Sedih, Inilah 5 Taman Nasional di Indonesia yang Terancam Rusak Akibat Ulah Manusia

Sedih, Inilah 5 Taman Nasional di Indonesia yang Terancam Rusak Akibat Ulah Manusia
5 Taman Nasional di Indonesia Terancam Rusak Akibat Aktivitas Manusia/Foto: instagram.com/btn_gn_merapi

Indonesia telah lama dikenal di mata dunia sebagai negara megabiodiversity. Kekayaan alam nusantara sering disebut sebagai “jantung” kehidupan planet ini berkat hamparan hutan hujan tropis yang luas serta ragam flora dan fauna langka yang tidak ditemukan di belahan bumi lain. Hutan-hutan kita memegang peranan vital sebagai “paru-paru dunia” yang menyuplai oksigen dan menjaga keseimbangan iklim global.

Akan tetapi, reputasi hijau tersebut kini sedang berada di ujung tanduk. Fakta di lapangan menunjukkan realita yang cukup memilukan. Gelombang deforestasi yang masif, pembukaan lahan secara ilegal, hingga eksploitasi sumber daya alam yang tidak terkontrol membuat kawasan konservasi menjadi korban. Banyak Taman Nasional di Indonesia yang terancam rusak justru akibat aktivitas manusia yang seharusnya menjaganya.

Kondisi ini tidak hanya mengancam hilangnya pepohonan, tetapi juga kepunahan satwa endemik yang menggantungkan hidup pada ekosistem tersebut. Lantas, kawasan konservasi mana saja yang kini dalam kondisi kritis? Berikut adalah ulasan mendalam mengenai 5 Taman Nasional di Indonesia yang terancam rusak parah akibat ulah manusia yang tidak bertanggung jawab.

1. Taman Nasional Tesso Nilo, Riau: Benteng Terakhir yang Kian Rapuh

Taman Nasional Tesso Nilo jadi tempat tinggal gajah dan harimau Sumatera. Polemik terus menerus terjadi atas kawasan ini/Foto: instagram.com/btn_tessonilo
Taman Nasional Tesso Nilo jadi tempat tinggal gajah dan harimau Sumatera. Polemik terus menerus terjadi atas kawasan ini/Foto: instagram.com/btn_tessonilo

Di urutan pertama, sorotan tajam tertuju pada Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang terletak di Provinsi Riau. Kawasan ini dulunya merupakan hamparan hutan hujan tropis dataran rendah yang digadang-gadang sebagai salah satu yang memiliki keanekaragaman hayati terkaya di dunia.

Ancaman Kebun Sawit Ilegal

Sayangnya, polemik di Tesso Nilo seakan tak pernah usai dan justru kian memanas dalam beberapa tahun terakhir. Hutan yang seharusnya menjadi rumah aman bagi Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) dan Harimau Sumatera kini telah berubah drastis.

Perambahan hutan secara masif untuk diubah menjadi perkebunan kelapa sawit ilegal serta permukiman liar telah menyusutkan luas tutupan hutan secara signifikan. Data menunjukkan bahwa hutan alami di kawasan ini diperkirakan hanya tersisa sekitar 15% saja. Ini adalah angka yang sangat mengkhawatirkan bagi sebuah status taman nasional.

Konflik Manusia dan Satwa

Dampak dari kerusakan ini sangat nyata. Ketika Taman Nasional di Indonesia yang terancam rusak seperti Tesso Nilo kehilangan tutupan hutannya, satwa liar kehilangan koridor jelajahnya.

Akibatnya, konflik antara gajah dan manusia meningkat tajam. Gajah yang kehilangan habitat seringkali masuk ke perkebunan warga, yang berujung pada kerugian ekonomi bahkan kematian satwa. Masalah di Tesso Nilo bukan lagi sekadar isu lingkungan semata, melainkan telah berkembang menjadi masalah sosial-ekonomi yang kompleks dan membutuhkan penanganan segera.

