Rekap & Ulasan Anime 17-26: Semesta Kegilaan Fujimoto – Episode 2

Rekap & Ulasan Anime 17-26: Semesta Kegilaan Fujimoto – Episode 2

Episode kedua musim pertama dari anime Tatsuki Fujimoto 17-26 kembali menampilkan formula penceritaan yang tidak biasa. Dengan perpaduan tone emosional, komedi absurd, dan eksekusi visual eksperimental, episode ini mempertebal ciri khas sang kreator: tidak takut tampil aneh namun terasa dalam.

Awal Episode: Lamunan Seorang Murid yang Terlalu Mengagumi

Cerita dibuka dari sudut pandang Sasaki, siswa unggulan yang secara mengejutkan justru melamun di kelas. Bukannya fokus pada pelajaran, ia terus memikirkan sosok gurunya, Kawaguchi. Kekaguman itu tidak sekadar biasa. Sasaki meyakini gurunya bukan manusia normal, melainkan entitas agung, semacam “Dewi”.

Pikiran Sasaki berputar nonstop. Ia membayangkannya pagi hingga malam, bahkan sampai terbawa mimpi. Penggambaran ini sejak awal dibuat berlebihan, namun justru memancing rasa ingin tahu: apakah ini cinta, obsesi, atau hanya humor kacau?

Ketegangan Muncul: Aksi Bukan, Filosofi yang Bicara

Keheningan kelas seketika pecah ketika seorang pria bersenjata masuk dan mengaku mengincar Kawaguchi. Ia adalah Kuwano, teman masa muda sang guru yang menyimpan luka lama.

Kuwano menjelaskan bahwa ia dahulu punya masa depan cerah dengan nilai akademik tinggi dan peluang masuk kampus elite. Namun semua berubah drastis setelah cintanya ditolak oleh Kawaguchi. Penolakan itu membuat ia kehilangan arah hidup, lalu ia menumpuk dendam bertahun-tahun.

Kawaguchi berusaha menenangkannya, tetapi gagal. Dalam situasi genting, sang guru membuat perjanjian besar: ia rela melakukan apa pun yang Kuwano mau, asalkan murid-muridnya dibiarkan selamat. Kuwano setuju setelah mendengar syarat yang lebih ‘ganjil’, yang diarahkan ke ajakan hubungan seksual.

Di titik ini, bukan tembak-tembakan yang menjadi fokus, melainkan keabsurdan tawaran dan kemustahilan logikanya. Alih-alih thriller, episode ini mirip panggung drama psikologis komedi gelap.

Puncak Konflik Emosi: Sasaki Meledak

Sasaki terguncang bukan karena ada pistol, tetapi karena ia tidak rela “Dewi”-nya disentuh orang yang tidak ia sukai. Ia berdiri dengan ekspresi liar dan meneriakkan protes bernada jijik: ia tidak bisa menerima jika Kawaguchi berhubungan dengan seseorang yang menurutnya tidak layak.

Momen ini memicu murka si penembak. Kuwano membidikkan pistol tepat ke Sasaki. Atmosfer ruang kelas berubah memekat, disertai perubahan warna latar untuk menegaskan tekanan psikologis.

Momen Ikonik: Menangkap Peluru dengan Keyakinan

Saat peluru ditembakkan, Sasaki secara refleks menangkapnya menggunakan tangan kosong. Tidak ada yang menyangka, termasuk Sasaki sendiri. Ruangan seketika senyap.

Adegan ini bukan sekadar over-power momen aksi, melainkan metafora yang tersisip rapi: keyakinan terhadap mimpi dan idolanya menjadi “kekuatan super” yang mendorong hal yang nampak mustahil jadi mungkin.

Twist Gila: Pengakuan dari Masa Depan

Walaupun berhasil menghentikan peluru, Sasaki masih cemas jika Kuwano akan melanjutkan permintaan anehnya kepada Kawaguchi. Maka ia menyiapkan kebohongan kreatif: ia mengaku datang dari masa depan demi menggiring narasi.

Anehnya, kebohongan itu justru memberi dampak penyadaran pada penyerang. Sasaki mengatakan bahwa andai Kuwano dipenjara, masa depan akademiknya justru berubah ia bisa belajar serius di balik jeruji dan diterima di universitas yang dulu hanya mimpi. Bahkan ia akan bertemu wanita manis lewat pekerjaan paruh waktunya, lalu memiliki empat anak.

Narasi hiperbolis itu terdengar seperti fan-fiction spontan, tetapi menjadi turning point utama. Kuwano jatuh menangis dan akhirnya memutuskan belajar keras di penjara demi masa depan yang “lebih masuk akal”.

Epilog 20 Tahun: Dari Obsesi Menuju Keteguhan Makna

Babak akhir memperlihatkan Sasaki yang sudah dewasa menelepon Kawaguchi dari bulan. Ia tetap orang Jepang pertama yang menjejakkan kaki di bulan, meskipun ayahnya yang dulu ia percaya tinggal di sana nyatanya tidak pernah ada.

Sasaki mengungkap bahwa momen menangkap peluru di masa lalu bukanlah kekuatannya, melainkan ‘pengaruh ilahi’ Kawaguchi yang ia yakini sebagai Dewi. Ia tetap memegang keyakinan itu hingga kini, sembari menatap Bumi dan menegaskan bahwa hal-hal sepele seperti peluru tidak lagi berarti baginya.

Ulasan Singkat dalam Gaya Fujimoto

  • Filosofi Episode: Keyakinan dan keberanian mencoba jadi gagasan utama. Anime ini memakai simbol gila menangkap peluru, masa depan fiktif, dan obsesi “Dewi” untuk membicarakan konsep real: peluang kecil pun tetap peluang.

  • Animasi & Visual: Tidak banyak adegan laga, namun penggunaan warna lebih eksploratif. Transisi palette mengikuti emosi, mirip pendekatan seni representatif.

  • Eksperimen Teks: Kemunculan teks kamus, ilustrasi kecil, dan montase visual saat karakter kaget memberi identitas komedi yang tajam dan cerdas.

  • Tone Penceritaan: Namun anehnya, alur justru menyatu dengan pesan humanis yang ironis dan hangat. Ciri khas penceritaan Fujimoto: membalut luka dengan kelucuan.

Related posts