HaurgeulisMedia.co.id – Sinergi antara aparat kewilayahan dengan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas serta ketertiban lingkungan di tingkat desa. Langkah nyata ini ditunjukkan oleh Babinsa Koramil 1608/Haurgeulis, Pelda Eryana, yang secara konsisten menjalankan agenda Komunikasi Sosial (Komsos) di Desa Mundakjaya, Kecamatan Cikedung, Kabupaten Indramayu.

Kegiatan Komsos ini bukan sekadar rutinitas administratif bagi seorang Babinsa. Lebih dari itu, interaksi langsung di lapangan merupakan instrumen strategis untuk memetakan dinamika sosial, mendengar aspirasi warga, serta mempererat tali silaturahmi yang telah lama terbangun antara TNI dan masyarakat setempat.

Dalam kunjungannya, Pelda Eryana berupaya menciptakan ruang dialog yang inklusif. Ia mendatangi warga secara persuasif untuk berbincang mengenai kondisi terkini lingkungan mereka. Pendekatan humanis ini dipilih agar masyarakat merasa nyaman dalam menyampaikan keluh kesah maupun masukan terkait situasi keamanan di Desa Mundakjaya.

Pentingnya Komsos dalam Menjaga Kondusivitas Wilayah

Komunikasi Sosial atau Komsos merupakan salah satu metode pembinaan teritorial (Binter) yang menjadi tugas pokok setiap Babinsa di jajaran TNI Angkatan Darat. Melalui Komsos, seorang Babinsa berfungsi sebagai deteksi dini dan pencegahan dini terhadap berbagai potensi masalah yang mungkin muncul di tengah masyarakat.

Dalam konteks di Desa Mundakjaya, Pelda Eryana menekankan bahwa keamanan lingkungan adalah tanggung jawab kolektif. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk senantiasa menjaga kerukunan, toleransi, dan kewaspadaan terhadap perubahan situasi di lingkungan sekitar, terutama menjelang momen-momen yang memerlukan perhatian ekstra terkait ketertiban umum.

Beberapa poin utama yang ditekankan dalam interaksi tersebut antara lain:

Membangun Kepercayaan Melalui Kehadiran Nyata

Baca juga: Serial Netflix Terbaru November: Dampak Budaya Global yang Mengubah Tren

Kehadiran Pelda Eryana di tengah-tengah warga Desa Mundakjaya mencerminkan komitmen TNI untuk selalu hadir di tengah kesulitan rakyat. Dengan terjun langsung ke lapangan, Babinsa dapat memahami karakteristik wilayah dan perilaku masyarakat yang sangat beragam. Hal ini membuat solusi yang ditawarkan nantinya akan lebih tepat sasaran dan relevan dengan kebutuhan warga.

“Silaturahmi ini adalah cara kami untuk memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat. Tanpa dukungan dan kerja sama dari warga, tugas kami dalam menjaga kondusivitas wilayah tentu tidak akan berjalan optimal,” ujar Pelda Eryana dalam sela-sela kegiatannya.

Respons positif pun ditunjukkan oleh warga Desa Mundakjaya. Mereka menyambut baik kehadiran Babinsa yang dinilai sangat terbuka dalam menerima masukan. Bagi warga, sosok Babinsa bukan lagi dianggap sebagai figur yang kaku, melainkan sebagai mitra dialog yang dapat diandalkan untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan sosial kemasyarakatan.

Sinergi Lintas Sektoral di Indramayu

Kegiatan yang dilakukan oleh Pelda Eryana ini juga sejalan dengan arahan pimpinan TNI di wilayah Kodim 0616/Indramayu untuk terus meningkatkan peran aktif Babinsa di desa binaan masing-masing. Di tengah tantangan era informasi saat ini, komunikasi tatap muka secara langsung dinilai masih menjadi metode paling efektif untuk menangkal hoaks atau informasi yang dapat memecah belah persatuan warga.

Komsos adalah jembatan komunikasi yang efektif. Dengan terus menjalin silaturahmi, setiap persoalan yang ada di tingkat bawah dapat diselesaikan dengan musyawarah mufakat, tanpa harus menunggu eskalasi masalah yang lebih besar.

Melalui langkah-langkah persuasif seperti yang dilakukan di Desa Mundakjaya, diharapkan tercipta lingkungan yang aman, nyaman, dan harmonis. Keberhasilan menjaga stabilitas wilayah tentu akan berdampak positif bagi kelancaran aktivitas ekonomi dan sosial masyarakat Indramayu secara keseluruhan.

Hingga saat ini, kegiatan Komsos akan terus diagendakan secara berkelanjutan oleh jajaran Koramil 1608/Haurgeulis. Hal ini membuktikan bahwa dedikasi aparat dalam menjaga keamanan tidak hanya dilakukan melalui tindakan fisik, melainkan melalui pendekatan hati yang menyentuh akar rumput di setiap sudut desa.