Fakta Ilmiah: Suara Horeg 130 dB Berisiko Merusak Pendengaran

Fakta Ilmiah: Suara Horeg 130 dB Berisiko Merusak Pendengaran

HaurgeulisMedia.co.id – Tren Sound Horeg belakangan ini menjadi topik hangat di Indonesia. Mulai dari pernyataan resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI), penghentian di beberapa wilayah, hingga perselisihan antarwarga yang mendukung dan menentang kegiatan tersebut. Bahkan, dilaporkan adanya intimidasi terhadap seorang warga Kediri setelah menyatakan keberatannya terhadap penyelenggaraan Sound Horeg.

Tingkat suara yang dihasilkan oleh Sound Horeg dikabarkan dapat mencapai 130 desibel (dB), yang dianggap berisiko bagi kesehatan organ pendengaran manusia.

Bahaya Suara Berintensitas Tinggi bagi Pendengaran

Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD), paparan suara di atas 120 dB dapat menimbulkan rasa tidak nyaman bahkan mengakibatkan kerusakan permanen pada telinga.

NIDCD juga menerangkan bahwa suara dengan intensitas sangat tinggi semacam ini dapat memicu gangguan pendengaran yang diakibatkan oleh kebisingan (Noise-Induced Hearing Loss/NIHL).

Referensi dari DecibelPro mengindikasikan bahwa rentang respons pendengaran manusia normal terhadap suara adalah dari 0 dB hingga kira-kira 120-130 dB. Akan tetapi, paparan pada level puncak ini sangatlah membahayakan.

Perdebatan Mengenai Sound Horeg

Dengan volume suara yang bisa mencapai 130 dB, Sound Horeg termasuk dalam kategori kebisingan ekstrem yang membahayakan pendengaran. Beberapa daerah di Indonesia telah mengambil tindakan tegas dengan melarang kegiatan ini.

Rekomendasi MUI juga memperkuat larangan tersebut dengan mempertimbangkan aspek kesehatan dan ketenangan publik.

Perselisihan sosial juga timbul akibat perbedaan pandangan antara para pengagum Sound Horeg yang memandangnya sebagai bentuk hiburan, dengan pihak yang menilai kegiatan ini mengganggu kedamaian lingkungan dan mengancam kesehatan.

Insiden di Kediri yang melibatkan ancaman terhadap warga yang menolak Sound Horeg semakin memperkeruh suasana.

Baca juga: Memori Kuantum Alam Semesta: Energi Gelap Tak Lagi Konstan

Para pakar merekomendasikan pemakaian penyumbat telinga atau menjaga jarak dari sumber suar

Pos terkait