HaurgeulisMedia.co.id – Pelestarian budaya dan kearifan lokal menjadi perhatian serius bagi aparat kewilayahan dalam upaya menjaga identitas bangsa.
Hal ini diwujudkan melalui partisipasi aktif Sertu Suharto, seorang Babinsa dari Koramil 0617/Cileunyi, Kodim 0617/Majalengka.
Sertu Suharto secara konsisten berperan penting dalam mengamankan dan melestarikan dua tradisi adat yang kaya makna, yaitu Mapag Sri dan Sedekah Bumi.
Kegiatan ini dilaksanakan di Desa Cileunyi, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung.
Mapag Sri merupakan upacara adat yang sarat dengan nilai kesyukuran atas panen padi.
Tradisi ini menandai datangnya musim panen yang diharapkan membawa berkah bagi para petani.
Sedangkan Sedekah Bumi adalah perwujudan rasa terima kasih masyarakat kepada Sang Pencipta atas limpahan rezeki dari bumi.
Kedua tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan cerminan hubungan harmonis antara manusia dengan alam serta antar sesama.
Keikutsertaan Sertu Suharto dalam kegiatan ini menunjukkan komitmen TNI, khususnya aparat kewilayahan, dalam mendukung pelestarian budaya lokal.
Peran Babinsa sangat krusial dalam menjembatani antara program pemerintah dengan masyarakat di tingkat akar rumput.
Mereka hadir sebagai garda terdepan dalam menjaga stabilitas sosial dan budaya.
Dalam konteks Mapag Sri, Sertu Suharto turut serta dalam berbagai tahapan persiapan hingga pelaksanaan upacara.
Ia membantu memastikan kelancaran prosesi, mulai dari pengumpulan hasil bumi hingga ritual adat yang dilakukan.
Hal ini mencerminkan kedekatan antara TNI dengan rakyat, di mana aparat tidak hanya bertugas menjaga keamanan, tetapi juga menjadi bagian dari komunitas.
Demikian pula dalam pelaksanaan Sedekah Bumi, kehadiran Sertu Suharto memberikan rasa aman dan dukungan moril kepada masyarakat.
Ia berbaur dengan warga, mendengarkan aspirasi, dan turut serta dalam kegiatan gotong royong yang menjadi esensi dari tradisi ini.
Pelestarian tradisi seperti Mapag Sri dan Sedekah Bumi memiliki dampak positif yang luas.
Secara budaya, tradisi ini menjaga kesinambungan nilai-nilai luhur nenek moyang.
Secara sosial, tradisi ini mempererat tali silaturahmi antarwarga dan menciptakan rasa kebersamaan.
Secara ekonomi, tradisi ini seringkali berkaitan dengan sektor pertanian, yang menjadi tulang punggung kehidupan masyarakat pedesaan.
Melalui partisipasinya, Sertu Suharto berkontribusi dalam menjaga agar tradisi ini tidak punah dimakan zaman.
Ia juga berperan dalam memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang pentingnya melestarikan warisan budaya.
Hal ini penting mengingat arus globalisasi dan modernisasi yang terkadang mengikis nilai-nilai tradisional.
Kearifan lokal yang terkandung dalam Mapag Sri dan Sedekah Bumi mengajarkan tentang pentingnya rasa syukur, gotong royong, dan penghargaan terhadap alam.
Nilai-nilai ini sangat relevan untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan di era modern sekalipun.
Peran aparat kewilayahan seperti Sertu Suharto menjadi contoh nyata bagaimana institusi pertahanan dapat berkontribusi lebih dari sekadar tugas militer.
Mereka menjadi agen perubahan positif di tengah masyarakat, termasuk dalam pelestarian budaya.
Dengan adanya dukungan dan partisipasi aktif dari aparat, tradisi Mapag Sri dan Sedekah Bumi di Desa Cileunyi diharapkan dapat terus lestari.
Hal ini menjadi bukti bahwa semangat “Dari Sawah untuk Negeri” tidak hanya sebatas slogan, tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata.
Melalui kegiatan ini, Sertu Suharto turut berkontribusi dalam memperkuat ketahanan budaya bangsa.
Ia menunjukkan bahwa kearifan lokal adalah aset berharga yang perlu dijaga dan dikembangkan.
Semoga semangat pelestarian budaya ini dapat terus menular ke seluruh lapisan masyarakat dan aparat kewilayahan lainnya.





