HaurgeulisMedia.co.id – Dunia politik dan masyarakat Maluku Tenggara berduka atas kepergian tragis Agrapinus Rumatora, yang lebih dikenal sebagai Nus Kei, seorang tokoh penting dan Ketua DPD Partai Golkar Maluku Tenggara. Kepergian beliau terjadi secara mendadak dan menyisakan duka mendalam, terutama mengingat kronologi kejadian yang penuh kekerasan.
Nus Kei ditemukan meninggal dunia di Bandara Karel Sadsuitubun, Langgur, pada hari Minggu, 20 April. Insiden penikaman yang merenggut nyawanya terjadi di lokasi yang seharusnya menjadi tempat aman dan ramai.
Luka-luka yang dialami Nus Kei cukup parah, mencakup bagian leher, dada, dan perut. Meskipun segera mendapat pertolongan medis di lokasi kejadian dan dilarikan ke rumah sakit terdekat, kondisinya yang kritis tidak dapat tertolong lagi. Beliau dinyatakan meninggal dunia setelah berjuang mempertahankan hidupnya.
Respons cepat dari pihak kepolisian patut diapresiasi. Kurang dari dua jam setelah kejadian mengerikan tersebut, dua terduga pelaku berhasil diringkus. Identitas kedua pelaku adalah Hendraikus Rahayaan, berusia 28 tahun, dan Finansius Ulukyanan, berusia 36 tahun.
Penyelidikan awal yang dilakukan oleh aparat kepolisian segera mengungkap motif di balik tindakan keji ini. Kabid Humas Polda Maluku, Kombes Pol Rositah Umasugi, menyatakan bahwa motif utama dari penikaman tersebut adalah dendam yang mendalam.
“Untuk motif berdasarkan hasil pemeriksaan adalah balas dendam,” ujar Kombes Pol Rositah Umasugi saat memberikan keterangan pers, Senin (20/4).
Lebih lanjut, Kombes Pol Rositah Umasugi menjelaskan bahwa kedua pelaku memiliki alasan kuat untuk menyimpan dendam terhadap almarhum Nus Kei. Mereka menduga almarhum terlibat sebagai otak di balik kasus pembunuhan yang terjadi pada tahun 2020 di kawasan Kalimalang, Bekasi.
Menurut keterangan para pelaku, korban Nus Kei diduga kuat sebagai dalang di balik pembunuhan saudara kandung mereka, yang bernama Fernansius Wadanubun alias Dani Holat. Peristiwa tragis tersebut terjadi pada tahun 2020 di area samping apartemen Metro Galaxy, Kalimalang, Bekasi. Dendam inilah yang kemudian mendorong kedua pelaku untuk melakukan aksi balas dendamnya.
Tak lama setelah penangkapan, foto-foto kedua terduga pelaku beredar luas di publik. Dalam foto tersebut, terlihat kedua pelaku mengenakan pakaian kasual, masing-masing kaus oblong berwarna hitam dan putih. Tangan mereka terlihat terborgol menggunakan kabel ties, sementara petugas kepolisian mengapit mereka. Foto ini memberikan gambaran visual mengenai penangkapan pelaku penikaman Nus Kei.
Kabar duka atas meninggalnya Nus Kei juga sampai ke telinga petinggi Partai Golkar. Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bapak Bahlil Lahadalia, menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas kepergian almarhum. Beliau merasa kehilangan seorang rekan dan kader partai yang berdedikasi.
“Ya kami turut berduka atas meninggalnya Ketua DPD Golkar Maluku Tenggara, saudara saya, Bang Nus. Dan semoga diterima oleh Allah SWT,” ucap Bahlil Lahadalia dengan nada prihatin, saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada hari Senin (20/4).
Bapak Bahlil Lahadalia juga menegaskan bahwa DPP Partai Golkar akan mengambil langkah-langkah konkret untuk mengawal proses hukum yang sedang berjalan. Beliau telah memerintahkan Sekretaris Jenderal untuk memberikan pendampingan hukum demi memastikan keadilan ditegakkan.
“Dan DPP Golkar, sudah saya meminta kepada Sekjen untuk mendampingi dalam rangka melakukan proses sampai tuntas. Kita serahkan kepada para penegak hukum,” tegas Bahlil.
Lebih lanjut, Bahlil Lahadalia secara tegas meminta agar kasus penikaman yang merenggut nyawa Nus Kei ini diusut tuntas oleh aparat penegak hukum tanpa pandang bulu. Harapannya, pelaku akan mendapatkan hukuman setimpal dan keadilan dapat ditegakkan bagi almarhum serta keluarga yang ditinggalkan.
Kepergian Nus Kei menyisakan luka dan pertanyaan besar. Kasus ini menjadi pengingat akan kompleksitas hubungan antarmanusia dan dampak buruk dari dendam yang berkepanjangan. Pihak berwenang diharapkan dapat mengungkap seluruh tabir misteri di balik peristiwa tragis ini, demi terciptanya ketenangan dan keadilan di masyarakat.

