Sekda Jabar Tinjau Program KKN Mahasiswa UNPAD di Indramayu

Sekda Jabar Tinjau Program KKN Mahasiswa UNPAD di Indramayu
Sekda Jabar Tinjau Program KKN Mahasiswa UNPAD di Indramayu

Desa Linggajati, Kecamatan Arahan, Kabupaten Indramayu, menjadi sorotan pada awal pekan ini. Sebuah kunjungan penting dilakukan oleh pejabat tinggi Pemerintah Provinsi Jawa Barat guna memastikan sinergi antara akademisi dan masyarakat berjalan optimal. Sekda Jabar tinjau program KKN Mahasiswa UNPAD di Indramayu secara langsung pada Senin (12/1/2026), membawa pesan semangat dan dukungan penuh bagi ribuan mahasiswa yang sedang mengabdi.

Kunjungan kerja ini dilakukan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat, Dr. Drs. Herman Suryatman, M.Si. Kehadirannya di tengah-tengah mahasiswa Universitas Padjadjaran (UNPAD) bukan sekadar seremonial, melainkan bentuk monitoring nyata terhadap implementasi program kerja yang telah dirancang untuk memajukan desa.

Read More

Apa Fokus Kunjungan Sekda Jabar? Kunjungan Sekda Jabar bertujuan memantau langsung efektivitas program Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNPAD dalam memberdayakan masyarakat desa. Herman Suryatman memastikan bahwa ribuan mahasiswa yang diterjunkan mampu menjadi katalisator perubahan, khususnya dalam aspek penanganan kemiskinan dan pengelolaan lingkungan melalui pendekatan intelektual yang aplikatif.

Dialog Terbuka: Menggali Potensi Desa

Dalam lawatannya ke Posko KKN di Desa Linggajati, Herman Suryatman tidak hanya melihat-lihat. Ia menyempatkan diri untuk berdialog secara interaktif dengan para mahasiswa. Suasana hangat tercipta saat para akademisi muda ini memaparkan berbagai inisiatif yang telah mereka siapkan untuk membantu warga setempat.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat, melalui pernyataan Sekda, menegaskan dukungannya terhadap kolaborasi ini. Herman menilai bahwa kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat adalah sebuah kebutuhan vital. Energi muda yang dipadukan dengan ilmu pengetahuan diharapkan dapat memecahkan kebuntuan masalah sosial yang selama ini ada di tingkat tapak.

“Kehadiran mahasiswa harus memberikan dampak positif yang nyata,” ujar Herman. Ia menekankan bahwa KKN bukan hanya soal menggugurkan kewajiban akademik, tetapi soal meninggalkan jejak kebaikan yang berkelanjutan bagi warga desa.

Misi Utama: Literasi dan Keterampilan Hidup

Dalam arahannya, Herman Suryatman memberikan “tantangan” khusus kepada para mahasiswa UNPAD. Ia mendorong agar program kerja yang disusun tidak melulu soal fisik, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia.

Dua poin utama yang menjadi sorotan Sekda adalah:

  • Penguatan Literasi Keluarga: Mengedukasi keluarga tentang pentingnya pendidikan, kesehatan, dan pengelolaan ekonomi rumah tangga.

  • Literasi Keterampilan Hidup (Life Skill): Mengajarkan keterampilan praktis yang bisa menjadi modal usaha atau peningkatan taraf hidup warga.

Dengan fokus pada dua hal ini, diharapkan warga desa tidak hanya terbantu secara sesaat, tetapi memiliki bekal untuk mandiri di masa depan. Mahasiswa didorong untuk menjadi mentor yang sabar dan inspiratif bagi masyarakat tempat mereka mengabdi.

Data Fakta: Ribuan Mahasiswa Bergerak

Skala program pengabdian tahun ini terbilang masif. Universitas Padjadjaran tidak main-main dalam menerjunkan “pasukan” intelektualnya untuk membantu pembangunan di Jawa Barat.

Berikut adalah rincian data penyebaran peserta KKNM UNPAD tahun 2026:

  • Total Mahasiswa: 3.382 orang.

  • Dosen Pendamping: 203 orang.

  • Total Desa Sasaran: 203 desa.

  • Sebaran Wilayah: 46 kecamatan di dua kabupaten (Indramayu dan Sumedang).

Secara spesifik, Kabupaten Indramayu mendapatkan porsi yang sangat besar. Sebanyak 157 desa yang tersebar di 30 kecamatan di Indramayu menjadi lokasi pengabdian. Sementara itu, sisanya yakni 46 desa yang berada di 16 kecamatan, berlokasi di Kabupaten Sumedang. Angka ini menunjukkan betapa strategisnya posisi Indramayu dalam peta pembangunan yang disasar oleh UNPAD dan Pemprov Jabar kali ini.

Fokus Isu: Kemiskinan dan Sampah

Program KKN ini dijadwalkan berlangsung selama kurang lebih satu bulan penuh. Dimulai sejak tanggal 10 Januari 2026, para mahasiswa akan berjibaku di lapangan hingga penarikan pada 11 Februari 2026 mendatang. Waktu satu bulan ini harus dimanfaatkan seefektif mungkin untuk mencapai target yang telah ditetapkan.

Tema besar yang diusung pun sangat relevan dengan tantangan Jawa Barat hari ini. Selain literasi, fokus utama gerakan mahasiswa ini adalah penanganan kemiskinan dan pengelolaan sampah. Dua isu ini merupakan masalah klasik yang membutuhkan solusi inovatif.

Mahasiswa diharapkan dapat membantu memetakan kantong-kantong kemiskinan ekstrem dan mengusulkan intervensi yang tepat. Di sisi lain, edukasi mengenai pengelolaan sampah dari sumbernya diharapkan dapat menciptakan lingkungan desa yang lebih bersih dan sehat. Herman Suryatman optimis, dengan kolaborasi antara mahasiswa, dosen, pemerintah daerah, dan masyarakat, target-target pembangunan tersebut dapat terakselerasi dengan baik.

Related posts