Rabu, 1 Januari 2026, menjadi tanggal yang monumental sekaligus emosional bagi jutaan penggemar pop culture di seluruh dunia. Serial fenomenal Netflix, Stranger Things, akhirnya resmi menutup tirainya di musim kelima. Sebuah perjalanan panjang di Hawkins yang telah menemani kita selama bertahun-tahun akhirnya usai.
Namun, di tengah riuh rendah pembicaraan tentang ending cerita Eleven dan kawan-kawan, muncul fenomena menarik di media sosial. Banyak penonton mengaku merasa kosong, sedih tak berkesudahan, hingga kehilangan semangat beraktivitas setelah kredit terakhir bergulir. Apakah Anda salah satu yang merasakannya?
Tenang, Anda tidak sendirian dan perasaan itu sepenuhnya valid. Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal dengan istilah Post-Series Depression. Rasa hampa ini bukan tanda bahwa Anda berlebihan atau “lebay”, melainkan respon otak yang sangat alamiah terhadap perpisahan dengan cerita yang bermakna.
Mari kita bedah fenomena ini lebih dalam dari kacamata psikologi. Mengapa tamatnya sebuah serial fiksi bisa memicu rasa kehilangan yang begitu nyata layaknya putus cinta?
Apa Itu Post-Series Depression?

Secara sederhana, Post-Series Depression (PSD) adalah kondisi emosional di mana seseorang merasakan kesedihan mendalam, kehampaan, atau rasa “kosong” setelah menyelesaikan sebuah buku, video game, film panjang, atau serial televisi yang memiliki dampak signifikan bagi dirinya.
Penting untuk dicatat bahwa dalam ranah klinis, ini bukanlah gangguan mental resmi. Para ahli psikologi lebih mengkategorikannya sebagai reaksi emosional situasional.
Mengapa ini bisa terjadi? Otak manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi dan berimajinasi. Ketika Anda menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, bahkan bertahun-tahun “hidup” di dalam dunia Stranger Things, otak Anda beradaptasi dengan realitas tersebut.
Saat cerita berakhir, otak dipaksa untuk kembali ke realitas dunia nyata secara mendadak tanpa stimulasi emosional yang biasa didapatkan dari serial tersebut. Jika keterikatan Anda sangat kuat, fase transisi ini bisa memicu gejala yang mirip dengan mild depression atau depresi ringan sementara.
Hubungan Parasosial: Berteman dengan Karakter Fiksi

Salah satu alasan terkuat mengapa Post-Series Depression terasa begitu menyakitkan adalah adanya Parasocial Relationship atau hubungan parasosial. Ini adalah hubungan satu arah di mana penonton merasa memiliki ikatan emosional yang kuat dengan karakter fiksi.
Coba bayangkan, kita melihat karakter seperti Mike, Will, Lucas, Dustin, dan Eleven tumbuh dari anak-anak hingga dewasa. Tanpa sadar, alam bawah sadar kita menganggap mereka sebagai:
-
Sahabat dekat.
-
Bagian dari keluarga.
-
Sosok tempat kita bercermin.
Kita tertawa saat mereka senang, tegang saat mereka melawan Demogorgon, dan menangis saat mereka terluka. Ikatan emosional ini terekam nyata di otak.
Maka, ketika serial ini tamat, otak meresponsnya hampir sama seperti kehilangan sahabat di dunia nyata. Ada rasa duka (grief) karena menyadari tidak akan ada lagi interaksi baru, tidak ada lagi petualangan bersama, dan tidak ada lagi perkembangan cerita dari “sahabat-sahabat” fiksi tersebut. Kehilangan “kehadiran” mereka menciptakan lubang emosional yang nyata.
Runtuhnya Rutinitas dan Struktur Harian

