HaurgeulisMedia.co.id – Dalam lanskap ekonomi global yang penuh ketidakpastian, terutama terkait fluktuasi harga energi, Indonesia menunjukkan ketangguhan yang patut diperhitungkan. Sebuah laporan terbaru dari lembaga keuangan ternama, JP Morgan, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang paling resilien terhadap guncangan harga minyak dan gas global.
Laporan yang bertajuk “Pandora’s Bog: the global energy shock of 2026” ini, dirilis pada Maret 2026, menganalisis sejauh mana sebuah negara dapat bertahan dari lonjakan harga energi internasional. JP Morgan mengukur ketahanan ini melalui faktor “insulation” atau perlindungan yang dimiliki oleh masing-masing negara.
Faktor penentu ketahanan energi ini mencakup berbagai aspek krusial. Di antaranya adalah proporsi penggunaan energi terbarukan dan energi nuklir dalam bauran energi nasional. Selain itu, penting pula sejauh mana suatu negara bergantung pada produksi energi fosil domestik.
Menariknya, berdasarkan grafik yang disajikan dalam laporan tersebut, Indonesia menempati posisi kedua dalam daftar negara dengan tingkat ketahanan tertinggi. Peringkat ini hanya kalah dari Afrika Selatan. Hal ini menunjukkan bahwa strategi energi yang diterapkan Indonesia telah memberikan bantalan yang signifikan.
Ketahanan Indonesia, secara lebih rinci, ditopang oleh dominasi penggunaan batu bara sebagai sumber energi domestik. Selanjutnya, kontribusi gas bumi dari produksi dalam negeri juga turut memperkuat posisi Indonesia. Energi terbarukan, meskipun terus dikembangkan, masih berada di urutan ketiga dalam menopang ketahanan energi dari produksi domestik.
Selain Indonesia, beberapa negara lain juga menunjukkan tingkat ketahanan yang relatif tinggi. Dalam sepuluh besar, terdapat China, Uzbekistan, Amerika Serikat, Australia, Swedia, Pakistan, Rumania, dan Peru. Keberadaan negara-negara ini dalam daftar tersebut mencerminkan keberagaman strategi energi yang efektif.
Sementara itu, di sisi lain, laporan ini juga mengidentifikasi negara-negara yang berada di sepuluh posisi terakhir dengan tingkat ketahanan energi terendah. Negara-negara tersebut antara lain Italia, Belgia, Irlandia, Jepang, Korea Selatan, Filipina, Belarus, Maroko, Taiwan, dan Singapura. Posisi ini mengindikasikan kerentanan yang lebih besar terhadap fluktuasi harga energi global.
Temuan JP Morgan ini memberikan gambaran penting bagi para pembuat kebijakan di Indonesia. Penguatan kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber daya domestik, baik fosil maupun terbarukan, terbukti menjadi kunci dalam menghadapi volatilitas pasar energi global. Dengan terus mengoptimalkan potensi energi dalam negeri, Indonesia dapat semakin kokoh dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.





