan Mapag Sri 2026. Hal ini mencerminkan nilai-nilai luhur yang masih dijunjung tinggi oleh masyarakat Desa Tawangsari.
Kuwu Eva Rosyani berharap, Mapag Sri 2026 dapat menjadi momentum untuk membangkitkan kembali semangat kecintaan terhadap budaya dan tradisi lokal di kalangan generasi muda. Beliau juga berharap agar desa-desa lain dapat menjadikan Desa Tawangsari sebagai inspirasi dalam melestarikan kekayaan budaya bangsa.
Dengan perayaan Mapag Sri yang meriah dan penuh makna ini, Desa Tawangsari membuktikan bahwa tradisi dapat beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan esensinya. Melalui kepemimpinan yang visioner dan partisipasi masyarakat yang solid, akar budaya agraris di Indramayu akan terus tumbuh subur, memberikan inspirasi dan kebanggaan bagi generasi penerus.





