HaurgeulisMedia.co.id – Kabar mengejutkan datang dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) yang baru saja dilanda aksi pencurian. Sebanyak 13 bilah gamelan jenis demung dilaporkan hilang, menambah daftar institusi yang menjadi sasaran kejahatan serupa. Insiden ini pertama kali mencuat ke publik melalui unggahan dalang kondang, Sigid Ariyanto, di media sosialnya.
Dalam cuitannya pada Senin, 20 April, Sigid Ariyanto mengungkapkan keprihatinannya. Ia menulis, “Ketika semua fokus di auditorium acara pengukuhan Profesor di Auditorium UNNES. Sore ini ada kabar gamelan wilahan ‘Demung’ gamelan Gambang Semarang milik UNNES hilang, menyusul ISI Yogja, ISI Solo, UGM.” Pernyataan ini sontak menimbulkan kekhawatiran dan pertanyaan mengenai keamanan aset budaya di lembaga pendidikan tinggi.
Kasus Pencurian yang Menggemparkan
Tak lama setelah kabar tersebut beredar, Kepala UPT Humas Unnes, Rahmat Petuguran, membenarkan adanya pencurian tersebut. Ia menjelaskan bahwa 13 bilah gamelan demung yang hilang tersebut merupakan bagian dari koleksi Gamelan Gambang Semarang milik Unnes dan tersimpan di Gedung B7, yang merupakan Laboratorium Seni Musik Fakultas Bahasa dan Seni.
“Benar bahwa Unnes kehilangan 13 bilah demung yang tersimpan di Gedung B7 (Laboratorium Seni Musik Fakultas Bahasa dan Seni),” ujar Rahmat pada Selasa, 21 April, membenarkan informasi yang beredar.
Riwayat Gamelan dan Nilai Budaya yang Hilang
Kehilangan gamelan bukan sekadar kehilangan benda mati. Gamelan, sebagai warisan budaya tak benda Indonesia, memiliki nilai sejarah, seni, dan spiritual yang mendalam. Gamelan Gambang Semarang sendiri merupakan salah satu kekayaan seni musik tradisional yang unik dari Jawa Tengah. Alat musik ini biasanya digunakan dalam berbagai upacara adat, pertunjukan seni, hingga sebagai media pembelajaran di perguruan tinggi seni.
Setiap bilah gamelan, terutama demung yang merupakan salah satu instrumen melodi utama dalam ansambel gamelan, dibuat dengan presisi tinggi. Proses pembuatannya membutuhkan keahlian khusus dari para empu gamelan, yang seringkali merupakan warisan turun-temurun. Nilai satu set gamelan, apalagi dengan jumlah 13 bilah demung yang hilang, bisa sangat fantastis, tidak hanya secara materiil namun juga imateriil.
Pencurian gamelan seperti ini bukan kali pertama terjadi. Sebelumnya, institusi seni ternama seperti ISI Yogyakarta, ISI Solo, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) juga pernah mengalami kejadian serupa. Hal ini menunjukkan adanya pola dan kemungkinan jaringan pencuri yang mengincar aset-aset budaya bernilai tinggi ini. Pertanyaannya, mengapa aset-aset berharga ini tidak memiliki penjagaan yang memadai?
Upaya Penyelidikan dan Pengumpulan Bukti
Menyikapi insiden ini, pihak Unnes menyatakan sedang melakukan pendalaman dan pengumpulan bukti-bukti yang ada. Rahmat Petuguran menambahkan bahwa pihak universitas sedang mengumpulkan bukti internal, termasuk rekaman dari kamera pengawas (CCTV), sebagai bahan laporan kepada pihak berwajib. Langkah ini krusial untuk membantu proses identifikasi pelaku dan pengembalian aset yang dicuri.
Proses penyelidikan yang melibatkan CCTV diharapkan dapat memberikan petunjuk visual mengenai kapan, bagaimana, dan siapa saja yang terlibat dalam aksi pencurian ini. Keterlibatan pihak kepolisian sangat diharapkan untuk menindaklanjuti temuan dan membawa para pelaku ke meja hijau. Selain itu, kerjasama antar institusi seni dan penegak hukum mungkin perlu ditingkatkan untuk mencegah terulangnya kasus serupa di masa mendatang.
Dampak dan Implikasi Lebih Luas
Pencurian gamelan ini tidak hanya merugikan Unnes secara materiil, tetapi juga berdampak pada kelangsungan kegiatan akademik dan seni di Fakultas Bahasa dan Seni. Mahasiswa dan dosen yang menggunakan gamelan tersebut untuk latihan, pertunjukan, atau penelitian akan terganggu. Hilangnya instrumen ini bisa menghambat proses regenerasi seniman gamelan dan pelestarian seni tradisional.
Lebih jauh lagi, kejadian ini menimbulkan kekhawatiran tentang keamanan aset budaya di Indonesia secara umum. Banyak situs bersejarah, museum, dan institusi pendidikan yang menyimpan koleksi seni dan budaya berharga, namun seringkali luput dari perhatian dalam hal pengamanan. Kasus ini seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi kembali standar keamanan aset-aset budaya di seluruh Indonesia.
Perlunya Peningkatan Keamanan Aset Budaya
Insiden di Unnes kembali membuka mata kita tentang pentingnya perlindungan terhadap warisan budaya. Berbagai langkah preventif perlu segera diambil, di antaranya:
- Pemasangan Sistem Keamanan yang Canggih: Selain CCTV, alarm keamanan, sensor gerak, dan sistem pengawasan lainnya perlu dipertimbangkan.
- Penjagaan yang Intensif: Terutama di area penyimpanan aset berharga, penjagaan oleh personel keamanan yang terlatih harus ditingkatkan, baik pada jam operasional maupun di luar jam kerja.
- Inventarisasi dan Penandaan Aset: Setiap aset budaya harus terinventarisasi dengan baik, termasuk foto, deskripsi, dan nomor identifikasi unik. Ini penting untuk memudahkan identifikasi jika terjadi kehilangan.
- Edukasi dan Kesadaran: Seluruh civitas akademika dan staf perlu diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga aset budaya dan melaporkan setiap aktivitas mencurigakan.
- Kerja Sama dengan Pihak Berwajib: Membangun komunikasi yang baik dengan kepolisian dan instansi terkait lainnya untuk mendapatkan saran dan bantuan dalam pengamanan aset.
Harapan ke Depan
Kasus pencurian gamelan di Unnes ini adalah pengingat keras bahwa kelalaian dalam menjaga aset budaya bisa berakibat fatal. Pihak kepolisian diharapkan dapat segera mengungkap kasus ini dan menangkap para pelaku. Semoga gamelan demung yang hilang dapat segera ditemukan dan dikembalikan ke tempatnya semula, sehingga kegiatan seni dan budaya di Unnes dapat kembali berjalan lancar tanpa hambatan.
Pihak universitas juga diharapkan dapat menjadikan insiden ini sebagai pelajaran berharga untuk memperketat sistem keamanan, demi melindungi kekayaan budaya bangsa yang tak ternilai harganya. Gamelan bukan sekadar alat musik, melainkan cerminan jiwa dan peradaban bangsa yang harus dijaga kelestariannya untuk generasi mendatang.





