Bullying atau perundungan sering kali dianggap remeh oleh sebagian orang. Masih banyak yang beranggapan bahwa ini hanyalah “fase kenakalan remaja” atau bagian dari proses pendewasaan. Padahal, realitanya sangat jauh dari itu.
Dampak bullying bisa sangat destruktif, meninggalkan luka batin yang mendalam, menghancurkan rasa percaya diri, hingga memicu trauma berkepanjangan yang terbawa sampai usia dewasa.
Sering kali, korban atau orang tua korban merasa bahwa membalas kekerasan dengan kekerasan adalah satu-satunya jalan keluar. Namun, tahukah Anda? Cara tersebut justru sering kali memperburuk situasi dan menciptakan siklus balas dendam yang tidak berujung.
Lantas, bagaimana solusinya? Ada strategi cerdas yang jauh lebih efektif. Berikut adalah panduan lengkap mengenai cara menghentikan bullying tanpa harus menggunakan kekerasan fisik, demi menciptakan lingkungan yang aman dan mental yang sehat.
1. Maksimalkan Peran Teman Sebaya (The Power of Bystander)

Tahukah Anda bahwa penonton atau bystander memegang kunci utama dalam dinamika bullying? Sering kali, perundung melakukan aksinya untuk mendapatkan “pengakuan” atau tawa dari orang di sekitarnya.
Menurut studi, ketika teman-teman yang melihat kejadian tersebut justru tertawa atau diam saja, pelaku merasa divalidasi. Namun, situasi bisa berbalik 180 derajat jika bystander berani bersikap.
Program KiVa dari Finlandia membuktikan bahwa ketika penonton dilatih untuk tidak menertawakan dan justru membela korban, kasus perundungan menurun drastis. Mengubah penonton pasif menjadi “pembela aktif” adalah langkah awal mematikan panggung sang pelaku.
2. Tetap Tenang dan Tunjukkan Sikap Asertif

Pelaku bullying umumnya mencari reaksi emosional. Mereka ingin melihat korbannya menangis, marah meledak-ledak, atau ketakutan. Reaksi inilah yang menjadi “bensin” bagi mereka untuk terus mengganggu.
Salah satu cara menghentikan bullying yang paling elegan adalah dengan tidak memberikan kepuasan tersebut. Bersikaplah tenang (kendalikan emosi) dan asertif.
Katakan dengan tegas, tatap matanya, dan ucapkan kalimat singkat seperti “Hentikan, itu tidak lucu,” atau “Saya tidak suka caramu bicara,” lalu segera tinggalkan tempat tersebut. Ket tenang an Anda akan membuat pelaku bingung dan kehilangan minat.
3. Bangun Benteng Kepercayaan Diri

Mengapa seseorang menjadi target bullying? Sering kali karena mereka terlihat tidak aman atau insecure. American Psychological Association (APA) menyebutkan bahwa kepercayaan diri adalah tameng terbaik.
Individu yang percaya diri memancarkan aura stabilitas emosional yang membuat perundung enggan mendekat.
Untuk membangun hal ini, fokuslah pada pengembangan diri. Entah itu melalui prestasi akademik, olahraga, seni, atau hobi unik lainnya. Ketika seseorang merasa bangga dengan dirinya sendiri, komentar negatif orang lain tidak akan mudah meruntuhkan mentalnya.
4. Perluas Jaringan Pertemanan yang Sehat

Sendirian itu berbahaya. Dalam ekosistem sekolah atau lingkungan sosial, pelaku bullying cenderung menargetkan mereka yang terlihat menyendiri dan tidak memiliki dukungan sosial.
Memiliki jaringan pertemanan yang luas dan positif adalah strategi pertahanan yang solid. Laporan UNICEF menegaskan bahwa anak atau remaja yang dikelilingi oleh teman-teman yang suportif (support system) jauh lebih aman dari serangan perundungan.
Pertemanan menciptakan solidaritas. Ketika satu orang diganggu, teman lainnya akan hadir untuk membela, menutup celah bagi pelaku untuk melakukan intimidasi.
5. Jangan Takut Melapor pada Otoritas

Ada stigma salah yang beredar bahwa “mengadu itu pengecut”. Ini harus diluruskan. Melaporkan tindakan bullying kepada orang dewasa atau pihak berwenang adalah langkah strategis, bukan tanda kelemahan.
Guru, orang tua, konselor sekolah, hingga HRD (di lingkungan kerja) memiliki wewenang untuk mengambil tindakan disipliner yang tidak bisa dilakukan oleh korban secara langsung.
Keterlibatan pihak berwenang memastikan bahwa masalah diselesaikan secara struktural dan profesional, mencegah dampak psikologis yang lebih parah seperti depresi atau kecemasan.
6. Dokumentasikan Bukti dengan Cermat

