Bulan suci Ramadan sudah di depan mata! Berdasarkan ketetapan, umat Muslim bakal mulai menjalankan ibadah puasa pada Kamis, 19 Februari 2026. Suasana persiapan mulai terasa, dari mulai stok kurma di supermarket sampai jadwal bukber yang sudah mulai penuh di grup WhatsApp.
Tapi, pernah nggak sih terlintas di pikiran kamu: “Kok kayaknya jadwal puasa tiap tahun maju terus ya?” Kalau diingat-ingat, beberapa tahun lalu kita masih puasa di bulan April, lalu Maret, dan sekarang sudah masuk ke bulan Februari.
Jujur sih, fenomena ini sering bikin kita bertanya-tanya, apakah ada “error” di kalender kita? Jawabannya tentu nggak. Ada penjelasan ilmiah dan astronomis yang seru banget buat dibahas. Nah, biar nggak makin penasaran, yuk kita bongkar alasannya!
Duel Matahari vs Bulan: Alasan Utama Tanggal Puasa Bergeser

Penyebab utama kenapa pelaksanaan Ramadan selalu maju sekitar 10 sampai 12 hari setiap tahunnya adalah karena perbedaan sistem kalender yang kita gunakan. Di Indonesia dan dunia internasional, kita menggunakan kalender Masehi untuk urusan administrasi, tapi umat Muslim menggunakan kalender Hijriah untuk urusan ibadah.
Kalender Masehi (Solar Calendar)
Kalender Masehi itu patokannya adalah matahari. Bumi kita ini butuh waktu sekitar 365 sampai 366 hari untuk sekali putaran mengelilingi matahari. Itulah yang kita sebut satu tahun Masehi.
Kalender Hijriah (Lunar Calendar)
Nah, kalau kalender Hijriah itu patokannya adalah bulan (perputaran bulan mengelilingi bumi). Masalahnya, waktu yang dibutuhkan bulan untuk menyelesaikan 12 siklus itu cuma sekitar 354 sampai 355 hari.
Bayangin deh: ada selisih sekitar 11 hari antara si Matahari dan si Bulan. Karena umat Islam berpatokan pada bulan, otomatis tanggal 1 Ramadan di kalender Masehi bakal terus “maju” untuk mengejar selisih hari tersebut. Tapi uniknya, kalau kamu lihat di kalender Hijriah, Ramadan itu ya selalu jatuh di tanggal 1 bulan Ramadan, nggak pernah berubah!
Mengintip Dapur Penentuan Awal Puasa di Indonesia

Gak cuma soal tanggal yang maju, di Indonesia kita sering banget denger istilah “Sidang Isbat”. Kenapa sih nentuin awal puasa aja harus seramai itu? Ternyata, ada beberapa metode yang digunakan oleh pemerintah dan organisasi Islam besar seperti NU dan Muhammadiyah.
1. Metode Rukyatul Hilal (Melihat Langsung)
Metode ini biasanya dipegang kuat oleh saudara-saudara kita di Nahdlatul Ulama (NU). Caranya? Dengan melihat langsung munculnya bulan sabit tipis (hilal) di ufuk barat tepat saat matahari terbenam.
Gak sembarangan lho, petugas harus naik ke menara tinggi atau pergi ke tepi pantai dengan teropong canggih. Kalau hilal terlihat, barulah besoknya puasa.
2. Metode Hisab (Perhitungan Astronomi)
Lain lagi dengan Muhammadiyah yang menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Mereka nggak perlu nunggu teropong, tapi pakai hitungan matematis dan astronomis yang sangat akurat.
Selama posisi bulan sudah berada di atas ufuk saat matahari terbenam (biarpun cuma 0,1 derajat), Muhammadiyah sudah menetapkan itu sebagai awal bulan baru. Itulah kenapa Muhammadiyah seringkali sudah bisa mengumumkan tanggal puasa jauh-jauh hari.
3. Kriteria MABIMS (Jalan Tengah Pemerintah)
Nah, pemerintah Indonesia lewat Kementerian Agama bertindak sebagai penengah dengan menggunakan kriteria MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, Singapura). Syarat hilal dianggap sah adalah tingginya minimal 3 derajat dan elongasinya minimal 6,4 derajat. Kalau kurang dari itu, biarpun ada yang ngaku lihat, biasanya pemerintah nggak bakal mengesahkan karena dianggap terlalu rendah dan rawan salah lihat.
Ramadan 2026: Catat Tanggal Pentingnya!

Untuk tahun 2026 ini, ada sedikit perbedaan nih. Biar nggak bingung, ini rangkumannya:
-
Pemerintah & NU: Berdasarkan prediksi astronomi, awal Ramadan 1447 Hijriah kemungkinan besar jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.
-
Muhammadiyah: Sudah menetapkan awal puasa lebih awal, yaitu pada Rabu, 18 Februari 2026.
-
Lebaran (Idulfitri): Muhammadiyah juga sudah menetapkan 1 Syawal jatuh pada 20 Maret 2026.
Perbedaan itu wajar banget kok, yang penting semangat ibadahnya tetap sama, kan?
Sekarang sudah nggak bingung lagi kan kenapa Ramadan maju terus? Pergeseran ini sebenarnya berkah tersembunyi. Karena tanggalnya maju, kita jadi punya kesempatan merasakan puasa di berbagai musim dan cuaca yang berbeda dalam rentang waktu puluhan tahun. Kadang kita puasa pas lagi panas-panasnya, kadang pas lagi musim hujan yang adem.
Jujur sih, memahami astronomi di balik ibadah kita bikin kita makin sadar betapa teraturnya alam semesta ini bekerja.





