Ketenangan pagi di kawasan Sport Center (SC) Indramayu mendadak berubah menjadi kepanikan dan duka mendalam. Seorang pria paruh baya yang sehari-harinya dikenal sebagai pedagang kecil ditemukan tidak bernyawa di salah satu bangku lapangan voli. Peristiwa penjual gulali meninggal di Indramayu ini menyita perhatian publik, bukan hanya karena lokasinya yang ramai, tetapi juga karena kisah pilu yang melatarbelakanginya.
Pada Minggu pagi, 4 Januari 2026, udara di Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Indramayu, terasa sejuk seperti biasa. Namun, di balik suasana pagi yang lengang, tersimpan cerita tragis tentang perjuangan hidup seorang perantau yang harus berakhir di bangku taman.
Kronologi Penemuan Jenazah di Lapangan Voli

Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, peristiwa ini pertama kali diketahui sekitar pukul 07.00 WIB. Saat itu, aktivitas di Sport Center belum terlalu padat. Saksi mata, Riski Wijaya, menjadi orang pertama yang menyadari adanya kejanggalan.
Saat itu, Riski hendak buang air kecil di area sekitar lapangan voli pantai. Matanya tertuju pada sosok pria yang tampak tertidur pulas di atas bangku panjang. Posisi tidurnya terlihat tenang, namun naluri Riski mengatakan ada sesuatu yang tidak beres karena tubuh pria tersebut sama sekali tidak bergerak meski suasana di sekitar mulai bising.
Merasa curiga dan khawatir, Riski tidak berani mendekat sendirian. Ia segera memanggil dua rekannya, Eman Sulaeman dan Karyana, untuk bersama-sama memeriksa kondisi pria tersebut. Kecurigaan mereka terbukti benar. Saat didekati dan diperiksa, tubuh pria itu sudah kaku dan sedingin es. Tidak ada hembusan napas maupun denyut nadi yang teraba.
Identitas Korban dan Latar Belakang
Setelah pihak kepolisian tiba di lokasi, identitas korban akhirnya terungkap. Korban diketahui bernama Taslim, seorang pria berusia 51 tahun. Ia bukan warga asli setempat, melainkan seorang perantau yang berasal dari Desa Dempet, Kecamatan Dempet, Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
Taslim diketahui mengadu nasib di Indramayu dengan berjualan gulali, jajanan tradisional yang kini mulai jarang ditemui. Kehadirannya di Sport Center bukanlah untuk berolahraga, melainkan mencoba mencari nafkah di tengah keramaian pengunjung kawasan olahraga tersebut.
Curhat Pilu: Dua Hari Tidak Makan
Fakta yang paling menyayat hati dari kasus penjual gulali meninggal di Indramayu ini adalah kondisi terakhir korban sebelum menghembuskan napas terakhir. Seorang saksi bernama Nasarudin memberikan keterangan yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa iba.
Nasarudin mengaku sempat bertemu dengan Taslim sekitar 15 hari sebelumnya di area pasar malam Sport Center. Saat itu, Taslim terlihat bersemangat untuk berjualan gulali demi menyambung hidup. Namun, pertemuan terakhir mereka tiga hari sebelum kejadian menunjukkan kondisi yang berbeda.
“Tiga hari sebelum ditemukan meninggal, korban sempat mengeluhkan kondisinya. Ia bercerita bahwa dirinya sudah dua hari tidak makan,” ungkap saksi yang memberikan gambaran betapa beratnya beban ekonomi yang dipikul korban.
Hal ini memicu dugaan kuat bahwa kondisi fisik korban melemah drastis akibat kurangnya asupan makanan, ditambah dengan kemungkinan adanya penyakit yang diderita namun tidak terobati.
Tindakan Cepat Kepolisian dan Hasil Visum
Mendapatkan laporan warga, jajaran Polsek Indramayu merespons dengan cepat. Sekitar pukul 07.30 WIB, petugas kepolisian bersama Unit Inafis Polres Indramayu tiba di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Mereka langsung memasang garis polisi (police line) untuk mensterilkan lokasi dari kerumunan warga yang mulai penasaran.
Kapolres Indramayu, AKBP Mochamad Fajar Gemilang, melalui Kasi Humas Polres Indramayu, AKP Tarno, memberikan konfirmasi resmi terkait penyebab kematian korban. Jenazah Taslim dievakuasi ke RSUD Indramayu untuk menjalani pemeriksaan luar (visum).
“Dari hasil pemeriksaan medis yang dilakukan oleh dokter jaga di RSUD, kami pastikan tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Baik itu akibat benda tajam maupun benda tumpul,” jelas AKP Tarno kepada awak media.
Pernyataan ini menepis segala spekulasi liar mengenai dugaan tindak pidana kriminal. Polisi menyimpulkan bahwa penyebab utama kematian adalah faktor kesehatan atau sakit, yang diperparah dengan kondisi fisik yang lemah.
Keluarga Ikhlas dan Menolak Otopsi

Pihak kepolisian telah berhasil menghubungi keluarga Taslim di Demak, Jawa Tengah. Mendengar kabar duka tersebut, pihak keluarga menyatakan telah menerima kepergian Taslim sebagai musibah dan takdir Tuhan.
Keluarga korban juga memutuskan untuk tidak melanjutkan proses otopsi bedah mayat. Mereka menyerahkan penanganan jenazah kepada pihak kepolisian untuk dipulangkan dan dimakamkan secara layak di kampung halamannya.
Refleksi Sosial: Peduli pada Sekitar
Kejadian penjual gulali meninggal di Indramayu ini menjadi tamparan keras bagi kepekaan sosial kita. Di tengah hiruk-pikuk kota dan keramaian tempat umum seperti Sport Center, ternyata ada individu yang berjuang sendirian melawan lapar dan sakit tanpa ada yang menyadari hingga terlambat.
Kasus ini mengingatkan kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Tegur sapa sederhana atau perhatian kecil kepada mereka yang terlihat membutuhkan, mungkin bisa menyelamatkan satu nyawa atau setidaknya meringankan beban mereka.
Semoga almarhum Taslim mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi masyarakat Indramayu dan sekitarnya.





