Amerika Ragukan Mesin ASML di China di Tengah Persaingan Teknologi Sengit

Amerika Ragukan Mesin ASML di China di Tengah Persaingan Teknologi Sengit

HaurgeulisMedia.co.id – Laporan terbaru dari Bloomberg mengungkap adanya kecurigaan pemerintah Amerika Serikat terhadap kemungkinan salah satu mesin litografi EUV milik ASML, yang merupakan teknologi krusial dalam pembuatan chip canggih, telah sampai ke China. Kecurigaan ini muncul meskipun ada pembatasan ekspor yang ketat dari AS.

Mesin litografi EUV ASML dianggap sebagai “harta karun” industri teknologi modern. Teknologi ini memegang peranan penting dalam produksi chip paling mutakhir yang menopang berbagai perangkat, mulai dari smartphone, pusat data, hingga sistem kecerdasan buatan.

Kekhawatiran ini dilaporkan disampaikan langsung oleh Menteri Perdagangan Amerika Serikat, Howard Lutnick, kepada pimpinan ASML. Jika kecurigaan ini terbukti benar, maka kasus ini berpotensi menimbulkan masalah besar dalam persaingan teknologi yang sedang memanas antara Washington dan Beijing.

Selama beberapa tahun terakhir, Amerika Serikat secara aktif berupaya membatasi akses China terhadap teknologi semikonduktor paling maju. Salah satu fokus utama dari upaya ini adalah mesin EUV, yang saat ini hanya diproduksi oleh ASML.

Teknologi EUV memiliki kemampuan untuk memungkinkan produsen chip menciptakan transistor yang jauh lebih kecil dan lebih efisien. Tanpa mesin ini, proses pembuatan prosesor generasi terbaru akan menjadi sangat sulit.

Menanggapi tuduhan tersebut, ASML langsung memberikan bantahan. Menurut laporan Bloomberg, perusahaan tersebut bahkan telah menyusun dokumen khusus untuk menjelaskan posisi mereka kepada para pejabat Amerika Serikat.

Dokumen yang berjudul “No indication of any ASML EUV System in China” tersebut menyatakan bahwa ASML tidak menemukan adanya indikasi bahwa mesin EUV mereka telah berada di China.

ASML merinci bahwa saat ini terdapat 314 mesin EUV yang masih beroperasi di seluruh dunia, sementara 26 unit lainnya telah dihentikan penggunaannya. Tidak ada satu pun dari mesin tersebut yang tercatat berada di China.

Perusahaan juga menegaskan kembali bahwa mereka tidak pernah melakukan pengiriman mesin EUV ke China. Bahkan, komponen dan modul yang dirancang khusus untuk sistem EUV juga diklaim tidak pernah diekspor ke negara tersebut.

Menurut laporan MoneyControl, ASML menilai bahwa tuduhan tersebut sulit untuk dibuktikan. Hal ini disebabkan oleh karakteristik unik dari mesin EUV itu sendiri. Mesin ini berukuran sangat besar, setara dengan bus sekolah, diproduksi dalam jumlah terbatas, dan memerlukan perawatan rutin yang dilakukan oleh teknisi ASML.

Dengan dimensi dan persyaratan operasional seperti itu, memindahkan satu unit mesin secara diam-diam dianggap bukan perkara yang mudah. Selain itu, operasional mesin tersebut tidak dapat berjalan tanpa dukungan teknis yang berkelanjutan dari ASML.

Meskipun demikian, beberapa pejabat Amerika Serikat mengklaim memiliki bukti spesifik yang menunjukkan adanya pengiriman peralatan terkait EUV ke China. Bukti tersebut dilaporkan terlalu sensitif untuk dipublikasikan kepada masyarakat umum.

Karena rincian bukti tersebut tidak diungkapkan, publik saat ini hanya mengetahui adanya perbedaan pandangan antara pemerintah Amerika Serikat dan ASML mengenai isu ini.

Kasus ini muncul di tengah pertimbangan Amerika Serikat untuk memberlakukan pembatasan yang lebih ketat terhadap ekspor teknologi semikonduktor ke China. Bahkan, mesin DUV yang merupakan teknologi lebih tua dari EUV juga mulai menjadi sasaran pembatasan baru.

Bagi industri teknologi global, sengketa ini menyoroti bahwa chip kini bukan lagi sekadar komponen elektronik. Di era kecerdasan buatan dan komputasi canggih, mesin pembuat chip telah bertransformasi menjadi salah satu aset strategis yang memiliki nilai ekonomi, politik, dan keamanan nasional secara bersamaan.

Pos terkait