HAURGEULIS, INDRAMAYU – Gelombang protes dari masyarakat kembali melanda Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Haurgeulis pada Rabu, 10 Juni 2026. Hal ini dipicu oleh kebijakan manajemen kelistrikan yang melakukan pemadaman arus secara masif di siang bolong. Selain durasi perbaikan yang molor dari estimasi awal, warga menyayangkan sikap penyaluran informasi publik dari pihak PLN yang dinilai tidak profesional karena hanya mengandalkan fitur Story media sosial dan status WhatsApp.
Metode penyebaran informasi yang terkesan “setengah hati” ini membuat ribuan pelanggan di puluhan desa tidak mengetahui adanya rencana pemadaman. Akibatnya, masyarakat sama sekali tidak memiliki persiapan logistik rumah tangga maupun operasional usaha, seperti menyetok air bersih sebelum aliran listrik diputus secara mendadak.
Kronologi Nyata di Lapangan: Molor Hingga Jam 14:26 WIB

Berdasarkan lembar digital bertajuk “Informasi Jaringan” yang dirilis seadanya lewat Story resmi, pihak PLN Haurgeulis berdalih sedang melakukan manajemen beban terbatas. Langkah tersebut diklaim sebagai bagian dari upaya penguatan serta pemeliharaan jaringan distribusi demi menjaga keandalan sistem kelistrikan jangka panjang. Dalam estimasi awal yang tertulis, pemadaman direncanakan berlangsung selama tiga jam saja, yakni mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB.
Namun, realitas di lapangan berkata lain dan mengecewakan ekspektasi publik. Aliran listrik terputus total sejak pukul 10.18 WIB. Ketika waktu beranjak ke pukul 13.51 WIB—melewati tenggat waktu yang dijanjikan—wilayah Haurgeulis dan sekitarnya masih terpantau gelap tanpa tanda-tanda kehidupan energi listrik. Tidak ada pula kejelasan atau informasi pembaruan (update) yang disiarkan oleh petugas operasional melalui kanal utama.
Keresahan warga baru berakhir setelah jaringan interkoneksi kembali menyala secara bertahap pada pukul 14:26 WIB (02.26 siang). Meski pemadaman berlangsung sekitar empat jam, pelaksanaannya yang tepat berada di jam kerja produktif menyebabkan efek domino yang menghambat berbagai aktivitas vital masyarakat.
Cakupan Wilayah Luas: Puluhan Desa Lintas Kecamatan Terdampak
Kekecewaan warga kian berlipat ganda setelah mengetahui bahwa cakupan wilayah yang padam ternyata sangat luas, berbanding terbalik dengan narasi “terbatas” yang dikeluarkan oleh pihak PLN. Berdasarkan data manifes wilayah padam yang sempat diunggah pada story tersebut, pemadaman menyasar puluhan desa di tiga kecamatan berbeda, yaitu:
-
Kecamatan Haurgeulis: Desa Haurgeulis, Desa Wanakaya, Desa Tumaritis, Desa Cipancuh, Desa Kertanegara, Desa Mekarjati, Kubang Gading, Kebon Buah, Pilang Baleraja, Sukajati, dan area sekitarnya.
-
Kecamatan Anjatan & Sukra: Desa Kopyah, Desa Anjatan, Desa Bugis Tua, Desa Salam Darma, Desa Mangunjaya, Desa Sumbermulya, Desa Lempuyang, Desa Cilandak, serta Desa Limpas.
-
Kecamatan Gantar & Kroya: Desa Temiyang, Desa Temiyangsari, Desa Jayamulya, Desa Sidodadi, Desa Kedungdawa, Desa Drunten Wetan, Desa Drunten Kulon, Desa Pranti, Desa Wanguk, Desa Kedungwungu, Desa Cipaat, Desa Kertajaya, Desa Arjasari, serta beberapa titik di wilayah Cilege dan Cadasngampar.
Skala pemadaman yang masif ini memunculkan pertanyaan besar di kalangan pelanggan mengenai keandalan sistem transmisi utama ULP PLN Haurgeulis yang dengan mudahnya melumpuhkan setengah wilayah koordinasi dalam satu waktu bersamaan.
Metode Sosialisasi via “Story” Menuai Sorotan Tajam
Kritik paling krusial yang dilayangkan oleh warga dan netizen adalah terkait buruknya komunikasi publik dari pihak manajemen kelistrikan. Mengumumkan pemadaman listrik yang berdampak pada puluhan desa dan ribuan kepala keluarga hanya melalui format Story media sosial dinilai sangat tidak efektif dan tidak etis untuk ukuran instansi pelayanan publik.
Karakteristik konten Story yang otomatis terhapus dalam waktu 24 jam membuat pengumuman penting tersebut rentan terlewat oleh masyarakat luas. Warga mendesak agar PLN Haurgeulis memperbaiki Standard Operating Procedure (SOP) komunikasi mereka. Penyampaian informasi seharusnya dipajang secara permanen pada beranda utama (feed) media sosial, atau disalurkan secara struktural melalui surat resmi ke tingkat pemerintah kecamatan hingga ke tingkat RT/RW agar warga bisa melakukan persiapan matang.
Kerugian Sektor Perekonomian: Produsen Tahu Tempe Menjerit Kelaparan Air
Sektor ekonomi riil menjadi korban paling nyata dari ketidakpastian operasional ini. Dampak terparah dirasakan langsung oleh para pedagang perorangan dan industri rumahan, khususnya produsen tahu dan tempe yang tersebar di wilayah Cipancuh, Kubang Gading, Kopyah, hingga Mekarjati.
Siklus pembuatan tahu dan tempe sangat bergantung pada ketersediaan air bersih dalam jumlah besar. Pasokan air tersebut umumnya ditarik dari dalam tanah menggunakan mesin pompa air elektrik (sanyo). Akibat pemadaman mendadak dari pukul 10.18 WIB hingga 14.26 WIB, pasokan air bersih terhenti total selama lebih dari empat jam.
Ketiadaan air ini otomatis membuat tahap krusial, yaitu pencucian dan perendaman bahan baku kedelai, tidak dapat dilakukan. Para buruh pabrik terpaksa menganggur berjam-jam di tempat produksi tanpa kejelasan. Jadwal kerja yang seharusnya selesai di siang hari menjadi berantakan, dan proses pengolahan terpaksa diundur hingga sore hari. Imbasnya, rantai pasokan bahan pangan ke pasar-pasar tradisional terancam terlambat untuk keesokan paginya, yang berpotensi menurunkan omzet pendapatan harian mereka.
Rapor Merah Pelayanan: Seminggu Sudah Tiga Kali Padam
Rasa frustrasi masyarakat Haurgeulis tampaknya sudah mencapai titik puncaknya. Berdasarkan catatan dan keluhan warga, dalam kurun waktu satu minggu terakhir ini saja, wilayah mereka setidaknya sudah mengalami tiga kali insiden pemadaman listrik tanpa adanya nota pemberitahuan yang pasti dan transparan.
Masyarakat menuntut adanya evaluasi menyeluruh dari manajemen tingkat atas terhadap kinerja ULP PLN Haurgeulis. Publik menegaskan bahwa kalimat permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang selalu disematkan di akhir teks pengumuman tidak lagi cukup untuk mengganti kerugian materi, waktu, dan produktivitas warga yang tersita akibat pemadaman listrik yang tidak terencana dengan baik ini.





