Harapan masyarakat di wilayah barat Kabupaten Indramayu untuk memiliki daerah otonom sendiri kini semakin mendekati kenyataan fisik. Tugu Nol Kilometer Indramayu Barat yang digadang-gadang sebagai titik pusat pemerintahan masa depan, akhirnya resmi rampung pembangunannya. Berdiri tegak di tengah hamparan lanskap pedesaan, monumen ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan simbol kesiapan dan tekad kuat untuk mewujudkan Calon Daerah Otonomi Baru (CDOB) Kabupaten Indramayu Barat (Inbar).
Selesainya pembangunan tugu ini pada pertengahan Desember 2025 menjadi tonggak sejarah baru. Setelah proses panjang dan penantian masyarakat, kehadiran tugu ini seolah menjadi jawaban visual bahwa pemekaran wilayah bukan lagi sekadar wacana, melainkan rencana matang yang tinggal menunggu “ketuk palu” dari pemerintah pusat.
Bagi Anda yang penasaran mengenai lokasi persis, filosofi desain, hingga makna strategis di balik pembangunan ikon baru ini, berikut adalah ulasan mendalam mengenai titik nol yang akan menjadi jantung wilayah Indramayu Barat.
Lokasi Strategis di Kecamatan Kroya

Penentuan lokasi sebuah titik nol kilometer tidak dilakukan secara sembarangan. Berdasarkan kajian topografi yang mendalam mengenai perencanaan tata kota calon ibu kota Kabupaten Indramayu Barat, pilihan jatuh pada wilayah Kecamatan Kroya.
Secara spesifik, Tugu Nol Kilometer Indramayu Barat ini dibangun di area persawahan Blok Harendong, Desa Sukaslamet, Kecamatan Kroya. Lokasi ini berada di wilayah selatan Indramayu yang dinilai strategis sebagai pusat pemerintahan baru. Pemilihan area persawahan yang luas ini mengindikasikan adanya rencana pengembangan tata ruang jangka panjang yang terbuka, di mana pusat pemerintahan tidak akan menumpuk di area yang sudah padat, melainkan membuka sentra ekonomi dan administrasi baru.
Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Indramayu Barat (FKMIB), Sukamto, menyatakan rasa syukurnya atas penyelesaian proyek ini pada Rabu, 17 Desember 2025. Menurutnya, berdirinya tugu ini di Harendong menegaskan bahwa secara geografis dan topografi, Kroya siap menjadi beranda depan bagi kabupaten baru tersebut.
Filosofi Desain dan Simbol Cakra Udaksana
Meskipun ukurannya tidak setinggi menara pencakar langit, desain tugu ini sarat akan makna filosofis dan budaya lokal. Dibangun di atas lahan seluas 5 x 5 meter dengan posisi persis di tengah undakan (koak kecil), tugu ini memiliki tinggi sekitar 2 meter. Warna cat putih yang mendominasi bangunan memberikan kesan suci, bersih, dan awal yang baru sebuah representasi yang pas untuk kelahiran sebuah kabupaten.
Namun, daya tarik utama tugu ini terletak pada ornamen yang menghiasinya. Di setiap sisi tugu, tertulis jelas “0 KM” dan “Indramayu Barat”, yang menjadi penegas identitas wilayah.
Perpaduan Kujang dan Senjata Wiralodra
Keunikan Tugu Nol Kilometer Indramayu Barat semakin terasa dengan adanya hiasan empat kujang di setiap sisinya. Kujang, sebagai senjata tradisional khas Jawa Barat, melambangkan jati diri masyarakat Sunda dan keberanian dalam melindungi tanah air.
Lebih istimewa lagi, puncak tugu ini dimahkotai oleh Cakra Udaksana. Bagi masyarakat Indramayu, lambang ini memiliki nilai historis yang sangat tinggi. Cakra Udaksana dikenal sebagai senjata pusaka berbentuk lingkaran seperti roda tajam bersegi sembilan yang dipercaya milik Raden Arya Wiralodra, pendiri Kabupaten Indramayu.
