Review Anime Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka: Bukan Sekadar Romansa Harem Biasa!

Review Anime Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka: Bukan Sekadar Romansa Harem Biasa!

Pernahkah Anda menonton anime dan merasa, “Wah, karakter utamanya gue banget!”?

Biasanya, perasaan ini muncul saat melihat karakter yang relate dengan kehidupan sehari-hari kita yang mungkin biasa saja. Namun, bagaimana jika karakter yang ingin ditiru oleh banyak penggemar anime (wibu) justru adalah seorang “Riajuu” (orang yang populer dan sukses secara sosial) seperti Chitose Saku?

Dalam artikel ini, kita akan membahas mengapa anime Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka (atau disingkat Chiramune) menjadi topik hangat. Bukan hanya karena visualnya yang manis, tetapi karena lapisan cerita realistis yang bersembunyi di baliknya.

Apa Itu “Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka”?

Sekilas, anime ini mungkin terlihat seperti romance sekolah generik dengan protagonis yang dikelilingi banyak gadis cantik. Namun, Chiramune menawarkan sesuatu yang berbeda. Ceritanya berpusat pada Chitose Saku, seorang siswa populer yang sering dianggap fuckboy oleh mereka yang tidak mengenalnya, namun sebenarnya memiliki kedalaman karakter yang luar biasa.

Anime ini tidak hanya menjual mimpi harem, melainkan menyajikan dinamika sosial sekolah yang lebih “membumi” dan realistis.

Mengapa Anime Ini Layak Tonton?

Berikut adalah beberapa alasan mengapa Chiramune wajib masuk dalam watchlist Anda musim ini:

1. Protagonis yang “High-Spec” tapi Relatable

Berbeda dengan MC (Main Character) anime romansa pada umumnya yang sering digambarkan pecundang atau pasif, Chitose adalah karakter yang proaktif.

  • Keahlian Sosial: Chitose digambarkan memiliki kemampuan komunikasi tingkat dewa. Ia bukan sekadar “baik”, tetapi ia benar-benar mendengarkan, meriset lawan bicaranya, dan tahu cara menempatkan diri.

  • Perfeksionis: Ia memiliki keinginan untuk menjaga lingkungan sekitarnya tetap “sempurna”. Ia tidak ingin orang di sekitarnya terlihat buruk, karena itu akan memantulkan citra buruk pada dirinya juga.

2. Visual dan Musik yang Memanjakan

  • Animasi Opening Juara: Banyak penonton sepakat bahwa sequence pembukanya digarap dengan sangat apik, bahkan dikerjakan oleh animator yang pernah terlibat di proyek besar seperti Jujutsu Kaisen.

  • Desain Karakter & Warna: Penggunaan palet warna pastel yang lembut membuat visualnya sangat nyaman di mata (eye-pleasing), didukung dengan desain karakter perempuan yang beragam dan menarik.

3. Pelajaran Komunikasi (Social Skill)

Menariknya, anime ini bisa dianggap sebagai media belajar social skill. Cara Chitose menghadapi konflik, melakukan konfrontasi dengan elegan, dan membangun hubungan, bisa menjadi referensi nyata. Ia mengajarkan bahwa untuk bisa “nyambung” dengan orang lain, kita perlu menjadi pendengar yang baik dan melakukan riset (bukan sekadar stalking!) tentang lawan bicara kita.

Sisi Lain: Kritik dan Kekhawatiran

Tentu saja, tidak ada karya yang sempurna. Ada beberapa poin yang menjadi perhatian para penonton di episode-episode pertengahan:

  • Konsistensi Animasi: Meskipun episode awal (1-3) tampil memukau, beberapa penonton mulai merasakan penurunan kualitas di episode 4 dan 5. Penggunaan still frame (gambar diam) yang berlebihan dan minimnya pergerakan karakter mulai terlihat.

  • Isu Produksi: Kabar mengenai penundaan (delay) episode 6 memunculkan kekhawatiran bahwa anime ini akan bernasib sama seperti Zom 100, di mana masalah produksi mengganggu momentum cerita.

  • Pemotongan Dialog: Bagi pembaca manga atau light novel-nya, mungkin akan merasa ada beberapa dialog tajam atau momen “counter-attack” verbal dari Chitose yang dipangkas atau kurang nendang di versi animenya.

Chitose-kun wa Ramune Bin no Naka adalah angin segar di genre school romance. Di balik kemasan visualnya yang manis bak permen, tersimpan cerita tentang upaya keras seseorang dalam menavigasi kehidupan sosial remaja yang rumit.

Bagi Anda yang mencari tontonan ringan namun tetap memiliki bobot cerita, atau mungkin ingin belajar satu dua hal tentang cara menjadi lebih populer secara positif, anime ini adalah pilihan yang tepat.

Bagaimana menurut Anda? Siapakah “Best Girl” di anime ini versi Anda? Apakah Yua, Nanase, atau justru Anda setuju kalau Chitose-lah primadona sebenarnya?

Related posts