Manusia adalah makhluk kebiasaan. Bagi banyak orang, menonton serial bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari struktur rutinitas harian. Mungkin Anda terbiasa menonton satu episode sebelum tidur, atau mendedikasikan akhir pekan untuk binge-watching.
Rutinitas ini memberikan rasa aman, kenyamanan, dan sesuatu yang dinanti-nantikan (something to look forward to) di tengah hiruk-pikuk kehidupan nyata yang mungkin melelahkan atau monoton. Serial favorit seringkali menjadi “jangkar” emosional kita.
Ketika Stranger Things berakhir, struktur tersebut runtuh tiba-tiba. Otak yang terbiasa memiliki jadwal “bertemu” Eleven, kini kehilangan pegangan. Dampaknya? Muncul rasa bingung, hampa, dan pertanyaan eksistensial sederhana namun mengganggu: “Sekarang aku harus ngapain?” atau “Apa yang harus aku tunggu lagi setelah ini?”
Penurunan Dopamin dan Efek “Withdrawal”

Mari bicara dari sisi biologis. Fenomena Post-Series Depression sangat berkaitan dengan neurotransmitter di otak kita, terutama dopamin.
Setiap kali Anda menonton episode yang seru, otak melepaskan dopamin hormon yang bertanggung jawab atas rasa senang, kepuasan, dan antisipasi. Stranger Things dirancang dengan cliffhanger, plot twist, dan ketegangan yang memicu lonjakan dopamin secara konsisten. Otak Anda berada dalam siklus “menunggu kepuasan berikutnya”.
Saat serial tamat, sumber dopamin instan itu terputus. Otak mengalami penurunan kadar dopamin secara drastis. Kondisi ini mirip dengan gejala putus zat (withdrawal) ringan. Akibatnya, emosi menjadi datar, motivasi menurun, dan rasa sedih muncul karena hilangnya stimulus yang biasa memberikan kebahagiaan.
Berakhirnya Sebuah Pelarian (Escapism)

Harus diakui, fiksi seringkali menjadi bentuk escapism atau pelarian terbaik dari realitas. Dunia Hawkins, meskipun penuh monster, menawarkan narasi kepahlawanan, persahabatan yang tulus, dan petualangan yang memiliki tujuan jelas. Hal ini seringkali kontras dengan dunia nyata yang penuh ketidakpastian, pekerjaan yang membosankan, atau masalah hidup yang rumit.
Selama menonton, kita “berlibur” ke dunia di mana masalah bisa diselesaikan dengan kekuatan super atau kerjasama tim. Saat cerita berakhir, kita “dipaksa” pulang ke dunia nyata sepenuhnya.
Perbandingan kontras antara dunia fiksi yang seru dan penuh makna dengan realitas yang mungkin terasa “biasa saja” inilah yang memperparah rasa hampa. Kita merindukan intensitas emosi yang ditawarkan oleh dunia fiksi tersebut.
Bagaimana Cara Mengatasinya?
Jika Anda saat ini sedang berjuang melawan Post-Series Depression, ingatlah bahwa ini hanya sementara. Berikut beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk memulihkan kondisi emosional:
-
Validasi Perasaan Anda: Jangan menyangkal rasa sedih itu. Menangislah jika perlu. Mengakui bahwa cerita itu berarti bagi Anda adalah langkah awal penyembuhan.
-
Berinteraksi dengan Komunitas: Bergabunglah dengan forum diskusi atau media sosial penggemar. Berbagi teori dan kesedihan dengan orang yang merasakan hal sama akan sangat melegakan.
-
Cari Hiburan Baru (Rebound): Meskipun sulit menggantikan posisi Stranger Things, mulailah mencari buku atau serial baru dengan genre berbeda untuk memberikan stimulus baru pada otak.
-
Istirahat Digital: Berikan waktu bagi otak untuk “reset”. Kurangi screen time dan lakukan aktivitas fisik seperti olahraga atau jalan-jalan untuk meningkatkan dopamin secara alami.
Kehampaan setelah menamatkan serial legendaris memang tidak menyenangkan, tapi itu adalah bukti bahwa karya seni tersebut berhasil menyentuh hati Anda sedemikian dalamnya. Berikan waktu, dan perlahan semangat Anda akan kembali.





