Penuh Kontroversi, Apakah Drama Korea “Genie, Make A Wish” Layak Ditonton?

Penuh Kontroversi, Apakah Drama Korea “Genie, Make A Wish” Layak Ditonton?

Belakangan ini dunia per-Drakor-an sedang heboh gara-gara salah satu drama terbaru yang langsung jadi bahan perbincangan warganet. Yap, “Genie, Make A Wish” sukses bikin timeline penuh debat, bukan hanya karena jalan ceritanya, tetapi juga karena dua bintang besar Suzy dan Kim Woo-bin kembali dipertemukan dalam satu proyek yang sama.

Premis Fantasi yang Memantik Pro-Kontra

Drama ini mengangkat kisah Genie (Kim Woo-bin) atau Jin, makhluk yang terjebak dalam sebuah lampu selama 983 tahun. Ia hanya bisa bebas jika menemukan reinkarnasi gadis kecil yang membuatnya terperangkap dahulu. Setelah berabad-abad menunggu, Jin akhirnya bertemu kembali dengan gadis tersebut yang kini menjelma menjadi wanita dewasa bernama Ka-Young (Bae Suzy).

Sekilas, premis fantasi ini terlihat sederhana dan tidak bermasalah. Namun kontroversi muncul karena konsep Jin/Genie yang dianggap mirip dengan kisah dalam salah satu kitab suci. Bagi sebagian penonton, adaptasi ini dinilai kurang tepat untuk dijadikan hiburan, apalagi Jin dalam drama digambarkan sebagai sosok humoris, protagonis, dan bahkan heroik, berbeda dengan kepercayaan sebagian umat Muslim.

Sementara itu, penonton lain menganggap drama ini tidak lebih dari fiksi romantis yang tidak perlu diperdebatkan terlalu jauh.

Kritik pada Akting dan Alur Cerita

Selain isu sensitif, drama ini juga menerima banyak masukan dari sisi teknis.
Beberapa penonton menilai akting Suzy tampak kaku, terutama saat menyampaikan dialog. Ada pula yang merasa alur ceritanya berjalan lambat, membuat beberapa episode terasa membosankan.

Meski begitu, bagi sebagian penonton lain justru inilah pesonanya. Drama ini termasuk kategori ringan, mudah diikuti, dan cocok ditonton sambil bersantai tanpa perlu banyak berpikir.

Worth to Watch atau Tidak?

Drama ini cocok untuk kamu yang sedang mencari tontonan fantasi-romantis santai. Namun bagi penonton yang sensitif terhadap tema keagamaan atau menginginkan drama dengan alur cepat dan intens, mungkin akan merasa kurang cocok.

Pada akhirnya, “layak ditonton atau tidak” sangat bergantung pada selera pribadi.

Related posts