2. Taman Nasional Kutai, Kalimantan Timur: Terhimpit Industri Ekstraktif

Taman Nasional Kutai terancam rusak akibat pembakaran hutan dan lahan/ Selain itu, perambahan hutan untuk perkebunan sawit dan tambang jadi ancaman bagi habitat langka/Foto: instagram.com/btn_kutai
Taman Nasional Kutai terancam rusak akibat pembakaran hutan dan lahan/ Selain itu, perambahan hutan untuk perkebunan sawit dan tambang jadi ancaman bagi habitat langka/Foto: instagram.com/btn_kutai

Bergeser ke Pulau Kalimantan, tepatnya di Kalimantan Timur, terdapat Taman Nasional Kutai (TNK). Kawasan ini merupakan habitat penting bagi Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus morio) dan bekantan. Namun, kelestarian TNK terus diuji oleh berbagai ancaman eksternal yang mengepungnya.

Kebakaran Hutan dan Tambang

Taman Nasional Kutai kerap kali menjadi korban dari bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi hampir setiap musim kemarau. Selain faktor alam, aktivitas manusia memperparah keadaan ini.

Praktik illegal logging (pembalakan liar) serta perambahan lahan untuk perkebunan sawit dan pertambangan batu bara di sekitar kawasan penyangga membuat ekosistem TNK semakin tertekan. Ancaman ini menjadikan TNK sebagai salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terancam rusak integritas ekologinya.

Upaya Penegakan Hukum

Meskipun kondisinya kritis, harapan belum sepenuhnya hilang. Pihak balai taman nasional bersama aparat penegak hukum terus berupaya melakukan tindakan tegas. Penangkapan terhadap perambah hutan serta pemberian sanksi hukum terus digalakkan.

Selain itu, program edukasi dan wisata alam seperti Bontang Mangrove Park yang berada dalam kawasan TNK mulai dikembangkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga hutan yang tersisa.

3. Taman Nasional Tanjung Puting, Kalimantan Tengah: Pesona yang Tercemar

Taman Nasional Tanjung Puting dikenal sebagai habitat alami orang utan Kalimantan. Penambangan emas, penebangan liar, dan kebakaran hutan jadi ancaman besar/Foto: instagram.com/btn_tanjungputing
Taman Nasional Tanjung Puting dikenal sebagai habitat alami orang utan Kalimantan. Penambangan emas, penebangan liar, dan kebakaran hutan jadi ancaman besar/Foto: instagram.com/btn_tanjungputing

Siapa yang tidak kenal dengan Taman Nasional Tanjung Puting? Kawasan ini sangat populer di kalangan wisatawan mancanegara sebagai pusat rehabilitasi orangutan terbesar di dunia. Namun, popularitas tersebut tidak menjamin keamanan kawasan ini dari tangan-tangan jahil.

Bahaya Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI)

Ancaman terbesar bagi Tanjung Puting saat ini adalah maraknya aktivitas Penambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di sekitar daerah aliran sungai yang mengalir ke dalam taman nasional. Aktivitas ini tidak hanya merusak struktur tanah, tetapi juga mencemari air sungai.

Penggunaan mesin sedot dan bahan kimia dalam proses penambangan menyebabkan air sungai menjadi keruh dan berpotensi mengandung zat berbahaya. Hal ini tentu mengganggu ekosistem akuatik dan sumber air bagi satwa liar di dalamnya.

Deforestasi yang Masih Menghantui

Selain tambang, pembalakan liar dan kebakaran hutan juga perlahan menggerogoti kawasan ini. Sebagai salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terancam rusak, Tanjung Puting membutuhkan perlindungan ekstra ketat. Berbagai LSM dan pemerintah terus bekerja sama untuk memulihkan fungsi hutan, namun tekanan ekonomi seringkali memicu aktivitas ilegal kembali terjadi.

4. Taman Nasional Gunung Merapi, Yogyakarta: Dieksploitasi Pasirnya

Taman Nasional Gunung Merapi rusak karena penambangan pasir ilegal. Penambangan bisa berdampak pada ekosistem alam dan risiko bencana/Foto: instagram.com/skeletonbernyawa
Taman Nasional Gunung Merapi rusak karena penambangan pasir ilegal. Penambangan bisa berdampak pada ekosistem alam dan risiko bencana/Foto: instagram.com/skeletonbernyawa

Gunung Merapi tidak hanya dikenal sebagai gunung berapi paling aktif, tetapi juga sebagai kawasan taman nasional yang melindungi ekosistem pegunungan Jawa. Namun, ancaman di sini datang dalam bentuk yang berbeda, yaitu penambangan pasir.

