HaurgeulisMedia.co.id – Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Barat, Almer Faiq Rusydi, melontarkan peringatan tegas kepada para pengusaha di Kabupaten Indramayu. Ia menekankan perlunya para pelaku usaha untuk segera melepaskan diri dari ketergantungan terhadap proyek-proyek yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pernyataan ini disampaikan Almer Faiq usai acara pengukuhan kepengurusan Kadin Kabupaten Indramayu.
Dalam pidatonya, Almer Faiq menggambarkan situasi yang dihadapi para pengusaha Indramayu sebagai sebuah persimpangan jalan yang krusial. Ia tidak ragu menggunakan analogi yang kuat, yaitu “berinovasi atau mati,” untuk menggambarkan urgensi perubahan pola pikir dan strategi bisnis.
Menurut Almer Faiq, selama ini banyak pengusaha yang terlalu nyaman dan bergantung pada aliran dana dari APBD. Ketergantungan ini, meskipun memberikan kepastian pendapatan dalam jangka pendek, justru berpotensi menghambat pertumbuhan jangka panjang dan kemampuan adaptasi di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah.
“Kita tidak bisa terus-menerus berada dalam zona nyaman. Ketergantungan pada proyek APBD hanya akan membuat kita stagnan. Jika kita tidak mau berinovasi, tidak mau mencari peluang baru di luar skema tersebut, maka kita akan tertinggal,” tegas Almer Faiq.
Ia menambahkan bahwa tren global dan nasional menunjukkan pergeseran ekonomi yang pesat. Inovasi, digitalisasi, dan diversifikasi usaha menjadi kunci utama bagi kelangsungan dan kesuksesan bisnis di masa depan. Pengusaha yang hanya mengandalkan satu sumber pendapatan, terutama yang bersifat proyek pemerintah, akan sangat rentan terhadap perubahan kebijakan, pergeseran prioritas anggaran, atau bahkan perlambatan ekonomi.
Almer Faiq Rusydi, yang memimpin Kadin Jawa Barat, memiliki visi untuk mendorong kemandirian dan daya saing pelaku usaha di seluruh wilayahnya. Baginya, Kadin memiliki peran strategis untuk memfasilitasi, membimbing, dan membuka akses bagi para anggotanya untuk menjelajahi pasar yang lebih luas dan mengembangkan model bisnis yang lebih tangguh.
Ia menyoroti bahwa Kabupaten Indramayu, dengan potensi sumber daya alam dan tenaga kerja yang dimilikinya, seharusnya tidak hanya menjadi pemain dalam proyek-proyek pemerintah. Ada peluang besar di sektor swasta, industri kreatif, pariwisata, dan sektor-sektor lain yang belum tergarap secara optimal.
Oleh karena itu, Kadin Jawa Barat bertekad untuk memberikan dukungan penuh kepada Kadin Indramayu yang baru saja dikukuhkan. Dukungan ini diharapkan dapat berupa pelatihan, pendampingan dalam mencari pembiayaan alternatif, fasilitasi jejaring bisnis, serta advokasi kebijakan yang lebih kondusif bagi iklim usaha yang sehat dan kompetitif.
Ketua Kadin Indramayu yang baru saja dilantik, dalam kesempatan yang sama, menyatakan komitmennya untuk menjalankan amanah organisasi. Ia menyambut baik arahan dan masukan dari Ketua Kadin Jawa Barat, serta berjanji akan segera merumuskan program-program kerja yang fokus pada peningkatan kapasitas dan kemandirian anggota Kadin Indramayu.
“Kami menyadari tantangan yang ada. Namun, dengan semangat kolaborasi dan dukungan dari Kadin Jabar, kami optimis bisa membawa perubahan positif bagi dunia usaha di Indramayu. Kami akan fokus pada program-program yang mendorong inovasi dan diversifikasi usaha agar anggota kami tidak lagi hanya terpaku pada proyek APBD,” ujar Ketua Kadin Indramayu yang baru.
Almer Faiq juga menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah, pelaku usaha, dan akademisi. Sinergi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem bisnis yang kuat, di mana inovasi dapat tumbuh subur dan menciptakan lapangan kerja yang berkualitas.
Ia berpesan agar kepengurusan Kadin Indramayu yang baru tidak hanya menjadi wadah aspirasi, tetapi juga menjadi motor penggerak perubahan. Kadin harus mampu mengidentifikasi potensi-potensi baru, memetakan tantangan, dan menawarkan solusi konkret kepada para anggotanya.
Lebih lanjut, Almer Faiq mengingatkan bahwa ketergantungan pada APBD juga dapat menciptakan persaingan yang tidak sehat di antara para pengusaha lokal, di mana fokus utama adalah bagaimana memenangkan tender proyek, bukan bagaimana meningkatkan kualitas produk atau layanan.
“Persaingan yang sehat akan lahir ketika kita bersaing di pasar yang sesungguhnya, di mana kualitas, inovasi, dan pelayanan menjadi penentu utama. APBD memang penting untuk pembangunan, namun APBD bukanlah satu-satunya sumber kehidupan bagi dunia usaha,” tandasnya.
Transformasi yang didorong oleh Almer Faiq ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah panggilan untuk evolusi bisnis. Para pengusaha di Indramayu didorong untuk melihat diri mereka sebagai agen perubahan ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah, bukan hanya sebagai pelaksana proyek.
Dengan pengukuhan kepengurusan Kadin Indramayu yang baru, diharapkan momentum ini dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk merancang strategi baru, membangun kapasitas, dan membuka cakrawala bisnis yang lebih luas. Peringatan “berinovasi atau mati” dari Ketua Kadin Jawa Barat ini menjadi pengingat penting bahwa masa depan bisnis yang berkelanjutan terletak pada kemampuan untuk beradaptasi, berkreasi, dan terus tumbuh di luar bayang-bayang ketergantungan.





