HaurgeulisMedia.co.id – Aktivitas pemain Pokémon Go yang merekam berbagai lokasi nyata seperti taman, jalan, dan bangunan, yang awalnya dikira hanya untuk meningkatkan pengalaman bermain, ternyata memiliki implikasi yang lebih luas.
Beberapa tahun kemudian, data pemindaian lingkungan yang terkumpul dari jutaan pemain tersebut terungkap menjadi bagian integral dalam pengembangan sistem navigasi canggih yang berpotensi digunakan untuk drone militer.
Temuan mengejutkan ini diungkapkan dalam sebuah investigasi oleh surat kabar Belanda, Trouw, yang dipublikasikan pada 6 Juni. Laporan tersebut merinci bagaimana miliaran pemindaian lingkungan yang dikumpulkan melalui Pokémon Go telah berkontribusi signifikan terhadap pengembangan sistem navigasi berbasis kamera.
Menurut laporan TVP World yang dikutip oleh HaurgeulisMedia.co.id, data yang berhasil dikumpulkan dari pemain Pokémon Go selama beberapa tahun terakhir mencapai sekitar 30 miliar pemindaian lingkungan. Angka ini menjadikan basis data visual dunia nyata yang dibangun melalui aplikasi konsumen tersebut sebagai salah satu yang terbesar di dunia.
Program pengumpulan data ini sendiri dimulai pada tahun 2021. Melalui Pokémon Go, para pemain diajak untuk merekam video pendek dari berbagai lokasi di dunia nyata, termasuk taman kota, gedung-gedung, jalan, dan area publik lainnya.
Sebagai insentif atas partisipasi mereka, pemain diberikan bonus atau hadiah dalam permainan. Tanpa disadari oleh jutaan pengguna yang ikut serta, aktivitas ini secara kolektif berhasil membangun peta visual tiga dimensi dalam skala yang sangat masif.
Data visual yang terkumpul ini kemudian dimanfaatkan untuk mengembangkan teknologi yang dikenal sebagai Visual Positioning System atau VPS. VPS adalah sebuah sistem yang memungkinkan perangkat untuk menentukan posisinya secara akurat dengan cara membandingkan gambar yang ditangkap oleh kameranya dengan peta digital yang telah ada.
Salah satu keunggulan utama dari sistem VPS adalah kemampuannya untuk beroperasi secara independen dari sinyal GPS. Dalam kondisi tertentu, VPS bahkan hanya memerlukan beberapa titik referensi visual yang minim untuk dapat mengidentifikasi dan menentukan lokasinya.
Kemampuan navigasi yang presisi tanpa ketergantungan penuh pada GPS ini sangat berharga untuk berbagai aplikasi. Mulai dari mendukung operasi kendaraan otonom, robotika, hingga sistem navigasi yang krusial di area di mana sinyal GPS seringkali terganggu atau tidak tersedia.
Perjalanan data ini semakin menarik perhatian pasca perubahan signifikan dalam struktur perusahaan pengembangnya, Niantic. Pada tahun 2025, divisi gim Niantic diakuisisi oleh Scopely dalam sebuah transaksi bernilai miliaran dolar AS, sekitar 3,5 miliar dolar AS atau setara Rp56,9 triliun.
Dari akuisisi tersebut, lahir sebuah entitas baru bernama Niantic Spatial. Perusahaan ini secara khusus berfokus pada pengembangan teknologi geospasial dan kecerdasan buatan. Niantic Spatial inilah yang kemudian melanjutkan pengembangan teknologi VPS.
Sebuah laporan dari AI Weekly menyebutkan bahwa Niantic Spatial mengumumkan kemitraan strategis dengan Vantor, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pertahanan dan intelijen, pada Desember 2025. Tujuan utama kolaborasi ini adalah untuk mengintegrasikan teknologi pemetaan darat yang dimiliki Niantic Spatial dengan sistem navigasi udara milik Vantor.
Kolaborasi ini dirancang untuk mendukung operasi di wilayah-wilayah yang tidak memiliki cakupan GPS yang memadai. Hal ini membuka potensi penggunaan teknologi tersebut dalam skenario militer atau misi-misi kritis lainnya.
Menanggapi temuan ini, seorang juru bicara Niantic Spatial mengakui bahwa data pemindaian yang dikumpulkan melalui Pokémon Go memang telah digunakan untuk melatih versi awal dari model navigasi yang mereka kembangkan. Perusahaan menegaskan bahwa penggunaan data tersebut telah sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam syarat dan ketentuan layanan aplikasi.
Namun demikian, Niantic Spatial juga memberikan klarifikasi penting. Mereka menyatakan bahwa setelah proses akuisisi oleh Scopely selesai, data yang berasal dari Pokémon Go tidak lagi dibagikan kepada mereka. Sementara itu, Vantor sendiri membantah penggunaan data Pokémon Go secara langsung dalam sistem mereka.
Meskipun demikian, Vantor tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai apakah model navigasi yang mereka gunakan pernah dilatih menggunakan data tersebut di masa lalu.
Kasus ini memunculkan pertanyaan etis yang semakin relevan di era perkembangan kecerdasan buatan yang pesat. Pertanyaan mendasar yang muncul adalah, ketika pengguna memberikan data mereka untuk satu tujuan spesifik, apakah mereka benar-benar memahami dan menyetujui potensi penggunaan data tersebut di masa depan?
Profesor etika teknologi, Jeroen van den Hoven, menekankan kompleksitas persoalan ini, terutama setelah data tersebut terintegrasi ke dalam model AI. Ia menjelaskan bahwa begitu proses pelatihan model selesai, menjadi sangat sulit, bahkan hampir mustahil, untuk melacak atau membuktikan secara pasti apakah kontribusi dari data spesifik masih menjadi bagian integral dari sistem yang dihasilkan.
Bagi banyak pihak, kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana data yang awalnya dikumpulkan untuk tujuan hiburan dan rekreasi dapat berkembang dan bertransformasi menjadi bagian dari teknologi dengan aplikasi yang sangat berbeda dan jauh melampaui perkiraan awal.
Dari aktivitas sederhana berburu Pokémon di taman, perjalanan data yang dikumpulkan oleh pemain kini berujung pada pengembangan sistem navigasi yang memiliki potensi aplikasi signifikan di sektor pertahanan, sebuah perkembangan yang menimbulkan berbagai diskusi etis dan teknologi.




