HaurgeulisMedia.co.id – Industri perfilman Korea Selatan telah mengukuhkan posisinya sebagai kekuatan global, memukau penonton di seluruh dunia dengan karya-karyanya yang inovatif dan menghibur. Popularitas serial dan film seperti Parasite dan Squid Game, yang berhasil meraih penghargaan bergengsi dan pengakuan internasional, seolah melukiskan gambaran kemewahan dan kesuksesan yang gemerlap.
Namun, di balik layar kilau tersebut, tersembunyi realitas yang jauh berbeda. Terdapat sisi-sisi gelap yang jarang terekspos ke publik, menyingkap tantangan dan kesulitan yang dihadapi para pelaku industri ini. HaurgeulisMedia.co.id akan mengupas lebih dalam tiga aspek yang jarang dibicarakan mengenai industri perfilman Korea Selatan.
1. Aktor dan Aktris yang Masih Berjuang Secara Finansial
Banyak penonton mungkin berasumsi bahwa kesuksesan sebuah proyek akting secara otomatis berarti kekayaan instan bagi para aktor dan aktrisnya. Namun, kenyataannya seringkali jauh dari gambaran tersebut.
Bahkan setelah meraih popularitas melalui peran-peran penting, beberapa aktor dan aktris masih harus menjalani pekerjaan paruh waktu untuk menopang kehidupan finansial mereka. Hal ini menjadi fakta yang mengejutkan banyak pihak.
Salah satu contoh yang mencuat adalah aktor Jung Sung Il, yang namanya kian dikenal luas berkat perannya dalam serial Netflix The Glory. Sebelum meraih pengakuan besar ini, Jung Sung Il telah membintangi berbagai drama populer lainnya, seperti Our Blues, Moonshine, Bad and Crazy, dan Birthcare Center.
Perjalanan karier Jung Sung Il dimulai dari panggung teater di usia 20-an. Ia bahkan rela menghentikan pendidikannya di bangku kuliah demi mengejar impiannya di dunia akting di Seoul. Bertahun-tahun ia berjuang tanpa ketenaran yang berarti, bertahan hidup dengan berbagai pekerjaan sampingan, termasuk menjadi sopir, petugas parkir, dan bekerja di kafe.
Menariknya, bahkan setelah The Glory mencapai kesuksesan besar, Jung Sung Il mengungkapkan dalam sebuah wawancara dengan Allkpop bahwa ia masih harus melakukan pekerjaan paruh waktu, salah satunya sebagai kurir pengiriman barang. Ia menjelaskan, “Pembayaran royalti drama saya sudah selesai, tetapi jumlahnya tidak besar atau mengubah hidup saya. Saya masih harus mencari nafkah.” Pernyataannya ini menyoroti betapa tipisnya garis antara ketenaran dan stabilitas finansial di industri ini.
2. Jam Kerja yang Berlebihan dan Melelahkan
Sisi gelap lain yang mengintai industri perfilman Korea Selatan adalah jam kerja yang ekstrem, yang tidak hanya membebani para aktor dan aktris, tetapi juga seluruh kru yang bekerja di balik layar.
Menurut laporan dari Kajomag, tekanan untuk menyelesaikan proses syuting secepat mungkin seringkali menjadi prioritas utama, terutama mengingat tingginya biaya produksi sebuah drama. Hal ini kerap kali memaksa tim produksi untuk bekerja dalam jadwal yang sangat padat.
Dalam banyak kasus, episode awal sebuah drama akan menjalani proses syuting secara bersamaan untuk mempercepat momentum. Akibatnya, banyak aktor dan aktris yang hanya bisa mendapatkan waktu tidur sekitar satu jam dalam sehari selama periode syuting intensif.
Lebih lanjut, dinamika penayangan drama yang sangat bergantung pada rating dan respons penonton dapat menyebabkan perubahan alur cerita secara mendadak. Perubahan ini seringkali membutuhkan tambahan sesi syuting, yang secara signifikan menambah jam kerja para kru dan pemain. Tidak jarang mereka harus bekerja hingga 20 jam sehari.
Kepadatan jadwal ini juga dialami oleh para staf dan kru lainnya, yang harus bekerja keras mengikuti ritme produksi yang sama ketatnya. Kondisi ini menciptakan lingkungan kerja yang sangat menuntut dan berpotensi mengorbankan kesehatan fisik dan mental para profesional di industri ini.
3. Kompleksitas dan Keterlambatan Pembayaran Gaji
Masalah pembayaran gaji aktor dan aktris di Korea Selatan juga kerap menjadi topik perbincangan yang hangat. Sistem pembayaran yang berlaku seringkali menimbulkan pertanyaan dan tantangan.
Aktor Park Jun Gyu pernah menjelaskan dalam acara Happy Together bahwa aktor dan aktris umumnya menerima bayaran penuh untuk satu episode, terlepas dari jumlah adegan yang mereka jalani. Baik itu 10 adegan atau 50 adegan, bayaran dasarnya tetap sama.
Namun, ada pula kategori aktor atau aktris yang menerima bayaran lebih rendah, yaitu ketika mereka memerankan karakter yang sudah meninggal. Situasi ini bisa berbeda jika aktor atau aktris papan atas yang memerankan karakter tersebut dan foto mereka muncul dalam sebuah adegan; dalam kasus ini, bayaran mereka bisa jauh lebih besar.
Isu keterlambatan pembayaran gaji kembali mencuat baru-baru ini terkait dengan para aktor dan aktris pendukung dalam serial drama Reverse. Melansir dari Naver, Serikat Aktivis Penyiaran Korea melaporkan bahwa meskipun drama Reverse telah dirilis melalui platform OTT Wave pada 17 April, gaji para pemain pendukung belum juga dibayarkan.
Menanggapi situasi ini, serikat tersebut mendesak perusahaan produksi untuk segera melakukan pembayaran. Mereka juga meminta organisasi terkait, seperti Kementerian Kebudayaan, Olahraga dan Pariwisata serta Badan Promosi Konten Korea, untuk mengambil langkah-langkah pengawasan yang efektif demi memastikan kelancaran proyek-proyek yang mendapatkan dukungan produksi.
Kondisi ini menyoroti bahwa di balik gemerlap industri perfilman Korea Selatan, terdapat serangkaian tantangan struktural dan operasional yang perlu mendapatkan perhatian lebih serius demi kesejahteraan para pekerja seni dan profesional di dalamnya.