Di era digital saat ini, cyberbullying menjadi ancaman nyata. Keunggulan dari kasus digital adalah jejaknya yang bisa direkam.
Jika Anda atau kerabat mengalami perundungan, jangan buru-buru menghapus pesan tersebut karena emosi. Simpan semuanya. Tangkapan layar (screenshot), rekaman suara, atau video adalah bukti valid.
Bukti-bukti ini sangat krusial saat Anda memutuskan untuk melapor. Dengan bukti yang objektif, pihak sekolah atau bahkan kepolisian dapat melihat kronologi yang sebenarnya tanpa bias, sehingga penanganan bisa dilakukan secara adil.
7. Tanamkan Empati Sejak Usia Dini

Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Akar masalah bullying sering kali berasal dari kurangnya empati si pelaku. Oleh karena itu, pendidikan karakter di rumah sangat vital.
Anak yang diajarkan untuk memahami perasaan orang lain, menghargai perbedaan, dan memiliki toleransi tinggi, memiliki kecenderungan sangat kecil untuk menjadi perundung.
Empati bukanlah bakat bawaan lahir, melainkan keterampilan yang harus dilatih terus-menerus melalui contoh nyata dari orang tua dan lingkungan terdekat.
8. Salurkan Energi ke Kegiatan Positif

Mengapa kegiatan ekstrakurikuler sangat disarankan? Menurut riset dari Harvard Graduate School of Education, keterlibatan dalam kegiatan positif seperti klub olahraga, musik, atau organisasi sosial dapat meningkatkan resiliensi anak.
Anak yang sibuk dengan kegiatan produktif tidak hanya terhindar dari menjadi korban, tetapi juga terhindar dari keinginan menjadi pelaku. Mereka memiliki identitas positif dan “keluarga kedua” di komunitasnya, yang membuat mereka lebih tangguh menghadapi tekanan sosial.
9. Fasilitasi Konseling Profesional

Kadang, penyelesaian di permukaan saja tidak cukup. Baik korban maupun pelaku bullying sesungguhnya membutuhkan bantuan psikologis.
Pelaku bullying sering kali memiliki masalah emosional terpendam yang merekaampiaskan kepada orang lain. Sementara korban membutuhkan pemulihan trauma. Konseling adalah jembatan untuk memutus siklus ini.
Dengan bantuan profesional, akar masalah dapat digali dan diselesaikan tanpa menghakimi, berorientasi pada pemulihan mental jangka panjang bagi kedua belah pihak.
10. Galakkan Kampanye Anti-Bullying Secara Masif

Lingkungan yang abai adalah lahan subur bagi bullying. Oleh karena itu, sekolah dan komunitas wajib melakukan kampanye anti-bullying secara konsisten, bukan hanya saat ada kasus viral.
Edukasi yang terus-menerus akan membentuk mindset kolektif bahwa perundungan adalah tindakan primitif yang tidak bisa ditoleransi. Kampanye ini harus menyentuh seluruh elemen, mulai dari siswa, guru, staf keamanan, hingga orang tua.
11. Bentuk Tim Penanganan Terpadu

Sekolah atau institusi tidak bisa bekerja sendirian. Diperlukan sebuah sistem pendukung (support system) yang formal. Sekolah idealnya memiliki Satgas atau tim khusus penanganan bullying.
Tim ini terdiri dari gabungan guru, konselor, dan perwakilan orang tua. Dengan adanya tim ini, setiap laporan yang masuk akan direspons dengan cepat, terstandarisasi, dan tidak ada yang diabaikan. Ini memberikan rasa aman bagi korban untuk “speak up” karena mereka tahu ada sistem yang melindungi mereka.
12. Tegakkan Aturan dan Sanksi yang Mendidik

Terakhir, namun sangat krusial: Penegakan Aturan. Cara menghentikan bullying tidak akan efektif tanpa adanya konsekuensi nyata.
Harus ada aturan tertulis yang jelas mengenai sanksi bagi pelaku perundungan. Sanksi ini tidak harus berupa hukuman fisik, melainkan sanksi yang memberikan efek jera sekaligus edukasi.
Transparansi aturan membuat siapa pun berpikir dua kali sebelum melakukan perundungan. Ketika hukum ditegakkan dengan adil, budaya bullying perlahan akan terkikis dan hilang.
Menghentikan bullying bukanlah tentang siapa yang paling kuat memukul balik, melainkan tentang siapa yang paling cerdas memutus rantai kebencian. Dengan menerapkan strategi di atas, kita bisa menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi.
Ingat, diam bukan berarti pasrah. Melawan dengan kecerdasan dan ketegasan adalah bentuk perlawanan terbaik. Mari bersama-sama wujudkan lingkungan bebas bullying mulai hari ini.