Penambangan Pasir Ilegal

Diperkirakan ratusan hektar lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) mengalami kerusakan akibat aktivitas penambangan pasir ilegal. Pasir Merapi memang dikenal memiliki kualitas tinggi untuk bahan bangunan, sehingga memicu banyak pihak untuk mengambilnya secara membabi buta.

Para penambang seringkali menggunakan alat berat yang merusak vegetasi dan struktur tanah. Pohon-pohon ditebang demi memudahkan akses truk pengangkut pasir, meninggalkan lahan gundul yang rawan erosi.

Risiko Bencana Alam

Kerusakan di lereng Merapi sangat berbahaya karena berkaitan langsung dengan mitigasi bencana. Vegetasi di taman nasional berfungsi menahan air dan menstabilkan tanah. Jika kawasan ini rusak, risiko banjir lahar dingin dan longsor akan meningkat drastis, mengancam keselamatan penduduk yang tinggal di lereng gunung. Oleh karena itu, penindakan tegas dan reboisasi menjadi harga mati untuk menyelamatkan kawasan ini.

5. Taman Nasional Halimun Salak, Jawa Barat: “Gurandil” dan Lubang Maut

Taman Nasional Halimun Salak terancam rusak parah. Terdapat 411 lubang penambangan emas dan ribuan pondok kerja di kawasan tersebut/Foto: instagram.com/kemenhut
Taman Nasional Halimun Salak terancam rusak parah. Terdapat 411 lubang penambangan emas dan ribuan pondok kerja di kawasan tersebut/Foto: instagram.com/kemenhut

Terakhir, ada Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) yang membentang di wilayah Sukabumi dan Bogor. Kawasan ini merupakan hutan hujan pegunungan terluas yang masih tersisa di Pulau Jawa. Sayangnya, kekayaan mineral di perut buminya justru menjadi petaka.

Jaringan Tambang Emas Ilegal

TNGHS menghadapi ancaman serius dari para penambang emas liar atau yang sering disebut “gurandil”. Aktivitas ini telah berlangsung lama dan sangat terorganisir. Ditemukan ribuan lubang tambang tikus dan ribuan pondok kerja ilegal di dalam kawasan konservasi.

Penggunaan bahan kimia berbahaya seperti merkuri dan sianida dalam pengolahan emas menjadi bom waktu ekologis. Limbah beracun ini tidak hanya mematikan vegetasi, tetapi juga mencemari sumber air yang mengalir ke permukiman warga di hilir.

Ancaman Bagi Penyangga Ibu Kota

Kerusakan di Halimun Salak berdampak langsung pada wilayah Jabodetabek. Hutan ini berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area) yang vital. Jika fungsi ini hilang akibat banyaknya lubang tambang dan penebangan pohon, maka risiko banjir bandang dan tanah longsor di musim hujan akan semakin besar.

Pemerintah dan pihak berwenang saat ini tengah gencar melakukan operasi penertiban untuk menutup lubang-lubang tambang tersebut demi memulihkan statusnya agar tidak menjadi Taman Nasional di Indonesia yang terancam rusak permanen.

Waktunya Bertindak

Kelima kawasan konservasi di atas hanyalah contoh kecil dari tantangan besar yang dihadapi alam Indonesia. Status sebagai “Taman Nasional” ternyata belum cukup kuat untuk menjadi tameng dari keserakahan manusia. Mulai dari Tesso Nilo hingga Halimun Salak, semuanya menghadapi musuh yang sama: eksploitasi berlebihan.

Menjaga kelestarian Taman Nasional di Indonesia yang terancam rusak adalah tanggung jawab kolektif. Bukan hanya tugas pemerintah atau polisi hutan, tetapi juga masyarakat luas. Kita bisa berkontribusi dengan cara menyebarkan kesadaran, tidak membeli produk yang merusak hutan, dan mendukung ekowisata yang bertanggung jawab.

Jangan sampai keindahan alam dan satwa langka Indonesia hanya tinggal cerita dan foto di buku sejarah untuk anak cucu kita nanti. Mari dukung upaya pelestarian alam sekarang juga!

Related posts