HaurgeulisMedia.co.id – Kehadiran Babinsa Koramil 1612/Lelea dalam upacara adat Mapag Sri di Desa Nunuk, Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu, menjadi penegasan akan pentingnya semangat kebersamaan dan upaya pelestarian warisan budaya.
Kegiatan yang sarat makna ini, dihadiri langsung oleh anggota TNI dari Koramil 1612/Lelea, menunjukkan sinergi antara aparat keamanan dengan masyarakat dalam menjaga tradisi.
Mapag Sri merupakan salah satu upacara adat yang masih dilestarikan oleh masyarakat agraris di Indramayu, sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen padi yang melimpah.
Tradisi ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai luhur masyarakat agraris yang erat kaitannya dengan kesuburan tanah dan keberkahan hasil pertanian.
Kehadiran Babinsa dalam acara tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah bentuk dukungan nyata terhadap upaya pelestarian budaya lokal.
Hal ini sejalan dengan peran Babinsa sebagai ujung tombak TNI di tengah masyarakat, yang bertugas tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga membina hubungan baik dan mendukung program-program pembangunan.
Dalam konteks Mapag Sri, kebersamaan yang ditunjukkan oleh Babinsa dan warga Desa Nunuk menjadi simbol kekuatan gotong royong yang menjadi salah satu pilar kehidupan masyarakat Indonesia.
Semangat gotong royong ini sangat krusial dalam menghadapi berbagai tantangan, baik dalam bidang pertanian maupun dalam menjaga keharmonisan sosial.
Upacara Mapag Sri biasanya diawali dengan berbagai rangkaian kegiatan tradisional yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Baca juga di sini: Aksi Nyata Seni Kuliner: Uji Kompetensi Memasak di Kafe Elvano's Nambo
Mulai dari persiapan perlengkapan adat, hingga prosesi arak-arakan hasil panen padi sebagai simbol penghargaan terhadap Dewi Sri, sang pelindung kesuburan.
Babinsa Koramil 1612/Lelea, melalui partisipasinya, turut serta dalam menjaga kelancaran dan kekhidmatan setiap tahapan upacara.
Mereka berbaur dengan masyarakat, memberikan bantuan tenaga, dan memastikan bahwa tradisi ini dapat berjalan sesuai dengan harapan.
Lebih dari sekadar kehadiran fisik, partisipasi Babinsa ini juga menggarisbawahi pentingnya pelestarian budaya sebagai bagian integral dari identitas bangsa.
Budaya adalah warisan berharga yang perlu dijaga keberlangsungannya agar tidak punah ditelan zaman.
Dengan turut serta dalam kegiatan seperti Mapag Sri, Babinsa membantu menumbuhkan kesadaran masyarakat, terutama generasi muda, akan pentingnya menghargai dan melestarikan tradisi leluhur.
Hal ini juga merupakan upaya preventif terhadap lunturnya nilai-nilai budaya akibat arus globalisasi yang semakin deras.
Kepala Desa Nunuk, dalam kesempatan terpisah, mengapresiasi penuh kehadiran dan dukungan dari Koramil 1612/Lelea.
Beliau menekankan bahwa sinergitas antara aparat keamanan dan masyarakat adalah kunci keberhasilan dalam berbagai program pembangunan desa, termasuk dalam pelestarian budaya.
Mapag Sri di Desa Nunuk bukan hanya perayaan panen, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi dan penguatan ikatan sosial antarwarga.
Melalui kegiatan ini, nilai-nilai kebersamaan, rasa syukur, dan kecintaan terhadap tanah air semakin tertanam dalam diri setiap individu.
Babinsa, dengan perannya yang multifaset, turut berkontribusi dalam menciptakan suasana yang kondusif bagi penyelenggaraan kegiatan budaya seperti ini.
Mereka menjadi jembatan yang menghubungkan antara kepentingan pertahanan negara dengan kebutuhan masyarakat dalam menjaga kearifan lokal.
Pelestarian budaya seperti Mapag Sri memiliki dampak positif yang luas.
Selain menjaga warisan leluhur, tradisi ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya yang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat.
Oleh karena itu, dukungan dari berbagai pihak, termasuk aparat keamanan, sangatlah penting untuk memastikan keberlangsungan tradisi ini.
Babinsa Koramil 1612/Lelea, dengan semangat pengabdiannya, menunjukkan bahwa tugas menjaga keutuhan bangsa tidak hanya sebatas urusan pertahanan fisik, tetapi juga mencakup pelestarian nilai-nilai budaya dan penguatan persatuan di tingkat akar rumput.
Partisipasi aktif dalam upacara adat Mapag Sri ini menjadi bukti nyata komitmen mereka dalam membangun kedekatan dengan masyarakat dan berkontribusi pada pelestarian kearifan lokal.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa kebersamaan adalah kekuatan, dan pelestarian budaya adalah investasi masa depan yang tak ternilai harganya.