Kehadiran Cakra Udaksana di pucuk tugu ini menyiratkan pesan mendalam: meskipun Indramayu Barat akan berpisah secara administratif, akar sejarah dan ikatan persaudaraan dengan kabupaten induk tidak akan pernah putus. Semangat Wiralodra tetap menjadi nafas bagi pembangunan di wilayah barat ini.
Sinyal Kuat Dukungan Kabupaten Induk

Pembangunan tugu ini tidak berdiri sendiri, melainkan hasil sinergi dan dukungan penuh dari berbagai pihak, termasuk kabupaten induk. Sukamto menegaskan bahwa rampungnya tugu ini adalah bukti nyata bahwa Kabupaten Indramayu memberikan “lampu hijau” dan dukungan penuh terhadap pemekaran Inbar.
Proses pembangunan yang tergolong cepat, dimulai sejak November 2025 dan selesai pada pertengahan Desember 2025, menunjukkan efisiensi dan keseriusan para pemangku kepentingan. Tidak ada hambatan berarti dalam proses konstruksi, yang menandakan bahwa resistensi terhadap isu pemekaran kini telah berubah menjadi kolaborasi konstruktif.
Dukungan infrastruktur awal seperti penanda titik nol ini sangat krusial. Dalam dunia administrasi pemerintahan, kejelasan mengenai titik koordinat pusat pemerintahan adalah syarat mutlak dalam penyusunan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) sebuah daerah otonom baru.
Menanti Pencabutan Moratorium Pemekaran
Meskipun Tugu Nol Kilometer Indramayu Barat telah berdiri gagah, langkah menuju peresmian kabupaten masih harus melewati satu gerbang besar: kebijakan pemerintah pusat. Saat ini, masyarakat dan tokoh Inbar tengah menanti dicabutnya moratorium pemekaran daerah.
“Ini menjadi pertanda kabupaten induk mendukung. Kini tinggal menunggu Kebijakan Pemerintah Pusat mencabut Moratorium, bismillah,” ujar Sukamto penuh harap.
Moratorium memang menjadi tantangan tersendiri bagi ratusan usulan CDOB di seluruh Indonesia. Namun, dengan adanya kesiapan fisik seperti penetapan lokasi ibu kota dan pembangunan tugu titik nol, posisi tawar Indramayu Barat dinilai semakin kuat. Hal ini menunjukkan bahwa Inbar bukan sekadar menuntut pemisahan, tetapi telah mempersiapkan diri secara matang untuk mengelola pemerintahan sendiri.
Harapan Baru Masyarakat Inbar
Berdirinya tugu ini membangkitkan euforia dan optimisme di kalangan masyarakat wilayah barat Indramayu (seperti Kroya, Haurgeulis, Gantar, dan sekitarnya). Pemekaran wilayah diharapkan dapat memangkas rentang kendali pelayanan publik yang selama ini dirasa terlalu jauh ke pusat kota Indramayu.
Dengan adanya pusat pemerintahan di Kroya, akses layanan administrasi, kesehatan, dan pendidikan diharapkan menjadi lebih merata. Selain itu, potensi ekonomi di sektor pertanian mengingat lokasi tugu yang berada di hamparan sawah produktif diharapkan dapat dikelola lebih maksimal dengan kebijakan yang lebih terfokus.
Kehadiran Tugu Nol Kilometer Indramayu Barat kini menjadi destinasi baru bagi warga lokal yang ingin melihat langsung simbol masa depan daerah mereka. Di tengah sawah Blok Harendong yang hijau, tugu putih bermahkotakan Cakra Udaksana itu berdiri sebagai saksi bisu perjuangan dan doa masyarakat untuk masa depan yang lebih mandiri dan sejahtera.
Kini, bola ada di tangan pemerintah pusat. Masyarakat Inbar telah menunjukkan kesiapannya, mulai dari dokumen administrasi hingga simbol fisik di lapangan. Semoga moratorium segera dibuka, dan cita-cita luhur pembentukan Kabupaten Indramayu Barat dapat segera terwujud.





