Rumah Roboh di Mekarjati Haurgeulis, 5 KK Butuh Bantuan

Rumah Roboh di Mekarjati Haurgeulis, 5 KK Butuh Bantuan
Rumah Roboh di Mekarjati Haurgeulis, 5 KK Butuh Bantuan

Intensitas hujan yang tinggi disertai angin kencang yang melanda wilayah Kabupaten Indramayu kembali memakan korban materiil. Sebuah insiden memilukan terjadi dengan adanya peristiwa rumah roboh di Mekarjati, Kecamatan Haurgeulis. Kejadian ini tidak hanya meratakan sebuah bangunan tua dengan tanah, tetapi juga memaksa lima kepala keluarga (KK) yang menghuninya menghadapi kenyataan pahit kehilangan tempat bernaung.

Peristiwa nahas ini tepatnya terjadi di Blok Babakan Jati 2, RT 013 RW 004, Desa Mekarjati, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu. Bangunan yang sudah termakan usia tersebut akhirnya menyerah pada derasnya guyuran hujan pada hari Minggu pagi, 18 Januari 2026. Insiden ini menjadi peringatan keras akan pentingnya perhatian terhadap hunian tidak layak huni di tengah cuaca ekstrem yang sedang melanda.

Kronologi Kejadian Rumah Ambruk di Haurgeulis

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari lokasi kejadian, insiden ambruknya rumah tersebut berlangsung sekitar pukul 08.00 WIB. Salah satu tokoh masyarakat setempat, Wasadi Hadi Wijaya, memberikan keterangan rinci mengenai detik-detik sebelum bangunan tersebut runtuh.

Menurut Wasadi, faktor pemicu utama adalah cuaca ekstrem yang terjadi sejak sehari sebelumnya. Wilayah Haurgeulis diguyur hujan deras tanpa henti dari siang hari hingga pagi hari saat kejadian berlangsung. Durasi hujan yang sangat panjang ini, ditambah dengan tiupan angin kencang, membuat struktur bangunan yang memang sudah tua menjadi lapuk dan tidak mampu lagi menahan beban.

“Hal ini diakibatkan turun hujan seharian dari siang hingga pagi disertai angin kencang, sehingga merobohkan bangunan yang sudah rapuh atau tua,” ujar Wasadi di lokasi kejadian.

Kondisi tanah yang labil akibat resapan air hujan yang berlebihan diduga turut mempercepat runtuhnya pondasi rumah. Beruntung, dalam peristiwa dramatis ini, tidak ada korban jiwa yang dilaporkan. Seluruh penghuni rumah yang terdiri dari beberapa keluarga tersebut sempat menyadari tanda-tanda bahaya dan berhasil menyelamatkan diri masing-masing sebelum atap dan dinding rumah mereka benar-benar menyentuh tanah.

Profil Korban dan Kondisi Ekonomi yang Memprihatinkan

Rumah yang kini tinggal puing-puing tersebut berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 56 meter persegi. Ukuran yang terbilang tidak terlalu luas ini, secara mengejutkan, dihuni oleh lima kepala keluarga sekaligus. Kepadatan penghuni dalam satu atap ini menggambarkan betapa mendesaknya kebutuhan akan hunian yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah di wilayah tersebut.

Salah satu pemilik dan penghuni rumah tersebut diketahui bernama Thomas Kurniawan (40), yang saat ini berstatus belum berumah tangga. Rumah tersebut merupakan satu-satunya harta peninggalan orang tua mereka yang telah meninggal dunia saat Thomas dan saudaranya, Imam Purnomo, masih berusia anak-anak. Nilai sentimental bangunan ini sangat tinggi, namun kondisi fisiknya sudah tidak lagi mendukung keamanan penghuninya.

Secara ekonomi, para penghuni rumah roboh di Mekarjati ini tergolong dalam kategori masyarakat prasejahtera. Mata pencaharian sehari-hari mereka sangat tidak menentu. Sebagian besar bekerja sebagai kuli serabutan yang penghasilannya bergantung pada ada atau tidaknya panggilan kerja. Selain itu, ada pula yang berusaha menyambung hidup dengan menjadi penjual abu gosok dan sekam, sebuah pekerjaan dengan margin keuntungan yang sangat minim.

“Dari 5 Kepala Keluarga yang menempati rumah tersebut tergolong masyarakat yang betul-betul tidak mampu dengan ekonomi yang sangat memprihatinkan. Apalagi untuk memperbaiki rumah yang sudah tua, untuk kebutuhan sehari-hari saja betul-betul sangat repot,” ungkap Wasadi dengan nada prihatin, mewakili suara hati para korban.

Ketimpangan Bantuan Sosial dan Harapan Program Rutilahu

Musibah ini membuka fakta lain mengenai distribusi bantuan sosial di wilayah tersebut. Meskipun lima kepala keluarga tinggal berdesakan dalam satu rumah yang kondisinya memprihatinkan, tidak semua dari mereka tersentuh oleh jaring pengaman sosial pemerintah.

