Laporan terkini mengenai kondisi infrastruktur pengairan di wilayah Kabupaten Indramayu menunjukkan adanya peningkatan aktivitas hidrologi yang signifikan. Per hari ini, Rabu, 28 Januari 2026, pukul 09.00 WIB, Waduk Cipancuh Indramayu secara resmi dinyatakan berada dalam status WASPADA. Hal ini dipicu oleh tingginya curah hujan di wilayah hulu yang menyuplai air langsung ke bendungan ini.
Waduk yang terletak di perbatasan Kecamatan Gantar dan Kecamatan Haurgeulis ini memegang peranan vital dalam sistem irigasi maupun pengendalian banjir di Indramayu Barat. Oleh karena itu, pemantauan data teknis secara real-time menjadi krusial bagi keselamatan masyarakat sekitar.
Kondisi Hidrologi dan Data Teknis Waduk
Peningkatan Tinggi Muka Air (TMA) saat ini merupakan akumulasi kiriman dari lima aliran sungai utama yang bermuara di Waduk Cipancuh, yaitu Sungai Cipancuh, Sungai Cikeludan, Sungai Cihoe, Sungai Ciseseupan, dan Sungai Cibiuk. Sinergi aliran dari lima sungai ini menyebabkan volume air meningkat drastis dalam waktu singkat.
Berdasarkan pencatatan petugas di lapangan pada pagi hari, berikut adalah rincian data teknis terkini:
-
Cuaca di Lokasi: Hujan
-
Tinggi Muka Air (TMA): 28,45 MSL
-
Volume Air: 7.419.053,71 m³
-
Tren Air: Mengalami Kenaikan
-
Status Keamanan: Waspada (Kondisi saat ini masih aman/terkendali)
Penting untuk dicatat bahwa per pukul 14.00 WIB, dilaporkan terdapat peningkatan signifikan pada aliran kiriman dari Sungai Cihoe, sehingga potensi kenaikan TMA masih akan terus berlanjut sepanjang hari jika hujan tidak kunjung reda.
Struktur Elevasi dan Ambang Batas Keamanan
Untuk memahami tingkat kerawanan, masyarakat perlu mengetahui struktur elevasi fisik Waduk Cipancuh. Struktur bangunan ini memiliki batas-batas tertentu sebelum air meluap atau membahayakan tanggul:
-
Elevasi Mercu (Ambang Pelimpah): 27,97 MMSL (setara 29,20 MDPL)
-
Elevasi Tanggul (Batas Maksimal): 31,50 MMSL (setara 32,73 MDPL)
Dengan TMA saat ini di angka 28,45 MSL, air telah melampaui ambang mercu, yang berarti air sudah mulai keluar melalui saluran pelimpah (spillway).
Rincian Debit Inflow dan Outflow
Meskipun instrumen pengukur Inflow (air masuk) secara total belum tersedia di lokasi, petugas tetap melakukan monitoring ketat pada sisi Outflow (air keluar). Berikut adalah rincian pembuangan air yang dilakukan:
1. Sektor Pengairan (Q. 1): Total air yang dialirkan untuk kebutuhan irigasi dan normalisasi adalah sebesar 2,379 m³/detik, yang terbagi melalui beberapa pintu air seperti SS Cipancuh, SS Subadra, hingga SS Lojiram.
2. Debit Limpasan (Q. Limpasan): Karena air sudah melebihi elevasi mercu, terjadi limpasan air sebesar 8,170 m³/detik. Jika ditotal dengan pengeluaran di sektor irigasi, maka Total Outflow (Keluar) saat ini mencapai 10,549 m³/detik.
Memahami Klasifikasi Warning Level (Status Keamanan)
Otoritas pengairan menggunakan standar operasional prosedur (SOP) yang ketat dalam menentukan status bahaya. Berikut adalah panduan membaca status di Waduk Cipancuh:
-
NORMAL: Jika TMA di bawah 27,97 MSL.
-
UPNORMAL: Jika TMA berada di antara 27,97 hingga 28,12 MSL.
-
WASPADA: Jika TMA berada di antara 28,12 hingga 28,86 MSL (Status Saat Ini).
-
SIAGA: Jika TMA berada di antara 28,86 hingga 29,60 MSL.
-
AWAS: Jika TMA sudah mencapai atau melebihi 29,60 MSL.
Mengingat tren air yang terus naik, masyarakat dihimbau untuk selalu memperbarui informasi dan tidak mempercayai hoaks yang beredar tanpa sumber resmi dari petugas penjaga pintu air atau BPBD setempat.
Daftar Wilayah Rawan Dampak Luapan (Mitigasi Bencana)
Sebagai bentuk mitigasi dini, masyarakat yang berada di sepanjang aliran sungai di bawah Waduk Cipancuh perlu memahami titik-titik rawan jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan debit atau gangguan pada tanggul. Berikut adalah daftar desa di beberapa kecamatan yang masuk dalam zona pemantauan:
Kecamatan Gantar & Haurgeulis: Di wilayah terdekat, Desa Situraja, Gantar, Haurkolot, hingga Desa Cipancuh dan Mekarjati menjadi titik utama yang paling awal terdampak jika debit sungai melonjak.
Kecamatan Kroya & Anjatan: Aliran air akan terus mengalir ke arah utara menuju Desa Jayamulya, Temiyang Sari, hingga memasuki wilayah Anjatan seperti Desa Wanguk, Kedungwungu, dan Lempuyang.
Kecamatan Bongas & Gabus Wetan: Cakupan dampak bisa meluas hingga wilayah Bongas (Desa Cipedang, Sidamulya) dan merembet ke desa-desa di Gabus Wetan seperti Drunten Kulon dan Drunten Wetan.
Kecamatan Kandanghaur (Titik Hilir Akhir): Sebagai wilayah muara, Kandanghaur memiliki risiko genangan yang cukup tinggi, meliputi Desa Pranti, Curug, Eretan Kulon, hingga Eretan Wetan.
Pemerintah setempat dan petugas terkait terus bersiaga 24 jam untuk melakukan langkah-langkah preventif guna memastikan kondisi tanggul tetap kokoh dan sistem drainase di wilayah hilir berfungsi dengan baik. Tetap waspada, siapkan dokumen berharga, dan ikuti arahan petugas jika kondisi meningkat ke status Siaga.
Informasi ini disusun oleh Tim Redaksi Haurgeulis Media berdasarkan postingan facebook Sanggar Rias Grandhis per 28 Januari 2026.





