Dunia kompetitif gaming tidak pernah sepi dari perdebatan sengit mengenai siapa sosok terhebat sepanjang masa. Dalam satu dekade terakhir, satu nama terus mendominasi percakapan tersebut: Lee “Faker” Sang-hyeok. Bagi sebagian besar komunitas, Faker GOAT esports adalah pernyataan mutlak yang tidak perlu dipertanyakan lagi.
Namun, seperti halnya debat Lionel Messi vs Cristiano Ronaldo di sepak bola, status Faker tidak luput dari tantangan. Muncul argumen-argumen menarik yang mencoba menggoyahkan takhta “The Unkillable Demon King”. Beberapa pihak membandingkannya dengan dominasi intelektual Magnus Carlsen di dunia catur, sementara veteran game PC lainnya mengagungkan Flash dari era StarCraft.
Apakah perbandingan tersebut adil? Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa, meskipun ada tantangan dari disiplin lain, Faker tetap berdiri tegak sebagai ikon terbesar dalam sejarah kompetisi video game.
Fenomena Faker: Lebih dari Sekadar Statistik
Sebelum masuk ke perdebatan lintas genre, kita harus mengakui fondasi argumen mengapa gelar tersebut melekat padanya. Dominasi Faker di League of Legends (LoL) bukanlah kebetulan sesaat. Ia telah memenangkan World Championship sebanyak empat kali (2013, 2015, 2016, 2023) dan mengoleksi 10 gelar domestik LCK.
Tetapi, angka hanyalah sebagian kecil dari cerita. Faktor “X” yang membuat Faker GOAT esports tak tergantikan adalah umur karirnya (longevity). Di industri di mana pemain profesional rata-rata pensiun setelah 3-4 tahun karena penurunan refleks, Faker telah bertahan di level tertinggi selama lebih dari satu dekade.
Ia memulai debutnya sebagai rookie ajaib yang mengandalkan mekanik murni, dan kini berevolusi menjadi kapten tim yang tenang dan strategis. Transformasi ini menunjukkan kedewasaan yang jarang dimiliki atlet lain.
Menjawab Kritik: Faker vs Magnus Carlsen (Catur)
Salah satu argumen kontra yang paling sering terdengar belakangan ini adalah perbandingan dengan Magnus Carlsen. Narasi yang dibangun adalah: “Jika esports adalah olahraga otak, bukankah Catur adalah puncaknya? Dan Magnus telah mendominasi lebih dominan daripada Faker.”
Argumen ini valid jika kita hanya bicara soal strategi murni, namun melupakan konteks fundamental yang membedakan esports modern dengan permainan papan klasik.
1. Real-Time vs Turn-Based
Perbedaan paling mencolok terletak pada eksekusi. Catur adalah permainan turn-based (giliran), di mana pemain memiliki waktu untuk memikirkan langkah terbaik. Tidak ada faktor fisik yang membatasi eksekusi strategi tersebut.
Sebaliknya, League of Legends adalah permainan real-time. Strategi brilian di kepala Faker harus dieksekusi melalui jari-jarinya dalam hitungan milidetik. Sebuah keraguan sepersekian detik bisa berakibat fatal. Kombinasi antara pemikiran strategis tingkat tinggi dan eksekusi motorik halus inilah yang membuat skill ceiling di game MOBA sangat tinggi.
2. Adaptabilitas Melawan Perubahan Dinamis
Ini adalah poin di mana argumen Faker GOAT esports menjadi tak terbantahkan. Magnus Carlsen bermain di atas papan catur 64 kotak dengan aturan yang sama selama ratusan tahun. Kuda akan selalu bergerak membentuk huruf L.
Faker, di sisi lain, bermain di lingkungan yang “kacau”. Pengembang game (Riot Games) mengubah aturan main (patch) setiap dua minggu. Champion yang kuat hari ini bisa menjadi lemah besok. Item berubah, peta berubah, dan naga elemen baru diperkenalkan.
Kemampuan Faker untuk terus belajar ulang dan tetap menjadi juara dunia di tengah ribuan perubahan meta adalah bentuk kecerdasan adaptif yang tidak dimiliki oleh atlet catur. Ia tidak hanya menguasai permainan; ia menguasai evolusi permainan itu sendiri.
Tantangan dari Era Klasik: Flash dan StarCraft
Bagi para purist atau pengamat esports veteran, nama Lee “Flash” Young-ho dari StarCraft: Brood War sering dianggap sebagai dewa yang sebenarnya. Argumen mereka berpusat pada fakta bahwa StarCraft adalah permainan 1 vs 1.
Individu Murni vs Kerjasama Tim
Di StarCraft, kemenangan dan kekalahan 100% ada di tangan pemain. Tidak ada rekan tim yang bisa menutupi kesalahan Anda. Flash mendominasi era di mana game tersebut dianggap sebagai tes mekanik tersulit bagi manusia (membutuhkan 300+ APM konstan).
Memang benar, di LoL, Faker memiliki empat rekan tim. Namun, justru di situlah letak tantangan berbedanya. Menjadi GOAT di game tim membutuhkan leadership. Faker tidak hanya harus mengurus dirinya sendiri, tetapi juga harus mengoordinasikan empat orang lainnya, menjaga mental tim, dan menjadi shotcaller utama.
Transisi Faker dari seorang carry individu yang egois di 2013 menjadi pemimpin yang memfasilitasi tim di 2023 menunjukkan spektrum skill yang lebih luas daripada sekadar dominasi mekanik 1 vs 1.
Mengapa Genre FPS Belum Bisa Menyaingi?
Lalu, bagaimana dengan s1mple (CS:GO) atau ZywOo (CS2)? Mereka memiliki mekanik aim yang luar biasa dan sering melakukan aksi “menggendong” tim sendirian.
Masalah utama di genre FPS adalah durasi karir. Pemain FPS sangat bergantung pada refleks mata dan tangan yang menurun drastis setelah usia 25 tahun. Sangat jarang melihat pemain FPS yang tetap dominan di level “Dewa” selama 10 tahun berturut-turut. Konsistensi jangka panjang inilah yang membuat posisi Faker GOAT esports sulit digeser oleh atlet FPS mana pun saat ini.
Paket Lengkap Sang Legenda
Perdebatan mengenai siapa yang terbaik memang akan selalu subjektif. Jika Anda mendefinisikan “hebat” sebagai kecerdasan murni, Magnus Carlsen mungkin pilihan Anda. Jika Anda mendefinisikan “hebat” sebagai dominasi mekanik individu tanpa celah, Flash adalah jawabannya.
Namun, jika kita berbicara tentang Esports sebagai industri hiburan global yang menggabungkan strategi, mekanik fisik, kepemimpinan, adaptabilitas terhadap perubahan, dan daya tahan karir, maka tidak ada yang bisa menyamai Lee Sang-hyeok.
Ia adalah paket lengkap. Ia memiliki trofi terbanyak, ia bertahan paling lama, ia setia pada satu tim (T1), dan ia memiliki perilaku profesional yang patut diteladani.
Oleh karena itu, menyebut Faker GOAT esports bukanlah sebuah hiperbola, melainkan sebuah pengakuan terhadap dedikasi seorang manusia yang telah mendedikasikan seluruh masa mudanya untuk menjadi yang terbaik di tengah perubahan zaman yang cepat.
Bagaimana menurut Anda? Apakah ada pemain lain yang menurut Anda layak masuk dalam diskusi ini?





