HaurgeulisMedia.co.id – Ancaman krisis air akibat musim kemarau yang diprediksi kian panjang mulai menghantui sektor pertanian di wilayah Indramayu bagian barat. Kondisi ini berpotensi mengancam keberlangsungan sekitar 13.000 hektare sawah yang sangat bergantung pada pasokan air irigasi.
Menyadari urgensi situasi tersebut, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Indramayu bergerak cepat mengambil langkah-langkah antisipatif. Fokus utama adalah melakukan normalisasi dan pemeliharaan saluran irigasi untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Kepala DKPP Kabupaten Indramayu, H. Muhaemin, menjelaskan bahwa upaya ini merupakan respons terhadap prediksi musim kemarau yang lebih intens dari biasanya. “Kami tidak bisa tinggal diam melihat potensi kerugian yang akan dialami para petani. Normalisasi irigasi adalah langkah paling fundamental untuk menjaga pasokan air,” ujarnya.
Program normalisasi yang dijalankan mencakup berbagai kegiatan. Mulai dari pengerukan sedimen yang menumpuk di dasar saluran, pembersihan gulma dan sampah yang menghalangi aliran air, hingga perbaikan kerusakan minor pada struktur saluran irigasi.
Muhaemin menambahkan bahwa ratusan personel DKPP dan para penyuluh pertanian lapangan (PPL) dikerahkan untuk menyukseskan program ini. Mereka bekerja di lapangan, berkoordinasi langsung dengan kelompok tani dan perangkat desa setempat untuk mengidentifikasi titik-titik irigasi yang memerlukan perhatian prioritas.
Luas lahan yang menjadi perhatian utama adalah sekitar 13.000 hektare yang tersebar di beberapa kecamatan di Indramayu bagian barat. Wilayah ini dikenal sebagai salah satu sentra produksi padi yang krusial bagi ketahanan pangan daerah.
“Setiap tetes air sangat berharga di musim kemarau seperti ini. Kami berupaya keras agar air dari sumber-sumber yang masih ada dapat mengalir optimal hingga ke lahan-lahan petani,” tegas Muhaemin.
Selain normalisasi fisik, DKPP juga intensif melakukan sosialisasi kepada para petani mengenai pentingnya manajemen air yang bijak. Edukasi ini mencakup teknik irigasi hemat air dan anjuran untuk menanam varietas padi yang lebih tahan terhadap kekeringan jika memungkinkan.
Para petani di wilayah terdampak menyambut baik inisiatif DKPP. Salah seorang petani asal Kecamatan Patrol, Bapak Slamet, mengungkapkan rasa syukurnya. “Kami sangat khawatir dengan musim kemarau ini. Syukurlah pemerintah daerah melalui DKPP segera bertindak. Semoga irigasi lancar dan hasil panen tetap baik,” katanya.
Ancaman kekeringan lahan pertanian bukan kali ini saja terjadi di Indramayu. Namun, intensitas dan durasi kemarau yang diprediksi tahun ini menimbulkan kekhawatiran lebih besar. Oleh karena itu, langkah proaktif DKPP ini dinilai sangat krusial untuk mencegah kerugian ekonomi yang lebih luas.
Sektor pertanian di Indramayu, khususnya produksi padi, memiliki kontribusi signifikan terhadap perekonomian daerah dan ketahanan pangan nasional. Kerusakan lahan akibat kekeringan dapat berdampak pada stabilitas pasokan beras dan kesejahteraan para petani.
DKPP juga terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi ketersediaan air di seluruh wilayah Indramayu. Data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi acuan utama dalam mengambil kebijakan dan strategi penanganan.
Muhaemin menegaskan bahwa pihaknya akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait lainnya, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk Cisanggarung, untuk memastikan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan.
Upaya pemeliharaan irigasi ini diharapkan tidak hanya bersifat sementara, tetapi menjadi bagian dari program jangka panjang untuk meningkatkan resiliensi sektor pertanian Indramayu terhadap perubahan iklim dan fenomena kekeringan.
Dengan gerak cepat dan langkah terpadu, DKPP Kabupaten Indramayu bertekad untuk melindungi 13.000 hektare sawah dari ancaman kekeringan, menjaga produktivitas pertanian, dan memastikan kesejahteraan para petani tetap terjaga.





