Doraemon Berhenti Tayang: Akhir Era Minggu Pagi di RCTI

Doraemon Berhenti Tayang: Akhir Era Minggu Pagi di RCTI
Doraemon berhenti tayang di layar kaca/Foto: Pinterest

Minggu pagi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia bukan hanya sekadar waktu untuk beristirahat. Selama lebih dari tiga dekade, ada sebuah ritual tak tertulis yang dilakukan oleh jutaan anak-anak hingga orang dewasa: duduk di depan televisi sambil menyantap sarapan hangat. Apa yang mereka tunggu? Tentu saja sapaan hangat dari robot kucing berwarna biru, Doraemon.

Namun, kabar mengejutkan datang di awal tahun ini. Isu mengenai Doraemon berhenti tayang mulai menyeruak dan menjadi perbincangan hangat. Setelah puluhan tahun menjadi “pengasuh” elektronik yang setia, serial kartun asal Jepang ini dikabarkan tak lagi menghiasi layar kaca kita.

Bagi Generasi 90-an dan 2000-an, ini bukan sekadar perubahan jadwal acara televisi biasa. Ini terasa seperti perpisahan dengan sahabat lama yang telah tumbuh bersama kita. Benarkah era keemasan kartun Minggu pagi telah resmi berakhir? Mari kita telusuri fakta-faktanya secara mendalam.

Hilangnya Jejak Doraemon di Awal 2026

Doraemon/Foto: Pinterest/Ankit-Edits
Doraemon/Foto: Pinterest/Ankit-Edits

Kabar mengenai Doraemon berhenti tayang tidak serta merta diumumkan melalui konferensi pers besar. Justru, keheninganlah yang membuat para penggemar setia merasa ada yang salah.

Kecurigaan bermula ketika memasuki bulan Januari 2026. Biasanya, stasiun televisi RCTI yang memegang hak siar tayangan ini selalu menempatkan Doraemon di slot “Prime Time” anak-anak, yaitu pukul 08.30 WIB. Namun, pemandangan berbeda tersaji di layar kaca.

Berdasarkan pantauan para penggemar dan netizen yang jeli, slot waktu yang biasanya dikuasai oleh Nobita dan kawan-kawan kini telah digantikan. Tayangan kartun lain seperti KIKO dan serial sepak bola legendaris Captain Tsubasa kini mengisi kekosongan tersebut.

Bukti Digital yang Menguatkan

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Official RCTI (@officialrcti)

Era digital membuat segalanya lebih transparan. Para penggemar langsung menyerbu akun media sosial resmi stasiun TV terkait untuk mencari kejelasan.

  • Jejak Terakhir: Unggahan terakhir yang mempromosikan jadwal tayang Doraemon tercatat pada tanggal 27 Desember 2025.

  • Kekosongan Jadwal: Memasuki Januari 2026, tidak ada lagi materi promosi atau “flyer” digital yang menampilkan wajah Doraemon di akun Instagram @officialrcti.

Hingga artikel ini ditulis, belum ada klarifikasi resmi dari pihak RCTI mengenai alasan pasti penghentian ini. Apakah ini masalah perpanjangan lisensi, strategi rebranding acara, atau memang keputusan final untuk mengakhiri penayangannya? Misteri ini masih belum terpecahkan.

Sejarah 35 Tahun yang Tak Tergantikan

Doraemon/Foto: Pinterest/AVIANA
Doraemon/Foto: Pinterest/AVIANA

Membahas Doraemon berhenti tayang rasanya tidak lengkap tanpa menengok ke belakang, melihat betapa panjangnya perjalanan robot kucing ini di Indonesia. Doraemon bukan sekadar kartun; ia adalah saksi sejarah perkembangan televisi di tanah air.

Awalnya, Doraemon pertama kali menyapa pemirsa Indonesia melalui stasiun TVRI. Namun, momen bersejarah yang diingat banyak orang terjadi pada 9 Desember 1990. Pada tanggal tersebut, hak siar diambil alih oleh RCTI, dan sejak saat itu, Doraemon menjadi ikon tetap stasiun televisi swasta pertama di Indonesia tersebut.

