Penemuan Ilmiah Menguak Rahasia Perbedaan Suhu Ekstrem di Permukaan Bulan

Penemuan Ilmiah Menguak Rahasia Perbedaan Suhu Ekstrem di Permukaan Bulan

HaurgeulisMedia.co.id – Para ilmuwan akhirnya berhasil menyajikan bukti empiris perdana bahwa kawasan tersembunyi Bulan memiliki suhu yang jauh lebih rendah dibandingkan sisi yang menghadap Bumi. Penemuan ini dipublikasikan pada Senin, 22 September 2025, dalam jurnal Nature Geoscience.

Berdasarkan laporan Gizmodo, studi ini menelaah sampel batuan yang berhasil dikumpulkan oleh wahana antariksa Chang’e 6 milik Tiongkok pada tahun 2024. Ini merupakan material pertama yang pernah dibawa kembali dari sisi jauh Bulan.

Kelompok peneliti yang diketuai oleh Profesor Yang Li dari University College London dan Peking University mengidentifikasi bahwa material lava purba di sisi jauh Bulan terbentuk pada temperatur sekitar 1.100 derajat Celsius. Angka ini tercatat 100 derajat lebih sejuk ketimbang sampel serupa dari sisi dekat. “Perbedaan temperatur yang signifikan antara bagian dalam Bulan yang dekat dan yang jauh telah lama diduga, namun riset kami memberikan konfirmasi pertama dengan memanfaatkan sampel asli,” ujar Li.

Hasil penemuan ini didapat dari pengujian 300 gram tanah Bulan berusia 2,8 miliar tahun yang diambil dari Cekungan Kawah Kutub Selatan-Aitken di sisi jauh. Para peneliti menerapkan berbagai metode, termasuk analisis kandungan mineral, simulasi komputasi, serta pencocokan dengan data satelit dari kedua belahan Bulan.

Analisis menunjukkan bahwa disparitas temperatur ini kemungkinan masih berlangsung hingga kini. Faktor utama penyebabnya adalah distribusi elemen radioaktif penghasil panas, seperti uranium, thorium, dan kalium, yang tidak merata di dalam inti Bulan.

Baca juga: Patung Manusia 12.000 Tahun Ditemukan di Dinding Kuil Tertua Göbekli Tepe

Elemen-elemen ini, bersama fosfor dan unsur tanah jarang, dikategorikan sebagai “KREEP”. Kandungannya lebih melimpah di sisi dekat, sementara sangat terbatas di sisi jauh.

Perbedaan antara kedua hemisfer Bulan ini telah lama menjadi teka-teki bagi para ilmuwan. Sisi dekat didominasi oleh dataran luas berwarna gelap akibat aktivitas vulkanik purba yang meliputi 31% permukaannya. Sebaliknya, hanya 1% dari sisi jauh yang menunjukkan jejak aktivitas vulkanik serupa.

Lebih lanjut, sisi jauh juga memiliki lapisan kerak yang lebih tebal, pegunungan menjulang, dan kerapatan kawah yang jauh lebih tinggi. Sejumlah teori diajukan untuk menjelaskan ketidaksimetrisan ini. Salah satunya, tabrakan asteroid raksasa di sisi jauh kemungkinan telah memindahkan material padat yang kaya akan unsur radioaktif ke sisi dekat.

Alternatif lain, Bulan mungkin pernah berbenturan dengan satelit sekunder yang lebih kecil di awal pembentukannya. Atau, gaya tarik gravitasi Bumi bisa saja memanaskan sisi dekat secara lebih intens.

Menurut Mirage News, penelitian ini memberikan pandangan berharga seiring persiapan badan antariksa internasional untuk misi eksplorasi Bulan berikutnya. NASA, melalui program Artemis, menargetkan area kutub selatan Bulan, sebuah wilayah yang diyakini menyimpan jejak paling kentara dari perbedaan termal purba ini.

Dengan adanya bukti baru ini, pemahaman manusia tentang perkembangan Bulan semakin mendalam, sekaligus membuka jalan bagi investigasi lebih lanjut mengenai pergerakan panas pada objek langit terdekat Bumi ini.

Pos terkait