Berdasarkan data yang disampaikan oleh pihak keluarga dan tokoh masyarakat, dari lima KK yang ada, hanya dua keluarga yang tercatat mendapatkan Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) atau paket Sembako. Sementara itu, satu keluarga lainnya baru mendapatkan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Kesejahteraan Sosial (Kesra) pada tahun 2025.

Yang paling disayangkan adalah belum adanya intervensi pemerintah terkait kondisi fisik bangunan sebelum kejadian ini terjadi. Bantuan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu), yang seharusnya menjadi solusi bagi bangunan-bangunan tua dan berbahaya seperti milik Thomas Kurniawan ini, belum pernah mereka terima. Padahal, kondisi rumah yang sudah lapuk seharusnya menjadi prioritas utama dalam pendataan program bedah rumah.

“Sementara untuk bantuan yang lainnya terutama Rumah Tidak Layak Huni sampai dengan robohnya bangunan ini, mereka belum pernah menerima,” tambah Wasadi.

Desakan Kepada Pemerintah Desa dan Dinas Sosial Indramayu

Pasca kejadian rumah roboh di Mekarjati ini, harapan besar kini digantungkan kepada pemerintah setempat. Para korban yang kini kehilangan tempat berteduh sangat membutuhkan uluran tangan, baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun solusi jangka panjang terkait hunian mereka.

Wasadi Hadi Wijaya, sebagai representasi suara masyarakat, mendesak Pemerintah Desa Mekarjati untuk segera mengambil langkah konkret. Ia berharap insiden ini membuka mata para pemangku kebijakan desa agar memprioritaskan anggaran desa untuk penanganan darurat dan alokasi program Rutilahu.

“Mudah-mudahan dengan kejadian ini, khususnya Pemerintah Desa Mekarjati, akan memprioritaskan apabila ada anggaran untuk RUTILAHU atau segera menindaklanjuti kejadian ini,” tegasnya.

Tidak hanya di tingkat desa, seruan ini juga ditujukan kepada level pemerintahan yang lebih tinggi, yakni Pemerintah Kecamatan Haurgeulis dan Pemerintah Kabupaten Indramayu. Secara spesifik, Dinas Sosial Kabupaten Indramayu diharapkan dapat segera turun tangan memberikan bantuan logistik dan material sebagaimana yang dibutuhkan oleh para korban bencana. Sinergi antara pemerintah desa, kecamatan, dan kabupaten dinilai krusial untuk mempercepat pemulihan kondisi para korban.

Kesaksian Penghuni: Hujan Lebat Sebagai Petaka

Purnomo, salah satu penghuni rumah yang selamat, membenarkan bahwa faktor cuaca menjadi penyebab utama hancurnya tempat tinggal mereka. Ia menuturkan bagaimana hujan lebat yang mengguyur tanpa henti menciptakan suasana mencekam bagi keluarga di dalam rumah.

Struktur kayu yang sudah tua dan dinding yang rapuh tidak kuasa menahan beban air dan terpaan angin. Saat kejadian berlangsung, prioritas utama mereka hanyalah menyelamatkan nyawa anggota keluarga. Kini, setelah rumah mereka rata dengan tanah, Purnomo hanya bisa berharap adanya perhatian khusus dari pemerintah.

“Semoga musibah yang dialami keluarga kami mendapat perhatian khusus Pemerintahan setempat,” harap Purnomo dengan mata berkaca-kaca.

Pentingnya Mitigasi Bencana di Musim Penghujan

Kasus rumah roboh di Mekarjati ini bukanlah kejadian tunggal yang bisa diabaikan begitu saja. Ini adalah cerminan dari kerentanan infrastruktur hunian masyarakat di tengah ancaman perubahan iklim dan cuaca ekstrem. Bagi masyarakat yang tinggal di bangunan tua atau semi-permanen, musim hujan seringkali menjadi momok yang menakutkan.

Kejadian ini menjadi pelajaran bagi seluruh elemen masyarakat dan pemerintah untuk lebih proaktif dalam mitigasi bencana. Pendataan rumah tidak layak huni harus dilakukan secara lebih akurat dan berkala. Program Rutilahu tidak boleh sekadar menjadi wacana atau program tahunan yang lambat eksekusinya, melainkan harus menjadi aksi nyata yang menyasar mereka yang paling membutuhkan sebelum bencana terjadi.

Selain itu, bagi masyarakat umum, kewaspadaan harus ditingkatkan. Memeriksa kondisi atap, saluran air, dan struktur penyangga rumah secara berkala sebelum puncak musim hujan tiba adalah langkah preventif yang bisa mengurangi risiko keruntuhan bangunan.

Kini, nasib Thomas Kurniawan, Purnomo, dan keluarga lainnya bergantung pada kecepatan respon pemerintah dan solidaritas warga sekitar. Bantuan sekecil apapun akan sangat berarti bagi mereka untuk bangkit kembali menata hidup pasca kehilangan tempat tinggal tercinta. Mari kita nantikan langkah nyata dari Pemerintah Kabupaten Indramayu dalam menangani korban bencana di Haurgeulis ini.

Related posts