Bayangkan konsistensinya:

  1. Era 90-an: Menemani anak-anak sebelum bermain keluar rumah.

  2. Era 2000-an: Tetap eksis di tengah gempuran kartun-kartun baru seperti Pokemon dan Digimon.

  3. Era Digital: Masih bertahan meski YouTube dan Netflix mulai mendominasi.

Selama 35 tahun, pengisi suara (dubber) boleh berganti. Kita mungkin masih ingat suara khas Almarhumah Nurhasanah yang sangat ikonik sebagai Doraemon. Meski regenerasi pengisi suara terjadi, loyalitas penonton tidak pernah surut. Doraemon telah menjadi jembatan antar-generasi; tontonan yang bisa dinikmati oleh ayah, ibu, dan anak secara bersamaan di ruang keluarga.

Reaksi Emosional Warganet: “Terima Kasih Masa Kecilku”

Doraemon/Foto: Pinterest/Farhat Jahan
Doraemon/Foto: Pinterest/Farhat Jahan

Kabar hilangnya Doraemon memicu gelombang nostalgia di media sosial. Platform seperti X (sebelumnya Twitter), Instagram, dan TikTok dipenuhi dengan ungkapan kesedihan. Frasa terkait Doraemon berhenti tayang pun sempat menjadi topik populer.

Banyak warganet yang merasa bahwa hilangnya Doraemon adalah tanda nyata bahwa mereka sudah dewasa, dan masa kecil mereka benar-benar telah usai. Berikut adalah rangkuman sentimen yang muncul di kolom komentar akun resmi stasiun TV tersebut:

“Jangan hilangin Doraemon, please. Itu satu-satunya alasan aku nyalain TV di hari Minggu,” tulis akun @al*** dengan nada memohon.

“Saya dari kecil setia nonton Doraemon eh distop. Rasanya ada yang hilang dari rutinitas mingguan,” ungkap @id***.

Bahkan, ada komentar yang cukup menyentuh hati dari pengguna X, @ch***: “Terima kasih Doraemon udah menemani hari mingguku sampai setua ini.”

Komentar-komentar ini menunjukkan bahwa bagi masyarakat Indonesia, Doraemon lebih dari sekadar hiburan. Ia adalah comfort zone. Meskipun episodenya sering diulang-ulang, dan alur ceritanya di film (movies) seringkali bisa ditebak, kenyamanan itulah yang dicari.

Seperti yang dikatakan oleh akun @ri***, “Walaupun episode dan movie-nya cuman diulang-ulang, tapi itulah yang bikin tambah betah nonton. Apalagi kalo sambil makan.”

Mengapa Kartun Minggu Pagi Semakin Tergerus?

Fenomena Doraemon berhenti tayang ini sebenarnya membuka diskusi yang lebih luas mengenai industri pertelevisian di Indonesia. Mengapa acara-acara legendaris ini perlahan mundur?

  1. Pergeseran Minat Penonton: Anak-anak zaman sekarang (Gen Alpha) lebih akrab dengan YouTube, iPad, dan konten on-demand. Mereka tidak lagi terikat dengan jadwal siaran televisi konvensional.

  2. Biaya Lisensi: Mempertahankan hak siar anime Jepang populer tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jika rating televisi (share) menurun karena penonton beralih ke digital, maka secara bisnis, mempertahankan tayangan tersebut menjadi sulit.

  3. Regulasi dan Sensor: Ketatnya sensor KPI terkadang membuat beberapa adegan anime harus dipotong, yang mana seringkali mengurangi kenikmatan menonton bagi penggemar aslinya.

Selamat Jalan, Kawan Masa Kecil

Meskipun saat ini Doraemon berhenti tayang di layar kaca Minggu pagi, warisannya tidak akan pernah hilang. Nilai-nilai persahabatan, keberanian, dan imajinasi yang diajarkan oleh Doraemon, Nobita, Shizuka, Giant, dan Suneo telah membentuk karakter jutaan anak Indonesia.

Kita mungkin tidak bisa lagi melihat Nobita merengek meminta alat ajaib setiap pukul 08.30 pagi, namun kenangan itu akan tetap tersimpan rapi sama rapinya seperti Doraemon menyimpan alat-alatnya di kantong ajaib.

Apakah ini benar-benar akhir, atau hanya jeda sementara? Kita tunggu saja kabar selanjutnya.

Bagaimana dengan Anda? Apa kenangan paling membekas tentang Doraemon di masa kecil Anda?

Related posts