Angin Bumi’ Ternyata Penyebab Karat di Permukaan Bulan

Angin Bumi’ Ternyata Penyebab Karat di Permukaan Bulan

HaurgeulisMedia.co.id – Misteri mengenai adanya karat di permukaan Bulan akhirnya menemui titik terang berkat penelitian terbaru. Para ilmuwan dari Macau University of Science and Technology telah mengungkap bahwa oksigen yang berasal dari atmosfer Bumi mampu melakukan perjalanan sejauh 239.000 mil melintasi ruang angkasa. Perjalanan panjang oksigen ini ternyata menjadi pemicu terbentuknya karat pada permukaan Bulan.

Temuan ini, yang dipublikasikan dalam laporan Geophysical Research Letters bulan ini, menjadi bukti eksperimental pertama yang kuat untuk fenomena yang dikenal sebagai “Earth wind”. Fenomena ini menjelaskan bagaimana reaksi kimia dapat terjadi di Bulan, sesuatu yang sebelumnya sulit dipahami oleh komunitas ilmiah.

Bacaan Lainnya

Dipimpin oleh ilmuwan planet Ziliang Jin, tim peneliti tersebut melakukan simulasi kondisi permukaan Bulan di dalam laboratorium. Mereka melakukan penembakan ion hidrogen dan oksigen berenergi tinggi terhadap mineral yang kaya akan zat besi, yang telah diketahui keberadaannya di Bulan.

Hasil dari eksperimen laboratorium ini memberikan gambaran yang jelas. Ion oksigen terbukti mampu mengoksidasi berbagai komponen yang ada di regolith Bulan, seperti besi logam, besi sulfida, dan ilmenit. Proses oksidasi inilah yang kemudian membentuk hematit, yang dalam istilah ilmiah dikenal sebagai karat.

Baca juga: H. Tarman Kuwu Santing: Idul Adha Ajarkan Keikhlasan & Cinta Tertinggi

“Temuan kami memberikan penjelasan yang praktis mengenai bagaimana hematit dapat terbentuk dan tersebar di permukaan Bulan,” demikian para peneliti menyatakan dalam studi mereka yang berjudul Earth wind-driven formation of hematite on the lunar surface.

Yang lebih menarik lagi, tim peneliti juga menemukan peran ion hidrogen berenergi tinggi dari ‘Earth wind’. Ion hidrogen ini ternyata memiliki kemampuan untuk mereduksi hematit kembali menjadi besi logam. Penemuan ini memberikan pemahaman baru mengenai mengapa pembentukan karat di Bulan sangat bergantung pada tingkat energi dan rasio partikel yang berhasil mencapai permukaannya.

Fenomena karat di Bulan ini sempat menjadi teka-teki besar bagi komunitas ilmiah ketika misi Chandrayaan-1 milik India melaporkan deteksi hematit di dekat kutub Bulan pada tahun 2020. Saat itu, penemuan tersebut dianggap sangat tidak biasa, mengingat karat umumnya membutuhkan keberadaan air dan oksigen, dua elemen yang sangat langka di Bulan.

Shuai Li, seorang ilmuwan planet dari University of Hawaii yang memimpin tim penemu hematit pada tahun 2020, menyambut baik penelitian terbaru ini. Ia menyebutnya sebagai “eksperimen yang hebat” dan mengungkapkan bahwa ia memang sudah menduga oksigen dari Bumi bisa menjadi kunci utama terbentuknya karat di Bulan.

Proses ‘Earth wind’ ini diperkirakan terjadi sekitar lima hari setiap bulannya. Periode ini terjadi ketika posisi Bumi berada di antara Matahari dan Bulan. Selama waktu tersebut, partikel-partikel yang berasal dari Matahari terhalang, sementara itu, nitrogen, hidrogen, dan oksigen dari lapisan atmosfer atas Bumi memiliki kesempatan untuk mencapai permukaan Bulan.

Laporan dari Notebookcheck menggarisbawahi bahwa penelitian ini menunjukkan adanya ikatan geokimia yang jauh lebih kuat antara Bumi dan Bulan dibandingkan dengan perkiraan sebelumnya. Hal ini mengindikasikan bahwa Bulan secara efektif berfungsi sebagai semacam arsip geologis yang menyimpan jejak interaksi jangka panjangnya dengan Bumi.

Temuan ini juga diprediksi akan memberikan dampak signifikan terhadap perencanaan misi eksplorasi Bulan di masa mendatang. Pemahaman yang lebih mendalam mengenai proses pembentukan karat dan pengaruh ‘Earth wind’ dapat memengaruhi desain peralatan yang akan digunakan dalam misi-misi tersebut, khususnya dalam hal ketahanan terhadap proses oksidasi di lingkungan Bulan.

Lebih jauh lagi, menurut publikasi di Nature, penemuan ini membuka perspektif baru yang menunjukkan bahwa Bumi dan Bulan memiliki hubungan yang jauh lebih erat dari sekadar tarikan gravitasi. Dengan adanya bukti ilmiah yang baru ini, para ilmuwan semakin yakin bahwa Bulan menyimpan catatan sejarah interaksi dengan Bumi yang dapat memberikan wawasan berharga untuk memahami evolusi sistem tata surya kita secara keseluruhan.

Pos terkait