HaurgeulisMedia.co.id – Dharma Wanita Persatuan (DWP) Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Indramayu menggelar kegiatan yang berbeda dari biasanya. Acara ini bukan hanya sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah ajang untuk mempererat tali silaturahmi antar anggota melalui kegiatan membatik.
Kegiatan yang diselenggarakan ini menghadirkan nuansa kebersamaan yang kental. Para anggota DWP Diskominfo Indramayu terlihat antusias mengikuti setiap tahapan dalam proses membatik. Mulai dari mencanting, mewarnai, hingga tahap akhir pengeringan, semuanya dilakukan dengan penuh semangat dan keceriaan.
Lebih dari sekadar belajar teknik membatik, kegiatan ini menjadi sarana efektif untuk mempererat hubungan antar sesama anggota. Melalui interaksi langsung saat membatik, percakapan mengalir, tawa terdengar, dan candaan ringan mewarnai suasana. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan seni seperti membatik memiliki kekuatan luar biasa dalam membangun kedekatan emosional.
Proses membatik sendiri membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Para peserta dituntut untuk fokus pada setiap goresan canting yang membentuk pola di atas kain. Keseriusan dalam menjalankan setiap langkah ini justru menjadi momen refleksi diri bagi sebagian anggota.
Di tengah kesibukan masing-masing dalam menjalankan peran sebagai istri aparatur sipil negara (ASN) dan juga sebagai individu, kegiatan ini memberikan jeda yang berharga. Jeda ini dimanfaatkan untuk melepaskan penat, mengekspresikan kreativitas, dan yang terpenting, memperkuat ikatan persaudaraan.
Ketua DWP Diskominfo Indramayu dalam sambutannya menyampaikan apresiasi yang tinggi atas partisipasi aktif seluruh anggota. Ia menekankan bahwa kegiatan semacam ini sangat penting untuk menjaga keharmonisan dalam organisasi.
“Melalui kegiatan membatik ini, kita tidak hanya belajar tentang warisan budaya bangsa, tetapi juga membangun kembali semangat kebersamaan yang mungkin sempat tergerus oleh rutinitas harian,” ujarnya.
Ia menambahkan, DWP memiliki peran strategis dalam mendukung kinerja suami yang bertugas di Diskominfo. Dengan adanya rasa kekeluargaan yang kuat, diharapkan para anggota dapat saling memberikan dukungan moril dan semangat.
Proses membatik yang dilakukan kali ini tidaklah rumit. Peserta diajarkan teknik dasar yang mudah diikuti, sehingga meskipun baru pertama kali mencoba, mereka tetap dapat menghasilkan karya yang memuaskan. Pilihan motif yang disediakan pun beragam, mulai dari motif klasik hingga kontemporer, memberikan keleluasaan bagi setiap individu untuk mengekspresikan selera seninya.
Tampak para ibu-ibu anggota DWP saling bertukar ide dan memberikan masukan positif satu sama lain. Ada yang berbagi tips agar canting tidak tersumbat, ada pula yang saling memuji hasil karya rekannya. Interaksi semacam inilah yang menjadi esensi dari kegiatan pererat silaturahmi.
Salah satu anggota DWP, Ibu Sari, mengungkapkan rasa senangnya mengikuti kegiatan tersebut. “Saya sudah lama ingin belajar membatik, tapi baru sekarang ada kesempatan. Ternyata memang seru sekali, apalagi bisa dilakukan bersama teman-teman. Kita bisa ngobrol sambil berkarya,” tuturnya dengan senyum lebar.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga memberikan edukasi mengenai pentingnya melestarikan batik sebagai warisan budaya Indonesia. Membatik bukan hanya sekadar aktivitas seni, tetapi juga sarana untuk mengenalkan dan menanamkan kecintaan terhadap budaya bangsa kepada generasi penerus.
Para pengrajin batik lokal yang dihadirkan sebagai instruktur juga turut berperan penting dalam kesuksesan acara ini. Dengan sabar dan telaten, mereka membimbing setiap peserta, memberikan arahan, dan menjawab setiap pertanyaan yang muncul.
Keberadaan instruktur yang berpengalaman ini memastikan bahwa setiap peserta mendapatkan pemahaman yang baik tentang teknik membatik, mulai dari cara memegang canting, mengendalikan aliran lilin malam, hingga teknik pewarnaan yang tepat.
Kegiatan membatik ini juga menjadi ajang apresiasi terhadap produk-produk lokal Indramayu. Dengan belajar membatik secara langsung, anggota DWP diharapkan semakin mencintai dan bangga menggunakan produk batik asli daerahnya.
Semangat kolaborasi terlihat jelas saat beberapa peserta saling membantu dalam proses pewarnaan. Ada yang membantu memegang kain, ada pula yang saling mengingatkan agar warna tidak tercampur.
Suasana yang terbangun adalah suasana kekeluargaan yang hangat, di mana setiap orang merasa dihargai dan diterima. Hal ini sangat penting untuk membangun rasa percaya diri dan mengurangi rasa canggung, terutama bagi anggota yang baru bergabung dengan DWP Diskominfo Indramayu.
Di akhir kegiatan, setiap anggota membawa pulang hasil karyanya masing-masing. Kain batik yang telah dihiasi dengan canting dan warna menjadi bukti nyata dari kreativitas dan kebersamaan yang telah terjalin.
Karya-karya tersebut tidak hanya sekadar hiasan, tetapi juga menjadi pengingat akan momen indah yang telah dilewati bersama. Sebuah pengingat akan pentingnya menjaga silaturahmi dan terus berkarya.
Ketua DWP berharap agar kegiatan seperti ini dapat terus diagendakan secara rutin. Ia meyakini bahwa dengan adanya kegiatan yang bervariasi dan edukatif, DWP Diskominfo Indramayu akan semakin solid dan mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan kerja maupun masyarakat.
Belajar membatik bukan hanya sekadar mengisi waktu luang, tetapi telah bertransformasi menjadi sebuah kegiatan yang bermakna. Sebuah kegiatan yang berhasil menyatukan hati, mempererat tali persaudaraan, dan melestarikan warisan budaya bangsa.
Melalui canting dan pewarna, terukir kisah kebersamaan yang tak ternilai harganya. Momen ini akan menjadi kenangan manis yang selalu diingat oleh setiap anggota DWP Diskominfo Indramayu.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan semangat kolaborasi dan kekeluargaan di lingkungan DWP Diskominfo Indramayu semakin tumbuh subur. Hal ini tentu akan berdampak positif pada suasana kerja dan kinerja para suami yang bertugas di dinas tersebut.
DWP Diskominfo Indramayu membuktikan bahwa kegiatan yang sederhana sekalipun dapat memiliki dampak yang luar biasa dalam membangun kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi.





