Ustadz Abdul Aziz: Jaga Lisan di Era Digital untuk Jalan Surga

Ustadz Abdul Aziz: Jaga Lisan di Era Digital untuk Jalan Surga

HaurgeulisMedia.co.id – Ustadz Abdul Aziz mengingatkan umat Islam akan pentingnya menjaga lisan, terutama di era digital yang serba terhubung ini. Beliau menekankan bahwa perkataan yang keluar dari lisan memiliki kekuatan luar biasa, mampu menjadi jalan menuju surga atau sebaliknya, menyeret seseorang ke dalam neraka.

Dalam pandangan ajaran Islam, lisan bukanlah sekadar organ tubuh untuk berbicara. Ia merupakan sebuah amanah besar dari Allah SWT yang akan dimintai pertanggungjawaban penuh kelak di akhirat. Setiap kata yang terucap, sekecil apapun dampaknya di dunia, akan tercatat dan diperhitungkan.

Bacaan Lainnya

Beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa di era digital seperti sekarang, di mana informasi menyebar dengan sangat cepat melalui berbagai platform media sosial dan aplikasi pesan instan, menjaga lisan menjadi semakin krusial. Kemudahan dalam berkomunikasi justru berpotensi disalahgunakan untuk menyebarkan fitnah, gosip, ujaran kebencian, atau bahkan kebohongan.

Ustadz Abdul Aziz menyoroti fenomena maraknya ujaran negatif yang kerap kali kita jumpai di linimasa digital. Tanpa disadari, banyak dari kita yang ikut serta dalam arus pembicaraan yang tidak membangun, bahkan cenderung merusak. Padahal, konsekuensi dari perbuatan tersebut tidak hanya berdampak pada orang lain, tetapi juga pada diri sendiri di hadapan Sang Pencipta.

Beliau mengutip beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis yang secara tegas memperingatkan tentang bahaya lisan yang tidak terjaga. Salah satunya adalah firman Allah dalam Surah Al-Hujurat ayat 11 yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olokkan) perempuan lain, (karena) boleh jadi perempuan (yang di-olok-olok) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu mencari-cari kecacatan orang dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Apakah seorang di antara kamu suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”

Penjelasan mengenai ayat ini menggarisbawahi bahwa tidak hanya ujaran kebencian secara langsung, tetapi juga pergunjingan atau membicarakan keburukan orang lain di belakang mereka, termasuk dalam bentuk tulisan atau ucapan digital, adalah perbuatan yang sangat dilarang dan dibenci oleh Allah SWT.

Ustadz Abdul Aziz kemudian merinci beberapa jenis ucapan yang berpotensi menjerumuskan seseorang ke dalam dosa dan kemurkaan Allah. Pertama, kebohongan (dusta). Berbohong, sekecil apapun, adalah dosa besar yang dapat merusak kepercayaan dan mendatangkan murka Allah. Dalam era digital, berita palsu atau hoaks menjadi salah satu bentuk kebohongan yang paling merusak.

Kedua, fitnah. Menyebarkan tuduhan palsu atau menjelek-jelekkan orang lain tanpa bukti yang kuat adalah perbuatan keji yang dapat menghancurkan reputasi seseorang dan menimbulkan permusuhan. Di media sosial, fitnah seringkali disajikan dalam bentuk komentar pedas atau postingan yang provokatif.

Ketiga, ghibah (menggunjing). Membicarakan keburukan orang lain, meskipun itu benar adanya, tetaplah termasuk ghibah yang dilarang. Hal ini karena ghibah dapat menimbulkan rasa tidak suka, kebencian, dan memperuncing masalah. Di era digital, ghibah bisa terjadi melalui pesan pribadi, grup chat, atau komentar di postingan orang lain.

Keempat, ujaran kebencian (hate speech). Ini adalah bentuk ucapan yang paling berbahaya dan dapat memicu konflik sosial. Ujaran kebencian bisa ditujukan kepada individu, kelompok, ras, agama, atau pandangan tertentu, dan seringkali dipicu oleh provokasi atau kesalahpahaman.

Kelima, kata-kata kasar dan tidak sopan. Penggunaan bahasa yang vulgar, merendahkan, atau tidak pantas lainnya juga merupakan cerminan lisan yang tidak terjaga. Hal ini tidak hanya merusak citra diri, tetapi juga dapat menyakiti perasaan orang lain.

Menjaga lisan, menurut Ustadz Abdul Aziz, bukan berarti kita harus diam seribu bahasa. Namun, kita perlu menahan diri dari ucapan-ucapan yang membahayakan dan lebih mengutamakan perkataan yang baik, benar, dan bermanfaat. Beliau menyarankan beberapa cara praktis untuk melatih diri agar lisan senantiasa terjaga:

  • Berpikir Sebelum Berbicara (atau Mengetik): Sebelum melontarkan sebuah ucapan atau memposting sesuatu, luangkan waktu sejenak untuk merenungkan dampaknya. Tanyakan pada diri sendiri, apakah ucapan ini baik, benar, dan bermanfaat?
  • Membaca dan Memahami Ajaran Agama: Memperdalam pemahaman tentang pentingnya menjaga lisan dalam Islam akan memberikan motivasi kuat untuk berhati-hati dalam bertutur kata.
  • Memperbanyak Zikir dan Doa: Mengingat Allah dan memohon perlindungan-Nya dari keburukan lisan adalah ikhtiar spiritual yang sangat penting.
  • Mencontoh Rasulullah SAW: Menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam segala aspek kehidupan, termasuk dalam perkataannya yang selalu santun, bijaksana, dan penuh kasih sayang.
  • Menjauhi Lingkungan yang Buruk: Bergaul dengan orang-orang yang senantiasa mengingatkan pada kebaikan dan menjauhi perkataan sia-sia.
  • Menggunakan Media Digital Secara Bijak: Sadari bahwa setiap unggahan atau komentar di media sosial memiliki jejak digital yang permanen. Gunakan platform ini untuk menyebarkan kebaikan, ilmu, dan hal-hal positif lainnya.

Ustadz Abdul Aziz mengakhiri tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa lisan yang terjaga akan menjadi saksi kebaikan di hadapan Allah SWT. Sebaliknya, lisan yang liar dan tidak terkendali dapat menjadi sumber penyesalan yang mendalam. Oleh karena itu, mari kita jadikan era digital ini sebagai momentum untuk memperbaiki diri, mengendalikan lisan, dan menjadikan setiap ucapan kita sebagai bekal terbaik menuju surga-Nya.

Pos terkait